Tuesday, June 17, 2008

PERAN BESAR AYAH DALAM PENDIDIKAN ANAK

Selama ini kebanyakan masyarakat menganggap bahwa peran pendidikan ada di tangan ibu semata, sehingga kita seperti kehilangan figur seorang ayah yang memiliki kemampuan untuk mentarbiyah anak-anak dan keluarganya. Sosok ayah terlalu sering dimunculkan dalam figur keperkasaan dan kepahlawanan, sehingga peran ayah dalam pendidikan sedikit dibahas dan minim menjadi bahan kajian masyarakat sekarang. Minimnya figur-figur ayah yang sukses dalam mendidik anak yang diungkap dalam sirah Rasulullah dan para sahabat semakin memperkuat berkembangnya persepsi bahwa pendidikan anak-anak adalah tanggung jawab sang ibu.


Tak ada yang menafikan peran - peran besar yang berada di tangan seorang ibu bagi masa depan anak-anaknya. Ibu bagaimanapun mempunyai pengaruh penting dalam kepribadian seorang anak sehingga mereka bisa merasakan kenyamanan, keteguhan, dan kepercayaan diri yang kuat dalam menjalani kehidupannya. Lalu bagaimana peran ayah? Sebagian besar masyarakat cenderung berpandangan bahwa pengasuhan dan pendidikan anak adalah tugas ibu, sedangkan tugas ayah cukup bekerja dan mencukupi kebutuhan materi. Sang ayah sibuk bekerja sedangkan sang ibu sibuk mengurus anak di rumah.


Bagaimana pandangan Islam terhadap peran ayah dalam keluarga ? Ini pertanyaan unik dan penting untuk dikaji lebih dalam. Karena ternyata sejarah hidup para ulama besar dan para salafushalih umumnya dilatarbelakangi sentuhan pendidikan yang diberikan ayahnya. Bahkan dalam Al-Qur'an pun tidak ada satupun dialog antara anak dan orang tua mewakili ibu, yang ada justru dialog antara ayah dan anak, kisah seorang nabi pun yang diasuh ibunya sejak kecil yakni nabi Ismail as banyak menggambarkan dialog antara Nabi Ismail dengan sang ayah yaitu Nabi Ibrahim. Salah satu dialog antara Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail adalah dalam surat Shaffat ayat 102 "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu, Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintah kepadamu, Insayaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Jika membaca surat tersebut biasanya terbersit dalam pikiran kita tentang kandungan ayat ini adalah bagaimana kehebatan dan kekuatan tekad sang anak, Nabi Ismail, merespon mimpi yang disampaikan sang ayah Nabi Ibrhim. Umumnya pembahasan ayat ini fokus pada konteks pengorbanan Ismail sang anak demi memenuhi perintah Rabbnya. Tetapi sesungguhnya sudut pandang terhadap ayat ini masih penting untuk dikaji lebih dalam. Karena bagaimanapun sang anak tak bisa terdidik dan memiliki sikap yang begitu kuat begitu saja tampa ada sentuhan pendidikan dan pembinaan dari orang tuannya. Dalam hal ini Nabi Ibrahim terbukti telah berhasil menanamkan pendidikan tauhid yang agung dalam jiwa sang anak. Dan Ismail telh membuktikan bagaimana hasil pendidikan sang ayah dalam sikapnya yang rela berkorban apapun demi terlaksanannya perintah Allah.


Ayah merupakan sosok penting dalam bangunan umat Dalam sebuah keluarga, ayah adalah salah satu batu bata yang menopang bangunan umatIslam. Jika para ayah berhasil menunaikan misinya dalam keluarga, akan kokohlah bangunan umat Islam dalam berbagai bidang kehidupan. Sebaliknya sikap abai ayah dalam menjalankan misinya dalam keluarga maka akan lemah dan rapuhnya bangunan umat ini. Ada banyak peran ayah dalam Islam yang harus ditunaikan dengan benar sebagaimana hadist Rasulullah "setiap kalian adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas yang dipimpinnya, seorang amir adalah pemimpin atas rakyatnya dan dia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya, seorang laki-laki adalah pemimpin di keluarganya dan ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya, seorang perempuan adalah pemimpin di dalam rumah suaminya dan anaknya dan ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya, seorang hamba sahaya adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas yang dipimpinnya (HR Bukhari). Ayah yang telah menunaikan kewajibannya berarti telah terbebesar dari tanggung jawabnya di hadapan Allah pada hari kiamat kelak. Allah berfirman " Hai orang2 beriman lindungilah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Di sana ada malaikat yang kasar dan keras, tidak melanggar perintah Allah kepada mereka dan mereka melakukan apa yang diperintahkan. (QS At-Tahrim:6)


Semua bentuk dan tata cara pendidikan Islam tentang hubungan sang ayah terhadap keluarganya juga dijelaskan dalam hadist Rasulullah. Karena jika kita mengetahui bahwa Rasulullah menikah dan mempunyai keluarga itu sebenarnya merupakan jawaban bagi orang yang berpaling dari kewajibannya kepada istri dengan alasan mengerahkan kegiatannya untuk berda'wah, karena Rasulullah seorang mujahid yang paling agung, dan juru da'wah yang paling mulia dia itu menikah dan juga membina rumah tangganya. Dalam salah satu hadist disebutkan Rasulullah tertawa bersama anak-anak. Rasulullah bahkan menggendong anak-anak dan sholat bersama anak-anak. Abu Qatadah menyebutkan bahwa Rasulullah shalat bersama kami sambil menggendong Umamah binti Zainab. Jika ia sujud diletakkannya Umamah, bila ia berdiri digendongnya. Adapula hadist dari An-Nasai yang berasal dari Abu Barrah Al-Ghifari bahwa Rasulullah shalat bersama sahabatnya lalu beliau sujud, ketika itu datanglah Hasan yang tertarik melihat Rasulullah sedang sujud, lalu naikla Hasan ke punggung Rasulullah yang mulia saat beliau sedang sujud. Usai shalat beliau meminta maaf kepada jamaah shalat dan mengatakan " Anakku tadi naik ke punggungku lalu aku kwatir bila aku bangun dan menyakitinya, maka akau menunggu sampai ia turun". Betapa tingginya perhatian Rasulullah terhadap anak-anak.


Ada dua tahapan penting yang harus dilalaui oleh seseorang untuk dapat menjalankan perannya sebagai ayah dalam pendidikan anak-anak dan keluarga. Tahapan pertama untuk dapat menjadi sosok ayah yang dapat menunaikan kewajibannya dalam pendidikan anak-anak dan keluarga adalah dimulai dari memilih perempuan yang akan menjadi calon pendamping hidupnya. Tahapan ini menjadi tahapan pertama dan utama bagi seseorang untuk dapat menjadi ayah yang memiliki peran sebagai pendidik anak-anak yang akan menjadi keturunannya, karena tahapan ini merupakan tahapan untuk menyiapkan lingkungan keluarga yang kondusif bagi pendidikan dan perkembangan anak-anak. Kondisi keluarga sangat menjamin perkembangan jiwa anak-anak. Kondisi keluarga yang penuh kasih sayang, penuh perhatian, dan kepedulian akan meyebabkan keluarga saling menghormati dan saling menghargai. Hubungan suami dan istri merupakan salah satu yang mewakili kondisi keluarga. Kondisi lingkungan keluarga yang mendukung tujuan pendidikan akan sangat membantu anak-anak untuk memiliki perilaku yang baik.

Thursday, June 12, 2008

LIKE FATHER LIKE SON

Part One

Seseorang lelaki datang menghadap amirul mukminin, Umar bin Khattab ra. Ia melaporkan kepada Rasulullah tentang kedurhakaan anaknya. Khalifah Umar lantas memanggil anak yang dikatakan durhaka itu dan mengingatkannya tentang bahaya durhaka kepada orang tua. Saat ditanya sebab kedurhakaannya dia mengatakan "wahai amirul mukminin, tidakah seorang anak mempunyai hak yang harus ditunaikan oleh orang tuanya?" "Ya", jawab amirul mukminin, "Apakah itu ?" tanya anak itu. Khalifah Umar menjawab "Ayah wajib memilihkan ibu yang baik buat anak-anaknya, memberi nama yang baik dan mengajarinya Al-Qur'an". Lantas sang anak tadi menjawab " Wahai amirul mukminin, tak satupun dari tiga perkara itu yang ditunaikan ayahku. Ibuku majusi, namaku Ja'lan, dan aku tidak pernah diajari membaca Al-Qur'an". Umar kemudian menoleh kepada ayah anak tadi dan mengatakan "Anda datang mengadukan kedurhakaan anakmu, ternyata anda telah mendurhakainya sebelum ia mendurhakaimu. Anda telah berlaku tidak baik terhadapnya sebelum ia berlaku tidak baik kepada anda".


Part Two

"Siapa yang menjamin hidupmu sampai setelah waktu dhuhur ?" pertanyaan itu terlontar dari mulut seorang pemuda kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz, tokoh pemimpin yang bergelar khulafarasyidin kelima. Ketika itu khalifa yang terkenal keadilannya itu sangat tersentak dengan perkataan pemuda tadi. Terlebih saat itu ia sedang merebahkan dirinya untuk beristirahat setelah menguburkan khalifah sebelumnya, Sulaiman bin Malik. Tapi baru saja ia merebahkan tubuhnya, seorang pemuda berusia tujuh belasan tahunan mendatanginya dan mengatakan "Apa yang ingin engkau lakukan ya Amirul Mukminin ?" Khalifah Umar bin Abdul Aziz menjawab "Biarkan aku tidur sejenak. Aku sangat lelah dan capek, nyaris tak ada kekuatan yang tersisa". Namun pemuda tadi nampak tidak puas dengan jawaban tadi, ia bertanya lagi "Apakah engkau akan tidur sebelum mengembalikan barang yang diambil secara paksa kepada pemiliknya ya Amirul Mukminin ?" Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengatakan "Jika tiba waktu dhuhur saya bersama orang-orang akan mengembalikan barang-barang tersebut kepada pemiliknya" Jawaban itulah yang kemudian ditanggapi oleh pemuda tersebut "Siapa yang menjaminmu hidup sampai setelah waktu dhuhur ya Amirul mukminin ?". Pemuda itu bernama Abdul Malik, putera amirul mukminin itu sendiri, Umar bin Abdul Aziz, semoga Allah merahmati keduanya.


Kedua penggalan cerita tersebut diadopsi dari buku "Cinta di Rumah Hasan Al-Banna" karya Muhammad Lili Nur Aulia terbitan Pustaka Da'watuna 2007. Semoga cerita tersebut memberikan hikmah kepada para ayah dan calon para ayah tentang tugas, kewajiban dan peran bagi pendidikan dan pembentukan karakater bagi anak-anaknya. Tugas mendidik anak bukan tugas seorang ibu semata, tapi seorang ayah mempunyai tugas besar untuk membuat kerangka bagi pendidikan anak-anaknya, baru kemudian ibu mempunyai tugas untuk mengisi kerangka tadi. Bagaimana akhlak dan karakter anak kita sangat tergantung pada akhlak dan karakter ayahnya. Ada tiga tugas utama ayah dalam pendidikan anak-anak yaitu: memilihkan ibu yang baik, mengajarkan Al-Qur'an, dan memberikan contoh dan teladan yang baik. Tanah yang baik akan menumbuhkan tanaman-tanaman yang subur, tanah yang tidak baik akan menumbuhkan tanaman yang merana. Tugas ayah adalah menyiapkan tanah yang baik dalam keluarga agar anak-anak itu bisa tumbuh subur, dan tugas ibu adalah memelihara anak-anak itu supaya tumbuh dengan subur.

Monday, June 9, 2008

MENJADI AYAH IDOLA


Saya sangat terkejut, gembira, terharu, dan cemas saat mendengar jawaban anak pertama saya ketika saya tanya "Iziz mau jadi apa jika besar nanti ?". "Ingin jadi seperti ayah, pakai kacamata, dan baca buku" jawabnya penuh semangat. Rupanya dia ingat terus tentang cerita bahwa penyebab saya memakai kacamata adalah karena suka membaca buku sambil tidur. Karena itu sekarang dia suka baca buku, bahkan sebelum tidur dia harus baca buku walaupun dibacakan oleh bundanya.
Saya gembira dan terharu mendengar jawaban anak saya itu, alhamdulillah berarti saya bisa menjadi ayah yang baik dan menjadi idola dihadapan anak sendiri. Tetapi muncul juga perasaan cemas di hati saya, karena menjadi ayah idola dihadapan anak-anak adalah beban berat bagi saya. Saya takut anak-anak tidak menyadari bahwa ayahnya adalah manusia biasa yang tidak bisa selalu sempurna dihadapan mereka. Selain itu dengan menjadi ayah idola bagi anak-anak menjadikan beban bagi saya untuk senantiasa memberikan contoh terbaik, dan berupaya untuk selalu tampil "sempurna".
Diantara rasa bangga dan rasa cemas sebagai ayah idola anak-anak, maka rasa cemas lebih mendominasi dalam diri saya. Karena harapan yang besar atas kesempurnaan sebagai ayah bisa memunculkan kekecewaan mendalam bagi anak-anak. Jalan satu-satunya adalah memberikan kesadaran dan pemahaman bahwa sosok ayah adalah sebagai manusia biasa yang tak luput dari kelemahan dan kesalahan. Oleh karena itu saya senantiasa mengucapkan kata maaf kepada anak saya jika saya berbuat salah atau tidak mampu memenuhi keinginan dan harapan mereka walau sekecil dan sesederhana apapun kesalahan dan kelemahan itu. Saya berupaya menjelaskan kenapa saya salah atau kenapa saya tidak bisa memenuhi harapan mereka, dengan harapan ada kesadaran bahwa ayahnya juga bisa salah, dan sebagai manusia harus mengakui kesalahan dan kelemahan itu serta berupaya untuk memperbaikinya.
Di balik rasa cemas itu, saya mencoba untuk mengambil sisi positif menjadi ayah idola bagi anak-anak. Sisi positf menjadi ayah idola adalah sebagai pemicu bagi seorang ayah untuk senantiasa menjadi inspirasi bagi anak-anaknya untuk berbuat kebaikan dan mencetak prestasi. Sehingga anak-anak adalah sumber inspirasi bagi diri seorang ayah untuk senantiasa berupaya berbuat kebaikan dan prestasi. Oleh karena itu menjadi ayah idola berarti menjadikan sosok ayah sebagai sumber inspirasi bagi anak-anak dalam berbuat dan bertindak dalam kebaikan, sekaligus menjadikan anak-anak sebagai sumber inspirasi bagi seorang ayah untuk senantiasa berbuat baik dan berprestasi dalam segala hal. Sehingga men-tarbiyah diri kita sebagai ayah secara sempurna sesungguhnya merupakan proses untuk mentarbiyah anak-anak kita. Itu semua akan terjadi jika kita mampu menjadi sosok ayah idola yaitu sosok ayah yang senantiasa menginspirasi anak-anaknya untuk berbuat baik, komitmen pada kebaikan, dan senantiasa untuk berprestasi dalam segala amal perbuatan

Wednesday, June 4, 2008

ANTARA SURABAYA - LUMAJANG ADA NILAI TARBIYAH

Hampir dua tahun sudah saya terpaksa jalani kehidupan berpisah dengan anak dan istri, dan terpaksa harus pulang pergi Surabaya - Lumajang tiap dua pekan sekali. Saya katakan "terpaksa" karena memang kondisi saat ini bukanlah sesuatu yang ideal. Karena yang disebut dengan keluarga adalah adanya proses penyatuan anggota keluarga inti yaitu ayah, ibu, dan anak, jika tidak ada salah satu elemen itu dalam satu tempat utamanya ayah dan ibu maka tidak layak untuk disebut sebagai sebuah keluarga. Kondisi ini memang terpaksan harus kami jalani sampai kami bisa menemukan "peta hidup" yang jelas dalam mengarungi samudra kehidupan ini bersama-sama. Jadi kondisi ini bukan sesuatu yang kami inginkan, tapi karena kondisi dan keadaan yang menjadikan kami harus menjalani pola rumah tangga seperti ini, dan kami berusaha dan senantiasa berusaha sampai detik ini untuk merentas "peta hidup" yang jelas bagi kami.

Jelas, perasaaan pertama yang muncul adalah SEDIH. Sedih karena harus berpisah dalam waktu sementara dengan anak dan istri, sedih pula karena tidak bisa optimal dalam memberikan kontribusi bagi da'wah. Terpisahnya kami jelas menghilangkan status kami sebagai warga masyarakat kurang lengkap, dan rasa hilangnya keanggotaan sebagai anggota masyarakat sangat saya rasakan sekali selama hidup sendiri di Surabaya. Sehingga optimalisasi peran untuk aktif dalam kegiatan masyarakat dan aktif melakukan pendidikan serta pencerahan keIslaman di masyarakat menjadi sangat terbatas. Hal tersebut jelas sangat tidak sesuai dengan kaidah kita sebagai da'i yaitu nahnu minhum wa nahnu maahum - kita adalah bagian dari masyarakat dan kita bekerja untuk masyarakat- menjadi tereliminasikan dari kehidupan saya di Surabaya. Mungkin untuk istri dan anak masih bisa berperan secara optimal dalam hal tersebut karena mereka berada dalam keluarga besar saya. Rasa sedih yang lain adalah tidak bisa optimal untuk memantau perkembangan anak-anak dari hari ke hari, dan sedikitnya waktu untuk bencengkrama dengan mereka.

Di balik kesedihan-kesedihan itu ada hal lain yang bisa menghibur diri saya. Pertama, ternyata tidak hanya saya saja yang menjalani kehidupan seperti ini, banyak keluarga-keluarga lain yang memiliki problem seperti saya, bahkan mungkin kondisinya lebih sulit dari apa yang sedang saya hadapi. Sehingga kadang saya bisa sedikit menghibur diri jika membandingkan dengan orang-orang yang memiliki probelm seperti saya. Bayangkan ada yang harus bertemu dengan anak dan istrinya hanya dua bulan sekali atau lebih karena jauhnya tempat kerja dan tempat tinggal. Bahkan ada yang terjebak akan menjalani kehidupan berpisah itu agak permanen karena suami istri sama-sama kerja, dan salah satunya harus dimutasi ke luar kota, dan istrinya tidak bisa ikut serta karena terkendala aturan sehingga tidak jelas kapan bisa menyatu lagi. Tetapi ada juga yang sedikit memberi motivasi kepada saya yaitu ada keluarga yang menjalani kehidupan berpisah ini berpuluh-puluh tahun, suaminya kerja di Jakarta dan istrinya kerja di Jember, maka terpaksalah tiap minggu dia harus pulang balik Jakarta - Jember. Dan yang sedikit menghibur saya juga ternyata makin hari makin banyak orang yang memiliki masalah seperti saya yang harus hidup berpisah karena pekerjaan, tetapi tetap bagi saya orang-orang yang hidup seperti saya adalah kumpulan orang yang punya masalah. Dan saya yakin, saya masih punya harapan besar untuk bisa lebih dulu keluar dari masalah ini daripada mereka, insyaallah, biidznillah.....

Hal lain yang menghibur saya dibalik kesedihan ini adalah adanya nilai tarbiyah tersendiri bagi saya dan keluarga. Selama menjalani kehidupan ini ada ada nilai tarbiyah at-tadhiyah dan at-tajarrud dalam da'wah. Saya dan keluarga mencoba untuk memahami dan mengamalkan peringatan Allah dalam surat At-Taubah 24: "Katakanlah: jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu kwatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah yang lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasulnya, dan berjihad di jalan Allah, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq". Sungguh sangat terasa sekali perasaan yang digambarkan dalam surat At-Taubah tersebut yaitu setiap akhir pekan maka ujian itu akan muncul. Pada akhir pekan itu ada rasa rindu yang kuat untuk bertemu anak dan istri, tetapi di sisi lain ada seruan-seruan da'wah berupa agenda-agenda da'wah yang harus dilaksanakan, maka disitulah godaan setan dalam "rasa malas" mulai muncul. Jika rasa itu muncul maka yang ada dalam benak kita adalah keinginan untuk ijin dan cari-cari alasan untuk tidak terlibat dalam agenda da'wah tadi dengan melakukan pembenaran-pembenaran alasan kita.

Awalnya memang sulit untuk saya lakukan untuk bisa belajar berkorban. Tetapi lambat laun saya mulai bisa menikmati kewajiban harus berkorban itu. Dan saya mulai belajar makna berkorban itu. Yang dimaksud dengan pengorbanan adalah kita memberikan segala sesuatu yang paling berharga yang kita miliki, artinya sesuatu itu nilainya mahal bagi diri kita sehingga pada saat mau memberikan sesuatu itu ke orang lain kita menjadi berat untuk melakukannya. Karena itulah orang-orang yang bisa memberikan harta yang paling berharga yang dimiliki mendapatkan nilai yang baik sekali di mata Allah. Karena itulah Allah dalam salah satu ayat di surat Al-Imran mengatakan bahwa tanda-tanda orang muttaqien adalah memberikan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit. Bahkan ada salah satu taujih dari seorang ustads yang mengatakan bahwa suatu amalan akan mendapatkan pahala yang tinggi dihadapan Allah jika pada saat kita mau mengerjakan suatu amalan kebajikan itu lalu timbul rasa malas dan enggan untuk mengerjakan tetapi kemudian kita berusaha melawan dengan keras yang akhirnya kita mampu melaksanakan amal kebajikan itu maka ada pahala yang besar atas itu semua. Atau dengan kata lain setiap kebajikan yang kita lakukan dalam keadaan mengalami kesempitan maka pahalanya lebih baik daripada kebajikan yang kita lakukan pada saat kita lapang. Kenapa lebih baik pahalanya? karena pada saat itu kita mendapatkan dua pahala sekaligus yaitu pahala atas kebaikan yang kita lakukan, dan pahala atas pengorbanan yang kita usahakan untuk melakukan kebaikan itu. Misalkan kita mau berinfaq saat kita sedang mempunyai rezeki banyak maka itu adalah sesuatu yang wajar bahkan wajib untuk dilakukan bagi orang yang memiliki kelebihan harta, tetapi coba bandingkan nilai pahalanya jika infaq itu kita lakukan pada saat kita sedang tidak punya uang, maka ada perasaan berat untuk melakukan tetapi karena dorongan untuk mendapat ridho Allah maka kita siap berkorban untuk melakukan kebaikan tersebut. Atau bandingkan nilai infaq kita yang sama-sama Rp 1.000,-, satu kondisi kita menginfaqkan uang Rp 1.000,- karena memang uang tersebut telah rusak sehingga kita merasa malu untuk menggunakannya dengan kita menginfaqkan uang Rp 1.000,- karena betul-betul ingin mendapatkan ridho Allah, maka nilai pahala kondisi yang kedua lebih baik.

Oleh karena itu wajar kemudian sholat tahajud atau qiyamul lail mendapatkan pahala yang tinggi dihadapan Allah, karena ada nilai tarbiyah at-tadhiyyah di dalamnya. Sehingga pada awal-awal Islam di Mekkah sholat tahajud menjadi wajib, dan hasilnya betul-betul bisa melahirkan sosok para sahabat dan generasi muslim yang siap berkorban untuk Allah dan Rasul-Nya. Jadi tidak layak disebut sebagai pengorbanan jika apa yang kita korbankan itu bukan sesuatu yang berharga bagi kita. Karena itulah kenapa jihad dengan mengorbankan nyawa adalah kemulian yang paling tinggi dihadapan Allah, karena kita rela dan ikhlas mengorbankan sesuatu yang paling berharga bagi setiap manusia, sehingga motivasi yang senantiasa dikorbankan dalam setiap diri seorang muslim adalah orang-orang kafir itu berperang untuk mencari kematian sedangkan seorang muslim berperang untuk mencari kehidupan.


Setiap akhir pekan itulah tarbiyah at-tadhiyah diberikan kepada saya. Bagi saya bertemu dan berkumpul bersama anak dan istri merupakan suatu yang sangat mahal bagi saya. Pinginnya setiap minggu bisa pulang, tapi pada akhir pekan itulah agenda da'wah sering muncul. Sehingga tantangan bagi saya untuk menguji nilai tadhiyah dalam da'wah ini dalam diri saya dan keluarga saya. Karena itu kadangkala saya kurang respek jika ada seseorang yang ijin atau menolak untuk melakukan seruan dan agenda-agenda da'wah hanya karena sabtu atau ahad adalah hari keluarga dengan alasan perlu waktu dg keluarga, padahal menurut saya itu bukan suatu hal yang berat, karena mereka tiap hari masih bisa bertemu dan berkomunikasi dengan anak dan istrinya..? Bahkan ada yang tidak mau di ganggu pada hari Ahad karena menjdi acara keluarga. Sebenarnya alasan itu semua bisa diatasi jika ada nilai tadhiyah dalam diri kita dan kita mampu mengaplikasikan pemahaman at-tajarud dalam da'wah, yaitu totalitas dalam da'wah.

Ya...at-tajarud merupakan nilai tarbiyah yang lain yang saya dapatkan selama menjalani kehidupan berpisah ini. Karena selama saya ada di Surabaya maka otomatis istri saya menjadi single parent bagi anak-anak. Yang menjadi tantangannya adalah saat istri harus menghadiri suatu agenda da'wah dan anak-anak harus ditinggal maka perlu adanya pelibatan kelurga besar untuk membantu istri dalam mengasuh anak-anak. Belum lagi ini merupakan pelajaran berharga bagi anak-anak untuk belajar berkorban untuk da'wah, memahami aktivitas da'wah orang tuanya, dan bisa menyesuaikan dengan aktivitas da'wah. Inilah makna tajarud dalam da'wah yaitu bagaimana mengoptimalkan seluruh potensi keluarga untuk mendukung aktivitas da'wah sesuai dengan peran masing-masing.

Mudah-mudahan dibalik ujian ini bisa memberikan tarbiyah bagi kami sekeluarga untuk lebih istiqomah dalam da'wah. Amin



Wednesday, May 28, 2008

MAKNA MAHAR

Mahar merupakan salah satu syarat sah sebuah akad nikah yang pada zaman modern saat ini mulai mengalami pergeseran nilai. Pemberian mahar pada saat ini hanya dianggap sebagai salah satu bagian dalam ritualitas akad nikah sehingga tujuan syari (al-maqosid syariah) dari kewajiban mahar tereduksi oleh nilai-nilai lain selain Islam. Sehingga wajar jika pemberian mahar atau bentuk mahar yang diberikan atau diminta saat ini aneh-aneh bentuk dan nilainya. Ada mahar yang berupa sejumlah uang dg nilai sesuai dengan tanggal nikah, ada juga mahar berupa kumpulan uang yang dibentuk menyerupai benda tertentu. Bahkan ada mahar dalam bentuk skripsi, ijazah kelulusan, dan lain sebagainya. Mahar yang paling sederhana dan paling umum di masyarakat kita adalah mahar seperangkat sholat dan al-qur'an yang telah menjadi tradisi turun temurun, entah darimana asalanya yang jelas mahar tanpa dua benda tersebut dirasa kurang "afdhol". Dan yang sering terjadi salah kaprah juga terjadi dikalangan para aktivis da'wah, ada sebuah kesan bahwa jika maharnya berupa hafalan satu surat atau beberapa ayat Al-Qur'an seakan-akan itu sesuatu yang hebat, sesuatu yang sangat berharga, dan seakan-akan menjadi bentuk mahar yang paling baik, padahal asumsi dan kesan tersebut sama saja menjadikan nilai dan makna mahar dari sisi Al-Maqosid syariah menjadi hilang.
Mari kita tengok peristiwa-peristiwa pernikahan Rasulullah dan para sahabat, utamanya bentuk maharnya seperti apa. Rasulullah pada saat menikahi Khadijah maharnya adalah puluhan unta, yaitu kurang lebih 40 unta (bisa dicek jumlah tepatnya dalam sirah) dan sejumlah emas, yang jika diuangkan dalam masa kini mahar Rasulullah saat menikahi khadijah kurang lebih 1/2 milyar. Ada juga sahabiah hindun yang akan menikah dg abu sofyan meminta mahar dg keislaman abu sofyan. Bahkan ada seorang sahabat yang menikah hanya memberi mahar bacaan Al-Qur'an karena saat itu dia tidak memiliki apa-apa. Memang bentuk dan rupa mahar tidak ada ketentuan yang jelas dalam syariat Islam, cuman Rasulullah memberikan rambu-rambu bahwa mahar itu harus sesuatu yang mempunyai nilai bagi mempelai putri walau itu berupa cincin dari besi, dan tidak memberatkan bagi pihak laki-laki. Dan pada saat ada sahabat yang ingin menikah tapi tidak mampu memberikan mahar maka Rasulullah menyuruh sahabat tadi menikah dg mahar hafalan Al-Qur'an yang dia miliki. Bahkan beberapa ulama fiqih saat ini menyatakan mahar yang diberikan itu harus sesuatu yang produktif bukan hanya bernilai saja.
Tujuan pemberian mahar dalam prespektif al-maqosid syariah adalah untuk menjaga kemulian wanita. Mungkin tujuan ini sekilas tidak nyambung dengan pemberian mahar, bahkan para orientalis menyatakan mahar itu melecehkan kaum wanita karena wanita diibaratkan dengan barang dagangan. Para orientalis menganggap pemberian mahar ibarat proses barter dalam perdagangan. Itulah pikiran picik dari para orientalis. Memang manfaat mahar untuk menjaga kemulian wanita pada saat menikah tidak terasa, nuansa dan rasa yang ada hanyalah nuansa untuk membandingkan nilai mahar dengan nilai wanita. Sehingga wajar kemudian masyarakat saat ini menjadikan mahar hanya sebatas ritualitas dalam akad nikah yaitu hanya sekedar menggugurkan suatu kewajiban agar dapat terlaksananya suatu hukum, karena mereka sudah "teracuni" oleh pemikiran para orientalis tersebut.
Mahar yang diterima oleh seorang istri akan menjadi harta pribadi milik sang istri, sehingga istri mempunyai hak penuh untuk mengelolanya tampa harus tunduk atau dibawah perintah suami. Suami tidak boleh menggunakan harta yang berasal dari mahar tersebut tampa se-ijin istri. Mulai dari pemahaman atas kedudukan mahar dalam masalah status harta maka akan menjadi jalan masuk kita untuk memahami bahwa mahar adalah untuk menjaga kemulian wanita. Jika mahar yang menjadi harta milik wanita maka bisa dibayangkan jika maharnya adalah harta yang produktif seperti sapi, kerbau, tanah pertanian, mobil, uang, emas dll maka harta tersebut akan dapat digunakan oleh istri untuk melakukan investasi dan usaha yang akan menjamin kebutuhannya sehingga dia tidak perlu lagi bekerja di luar, dan tidak perlu lagi untuk "mengemis" uang nafkah ke suami. Sehingga kemandiriannya sebagai wanita akan terwujud, dan kemualiannya akan terjaga karena akan banyak terhindar dari kasus KDRT yang sering terjadi akibat lemahnya kedudukan wanita dalam rumah tangga. Dan yang lebih terasa lagi manfaatnya adalah jika suaminya meninggal dan meninggalkan beberapa orang anak, maka selain harta warisan sang suami, harta dari mahar pun akan mampu menjaga kemualian seorang wanita pada saat dia berstatus janda. Dengan harta mahar yang besar dan bernilai serta produktif maka seorang janda tidak akan kebingungan untuk memikirkan nafkah dan biaya hidup untuk diri dan anak-anaknya, sehingga dia tidak perlu "mengemis" ke orang lain. Coba bayangkan jika mahar kita hanya seperangkat alat sholat dan Al-Qur'an, atau hanya hafalan hadist dan ayat Al-Qur'an, atau sejumlah uang dan benda-benda yang tidak jelas nilainya, maka mahar itu tidak bisa menjadi harta bagi istri kita yang bisa menjaga kemulian dia sebagai wanita pada saat menjadi istri atau pun saat dia menjadi janda. Itulah makna dan maksud kenapa mahar itu menjadi salah satu syarat syahnya akad nikah. Semakin besar nilai manfaat dan nominal dari mahar yang kita berikan kepada istri kita menunjukkan semakin tinggi rasa tanggung jawab kita sebagai suami untuk menjaga kemulian seorang wanita dan istri sehingga kita memang pantas untuk bisa menjadi lelaki yang qowam.
Maksud lain dari mahar adalah untuk menjaga nilai-nilai dari pernikahan itu sendiri. Bayangkan jika mahar itu hanya seperangkat alat sholat dan Al-Qur'an saja, atau hanya hafalan ayat Al-Qur'an atau hadist maka manusia akan cenderung untuk melecehkan nilai sakral dari pernikahan itu sendiri. Yaitu dengan mudahnya orang akan melakukan kawin cerai karena rendahnya nilai mahar tadi. Jika nilai maharnya besar maka menunjukkan keseriusan seseorang untuk menikah dan membangun rumah tangga yang islami. Patut kita cermati bahwa mahar dalam nilai yang rendah sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa sahabat itu hanyalah "Rukhsah" yang sifatnya meringankan agar hukum menikah bisa dilaksanakan, artinya mahar dalam bentuk hafalan Qur'an dalam konteks para sahabat tersebut bersifat "emergency". Lalu kenapa sekarang masyarakat banyak mengambil sesuatu untuk menjadi mahar yang bersifat "emergency"..? Seharusnya mahar seperangkat alat sholat dan Al-Qur'an hanyalah dibolehkan untuk mereka yang miskin dan tidak mampu, tapi kenyataannya artis, pejabat, pengusaha, dll jika menikah maharnya banyak seperti itu. Inilah yang kemudian menyebabkan orang meremehkan kesakralan menikah.
Jadi masihkah kita berpikir bahwa mahar dalam akad nikah hanya sebuah ritualitas semata?Jika kita memang bersungguh-sungguh ingin menjadi suami yang qowam dan mampu menjaga kemulian wanita dan istri maka kita harus mengupayakan sekuat tenaga agar mahar kita mempunyai nilai dan manfaat besar bagi istri kita. Tetapi jika daya dan upaya kita terbatas maka hafalan Al-Qur'an adalah sesuatu yang bersifat emergency, dan itu adalah sejelek-jeleknya mahar.
Wallahu'alam bisshowab

Monday, May 26, 2008

FILOSOFI "1" DAN "0"

Tanpa terasa usia pernikahan kami sudah mencapai angka 5 tahun, kata orang usia pernikahan yang sudah di atas 3 tahun telah melewati masa kritis pertama dari pernikahan itu dan memasuki masa-masa kritis ke 2 sampai usia pernikahan 10 tahun, baru setelah itu proses stabilisasi pernikan. Syukur alhamdulillah selama 5 tahun ini kami bisa menjalani dengan bahagia dengan pernik-pernik kecil sebagai hiasan atas kehidupan rumah tangga kami. tetapi ada satu hal yang senantiasa saya ingat terus dan semakin hari saya semakin yakin atas hal itu yaitu filosofi "1" dan "0". Filosofi itu sangat menancap sekali dalam hidup saya, karena filosofi itu menjadi pegangan utama saya pada saat-saat saya melakukan ijthad untuk memilih seorang istri. Mungkin filosofi itu remeh bagi orang lain, tapi bagi saya filosofi itu memiliki sejuta makna, dan semakin lama saya mengarungi dunia kehidupan berkeluarga bersama istri saya semakin kuat keyakinan saya atas filosofi itu.

Apa filosofi "1" dan "0" itu ? filosofi ini pertama kali diberikan dan dijelaskan kepada saya oleh seseorang yang sangat berarti bagi hidup saya, karena orang itulah mindset hidup dan orientasi kehidupan saya berubah 180 derajat, dan bagi saya orang itu senantiasa memberikan inspirasi buat saya untuk tetap berkarya dan berkontribusi dalam membangun peradaban yang lebih baik. Filosofi "1" dan "0" dibangun dari salah satu hadist Rasulullah tentang bagaimana seseorang memilih seorang istri yaitu" seorang wanita dinikahi karena empat hal yaitu kecantikannya, keturunannya, hartanya, dan agamanya, maka nikahilah karena yang ke empat yaitu agamanya supaya kamu beruntung". Hadist tersebut memberikan arti bahwa hanya ada satu hal dari sekian banyak kriteria yang ada yang mempunyai nilai, kriteria lainnya tidak bernilai, apa itu? yaitu kriteria AGAMA. Jadi jika kita bermain nilai dalam matematika maka hanya satu kriteria calon istri yang bernilai 1 yaitu agamanya yang lainnya seperti cantik, kaya, bangsawan dll hanya bernilai 0. Kita pasti bisa berpikir bahwa lebih beruntung orang yang memiliki angka 1 daripada angka 0 meski jumlahnya banyak. Misal, bandingkan angka 000, dan 1, maka angka 1 menjadi cukup penting daripada angka 000. Atau angka 10 dengan 10000 maka kita pasti memilih angka 10000, lalu apa kaitannya dengan cara kita memilih istri...?

Jadi filosofi "1" dan "0" memberikan arah bahwa dalam memilih istri kita harus mengutamakan mendapatkan angka 1, yaitu agamanya, sedangkan yang lain hanyalah angka nol yang akan memperberat angka 1 tadi, dan angka nol tadi bisa kita cari selama kita menjalani kehidupan berkeluarga. Jadi misalkan kita dapat istri yang cantik, kaya, dari kalangan terhormat, pinter, cerdas tapi jika agamanya jelek maka semuanya tidak bernilai karena kita hanya memperbanyak angka nol saja atau dengan kata lain kita bukan menjadi orang yang beruntung karena mengumpulkan sesuatu yang tidak bernilai. Ini menjadi penting bagi siapapun yang akan menikah, karena persoalan yang berat dalam menikah adalah memilih calon istri, karena memilih calon istri itu membutuhkan energi yang besar sebab menggabungkan rasionalitas, emosi, kejernihan hati, dan instiusi.
Agama yang dimaksud dalam hadist dan filosofi tersebut bukan hanya "simbolisasi" tapi "subtantif" yaitu bagaimana mindset seorang perempuan dalam memandang dirinya sebagai makhluk Allah, memandang dirinya sebagai seorang istri, memandang dirinya sebagai seorang ibu, memandang dirinya sebagai seorang anak, memandang dirinya sebagai seorang menantu, memandang dirinya sebagai anggota masyarakat, dan memandang dirinya sebagai seorang da'i dalam prespektif Islam secara integral, artinya syariah dan nilai-nilai Islam yang akan membingkai dirinya dalam menjalankan semua peran yang melekat dari diri seorang istri. Karena nilai nilai agamalah yang akan bisa menderivasikan keunggulan-keunggulan yang lain dari seorang istri untuk meningkatkan nilainya dihadapan Allah, Rasul, suami, anak, orang tua, dan mertua serta masyarakat.
Filosofi "1" dan "0" juga memberikan nilai bahwa suami mempunyai peran dan tanggung jawab besar untuk menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki seorang istri sehingga menambah nilai dan harga diri seorang istri. Jadi suami tidak boleh sekedar menuntut istri untuk bisa "begini" dan bisa "begitu" tapi juga harus mampu menciptakan nilai "0" yang banyak setelah angka "1" untuk memperberat nilai dan harga diri seorang istri. Artinya setelah memperoleh angka "1" maka tugas suami berikutnya adalah memperbanyak angka "0" yang melekat dalam angka 1 tersebut seperti kata ust Anis Matta "biarkan kuncup mekar jadi bunga". Tugas suami adalah bagaimana mengupayakan "kuncup bunga" tersebut agar bisa tumbuh dan berkembang sehinga bisa menjadi "bunga" yang sempurna, bunga yang memiliki daya tarik bagi lingkungan sekitarnya, dan bunga yang mampu memperindah pohon dari bungan itu sendiri. Sebuah pohon bunga mawar tidak akan menarik perhatian seorangpun jika tidak memiliki bunga, tapi begitu pohon itu mampu memekarkan bunga mawar yang indah barulah pohon bunga mawar itu memiliki nilai. Begitu juga nilai dari seorang suami akan sangat ditentukan oleh nilai dan harga diri dari seorang istri, sehingga benar kata sebuah istilah bahwa "wanita berada dibalik kesuksesan pria".

Kenapa saya makin yakin akan filosofi itu?Ternyata ada banyak peristiwa dalam keluarga saya dan peristiwa di sekitar kehidupan saya (eksternal). Saya masih ingat sekali ada banyak temen saya yang pada saat mencari calon istri selalu saja ada kriteria-kriteria yang "aneh" dengan alasan yang tidak jelas (syar'i). Misal ada seorang yang menetapkan calon istrinya harus seorang perawat dengan alasan supaya saat sakit ada seseorang yang bisa merawat dengan penuh kesabaran dan kasih sayang karena profesi perawat identik dengan nilai-nilai kesabaran, atau ada yang menetapkan calon istrinya adalah seorang dokter agar bisa merawat anak dan dirinya saat sakit dengan benar dan baik. Tapi apa setelah mereka menemukan apa yang mereka cari..?ternyata yang dapat istri perawat saat sakit malah istrinya tidak bisa merawat dirinya karena kesibukan kerja di RS, bahkan ada istri yang berprofesi perawat tapi saat punya anak pertama dan anaknya sakit malah bingung bagaimana merawat anak bahkan lebih telaten dari suaminya yang bukan perawat, aneh kan...? Yang punya istri dokter juga begitu, sering merasa ditinggal untuk jaga di rumah sakit padahal saat itu dia sedang sakit, lalu dimana kenikmatan yang direncanakan sebelumnya..? ada juga yang mau cari istri seorang sarjana psikologi dengan alasan agar bisa mendidik anak-anaknya kelak dengan baik, tapi ternyata saat punya anak ilmu psikologi sang istri tidak mampu mencetak anak-anak yang tangguh dan mandiri sebagaimana yang dia idamkan saat mencari calon istri dulu, dan masih banyak cerita yang lain.

Dari cerita-cerita di atas saya mencoba untuk memutar ulang kenangan saya saat-saat mencari calon istri dan alasan-alasan kenapa saya memilih istri saya saat ini. Jujur saja, istri saya saat ini jauh dari kriteria saya, saya pinginnya istri saya seoarng sarjana ekonomi supaya bisa berdiskusi dengan saya, atau sarjana psikologi seperti alasan-alasan klasik temen-temen yang lain. Cuma saat saya menerima data istri saya ada pertanyaan besar dalam diri saya, yaitu apa sebenarnya yang saya cari ? ya..saya ingin mencari sesuatu yang hakiki sesuatu yang kekal sesuatu yang tak kan pernah lapuk dimakan zaman......akhirnya saya teringat dengan filosofi "1" dan "0" dan hadist Rasulullah tentang 4 sebab seorang wanita dinikahi. Akhirnya saya mencoba merenungi hadist dan filosofi tersebut, akhirnya mantap saya fokuskan untuk menilai agamanya, dan alhamdulillah sejak mulai proses "penyelidikan" sampai proses ta'aruf saya mendapatkan istri saya mempunyai nilai lebih dari sisi agamanya (semoga ini menjadi kenikmatan dan kebahagiaan yang hakiki). Saat itulah saya mantap untuk menikahi istri saya, dan saya teringat betul do'a yang saya ucapkan dari hati yang dalam dan tulus serta ikhlas setelah prosesi akad nikah, yang saya ucapkan dihadapan istri saya yaitu : " Ya Allah aku berlindung kepada-Mu atas segala keburukan-keburukan yang ada dalam dirinya dari segala fitnah, dan berkahilah kebaikan-kebaikan yang ada dalam dirinya". Inti dari do'a tersebut adalah saya memohon kepada Allah agar segala keburukan dan kekurangan yang ada dalam diri istri saya baik yang nampak dan tidak nampak tidak menjadi fitnah bagi diri saya dan istri saya, dan semoga segala kebaikan yang ada dalam diri istri saya, baik yang nampak maupun tidak nampak, menjadi sumber kebaikan bagi semuanya.

Setelah 5 tahun menikah kini, saya mampu memiliki istri seorang dokter meskipun dia bukan dokter, karena setiap kali saya sakit atau anak-anak sakit dia pasti hafal betul segala gejala penyakit yang biasa menimpa anggota keluarganya, dia hafal betul obat apa yang mesti diminum oleh anak atau suaminya yang sakit, dia memantau terus perkembangan kesehatan anak-anak, dia sudah menjadi "dokter keluarga" bagi saya dan anak-anak. Dia juga sekarang menjadi pendidik anak-anak dan ahli psikologi perkembangan anak-anak, dia sudah paham bagaimana pola pendidikan anak setiap masa usia mereka. Dia juga mampu menjadi juru masak yang handal bagi saya dan anak-anak. Dia juga kini menjadi perencana keuangan keluarga yang handal, dan menjadi menantu yang baik dihadapan oarang tua saya. Dia juga seorang pejuang tangguh dan mandiri, mujahidah sejati bagi saya. Saya kini merasa kaya karena memiliki seorang istri yang melebihi dari kriteria yang pernah saya impikan. Ingin mendapatkan istri yang seperti apa sebenarnya sangat tergantung pada seberapa besar usaha kita untuk menjadi "kuncup itu mekar jadi bunga".

Kini setelah 5 tahun menikah, filosofi "1" dan "0" bukan hanya sekedar memberikan inspirasi dan arah bagi saya saat memilih calon istri, tetapi juga memberikan inspirasi bagi saya untuk bisa menjadi suami yang qowam yang mampu menjaga kemulian serta memuliakan seorang istri. Kita tidak bisa hanya sekedar menuntut istri kita harus seperti ini atau seperti itu, tapi perlu upaya dan usaha keras dari kita untuk menjadikan istri kita menjadi apa yang kita inginkan dengan mengembangkan segala potensi kebaikan yang mereka miliki. Terima kasih Ya Allah atas segala nikmat-Mu, dan terima kasih istriku dan kekasih hatiku atas segala kebaikan yang engkau berikan.


Mahad Umar, akhir Mei 2008

Wednesday, March 12, 2008

ANTARA UANG BELANJA DAN UANG NAFKAH

Awalnya saya sulit untuk membedakan makna kata membelanjai istri dan menafkahi istri, karena bagi saya kedua kata itu sama maknanya, hanya beda pilihan kata dan keluasan maknanya saja. Bagi saya, membelanjai istri dan menafkahi istri sama-sama bermakna memberikan sejumlah uang kepada istri untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga secara periodik, sedangkan yang sedikit membedakan bahwa menafkahi itu tidak harus uang tetapi bisa bersifat non materi. Artinya jika kita telah memberikan uang belanja kepada istri kita berarti kita telah memberikan nafkah lahir (materi), itu pemahaman awal saya, mungkin juga pemahaman hampir seluruh para suami.
Tetapi, saya mulai bisa membedakan antara uang belanja dan uang nafkah saat saya melihat anggaran belanja rumah tangga seorang teman. Dari sekian item anggaran yang yang diberikan ke saya, ada satu item anggaran yang menarik bagi saya. Menarik karena hanya item itu yang satu-satunya berbeda dengan item-item dalam anggaran rumah tangga saya dan anggaran rumah tangga pada umumnya, yaitu item "nafkah istri". Apa bedanya pikir saya saat itu, ternyata menurut temen saya bahwa nafkah istri berarti suami memberikan sebagian hartanya kepada istri untuk dikelola dan digunakan untuk kepentingan pribadi istrinya, sedangkan belanja istri adalah memberikan harta (uang) untuk kebutuhan hidup suami, istri, anak-anak, dan anggota keluarga lainnya.
Saya mencoba untuk memahami apa yang disampaikan temen saya itu. Akhirnya saya temukan kunci jawaban untuk membedakan antara uang belanja dan uang nafkah, yaitu kemulian wanita. Antara uang belanja dan uang nafkah muncul dua kewajiban berbeda yang harus dilaksanakan seorang suami. Uang belanja adalah kewajiban suami sebagai kepala keluarga untuk mencukupi kebutuhan hidup istri dan anak-anaknya dengan layak, sedangkan uang nafkah adalah kewajiban suami sebagai seorang lelaki yang qowam untuk menjaga kemualian seorang wanita yang menjadi istrinya.
Dalam uang nafkah itu terkandung kemulian wanita dari seorang istri. Uang nafkah menjadikan istri bukan seorang "pengemis" dihadapan suaminya jika istri ingin memenuhi hajat pribadinya. Uang nafkah adalah hak yang harus diterima seorang istri, dan istri memiliki hak penuh untuk mengelola dan menggunakan untuk kepentingan pribadinya. Sehingga istri bisa memenuhi kebutuhan pribadinya dengan tetap terjaga kemulian dan kehormatannya tanpa harus "mengemis" dihadapan suami atau harus bekerja keras di luar rumah.
Jadi menurut saya, jika suami hanya memberikan uang belanja bulanan saja maka kewajibannya sebagai suami belum lengkap bahkan cenderung tidak menghargai istrinya, karena memberi uang belanja tanpa uang nafkah seakan menjadikan istri sebagai pembantu rumah tangga kita saja. Oleh karena itu meskipun istri kita bekerja, uang belanja dan uang nafkah tetap harus kita berikan kepada istri kita walaupun sedikit, karena keduanya merupakan hak istri dan kewajiban bagi suami. Jika sekarang para suami hanya masih memberikan uang belanja saja maka harus dilengkapi kewajibannya sebagai seorang suami yang qowam dengan memberikan uang nafkah walaupun sedikit dan meskipun istri kita bekerja. Karena dalam uang nafkah itu ada kemulian seorang wanita yang menjadi istri kita, dan ada ke-qowaman kita sebagai seorang suami dan laki-laki.

Tuesday, July 3, 2007

MEMILIH ISTRI DENGAN HATI

Memilih istri bagi para ikhwan yang akan menikah merupakan pekerjaan yang paling sulit dalam kehidupannya. Bahkan ada yang mengatakan memilih istri itu ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami. Kesulitan itu makin menjadi sulit tatkala kita menetapkan berbagai kriteria istri ideal apalagi kriteria itu menjadikan diri kita, bahkan orang yang membantu mencarikan istri, pusing untuk mencari seorang akhwat yang pas dengan kriteria itu, mungkin pusingnya lebih pusing daripada orang mencari jarum dalam tumpukan jerami.
Ada seorang ikhwan yang hanya mau menikah dengan akhwat dokter saja hanya karena satu alasan sederhana yaitu biar ada yang merawat saat sakit. Adalagi yang mau menikah hanya dengan akhwat perawat karena biar ada yang perhatian saat sakit dan lebih telaten ngurus anak-anak. Lain lagi kalo ikhwan yang bisnis oriented yang hanya mau nikah dengan akhwat lulusan ekonomi alasannya supaya ada yang bantu ngurus bisnis. Bahkan ada yang mencari calon istri dengan kriteria fisik seperti putih kulitnya, tinggi badannya, harus dari suku tertentu, dan lain-lain, hanya karena ingin memperbaiki keturunan. Kriteria-kriteria itulah yang kadangkala membelenggu diri kita yang akhirnya kita merasa sulit memilih istri.
Begitu juga yang saya alami empat tahun silam, saat saya dalam proses mencari istri. Saya merasakan betapa membuat keputusan untuk menetapkan seseorang menjadi istri saya ternyata lebih sulit dan memerlukan waktu serta pikiran yang lebih besar dibandingkan saat saya membuat keputusan-keputusan bisnis dan organisasi. Memilih istri bagi saya saat itu seperti membuat keputusan besar yang memiliki resiko masa depan, bahkan saat itu saya menggunakan teori dan teknik pengambilan keputusan para pakar manajemen untuk memantapkan kriteria dan pilihan. Tapi ternyata tidak semudah yang saya pikirkan dan diteorikan para pakar itu.
Akhirnya saya tersadar dengan pesan Rasulullah untuk para pemuda yang akan menikah. Rasulullah berpesan " wanita itu dinikahi karena empat hal yaitu kekayaannya, keturunannya (nasab), kecantikannya, dan agamanya, jika engkau menikahi karena agamanya maka engkau akan beruntung". Setelah itu saya mulai merenungi tentang makna kebahagiaan dan kenikmatan, karena semua orang yang akan menikah pasti menginginkan dua hal tadi, kebahagiaan dan kenikmatan. Lalu, kebahagian dan kenikmatan seperti apakah yang ingin kita raih…?Apakah yang hanya sesaat di dunia atau sesuatu yang hakiki yang bisa dinikmati sampai dikehidupan akhirat kelak..? Akhirnya kutinggalkan semua teori tentang istri ideal dan nafsu serta rasio manusiawi dalam memilih istri untuk menuju kondisi hati "zero". Saat itulah saya mulai merombak presepsi dan mainstrem saya untuk memilih istri, saya tinggalkan kriteria-kriteria duniawi seperti gelar kesarjanaan, profesi, suku, fisik, dan sebagainya, dan saya gunakan ukuran agama sebagai mainstrem kriteria calon istri, saya harus dapatkan jaminan dan keyakinan bahwa calon istri saya baik agamanya.
Empat tahun berlalu sudah, dan saya bisa memahami pesan Rasulullah tadi. Karena agamanya lah saya nikahi istri saya saat ini, bukan karena profesi dia, bukan karena gelar kesarjananya dan juga bukan karena fisiknya. Dan saya merasa telah mendapatkan segala-galanya. Istri saya meskipun bukan dokter tapi ternyata mampu merawat saya dan anak-anak seperti dokter, dia mampu mengindentifikasi penyakit anggota keluarga dan obat apa yang pas buat keluarganya. Istri saya juga bisa bisnis kecil-kecilan meskipun dia bukan sarjana ekonomi, dan perhatiannya ke suami dan anak-anak melebihi perhatian seorang perawat meskipun dia bukan perawat. Karena agamanya lah, istriku bisa menjadi apapun yang menjadikan saya makin bersyukur kepada Allah dan makin mencintainya.
Saudaraku, pekerjaan memilih istri akan mudah kita lakukan jika kita gunakan mata hati kita. Kriteria agamalah yang menjadikan segala kebaikan akan terhimpun dalam diri istri kita. Memilih istri dengan agama sebagai mainstrem kriteria menjadikan diri kita – insyaallah – lebih muda memilih dan akan merasa kaya dan tentram karena segala kebaikan akan terhimpun dalam diri istri kita.

Berbuat Baik pada Orang Lain Berarti Berbuat Baik Pada Diri Sendiri

"Ah...akhirnya kereta Mutiara Selatan yang kutunggu hampir satu jam tiba juga...". Ini merupakan kereta rutin yang aku naiki setiap pergi ke Bandung, sebuah kereta kelas bisnis yang lumayan nyaman untuk perjalanan jauh. Meskipun hari ini adalah hari kerja tapi penumpangnya cukup ramai, seramai saat akhir pekan, maklum musim liburan sekolah. Penumpangnya pun rata-rata para ibu-ibu dengan anak-anak mereka, apalagi Bandung merupakan kota wisata yang pas buat liburan......
"Ah lumayan, dapat bangku yang kosong...". Kursi yang aku duduki memang masih kosong, sampai kereta meninggalkan stasiun Gubeng, kursi ini masih aku duduki sendirian."Lumayan, paling tidak bisa buat tidur nyaman selama perjalanan" pikirku. Meski aku tak yakin akan kosong terus, pasti nanti di stasiun lain akan ada penunmpangnya. Meski agak gaduh oleh suara serombongan ibu-ibu dan anak-anak di bangku depan, 2 deret di depan samping kanan ku, aku berupaya untuk tidur senyaman mungkin, seharian tadi capek ngurus surat ijin penelitian, dan persiapan bahan penelitian selama seminggu di Bandung nanti. Ah...sebentar saja mataku udah ngantuk, kulihat kereta udah keluar kota Surabaya, kursi sampingku masih kosong....
Tiba-tiba aku terbangun, karena kereta berhenti, dan banyak suara para pedagang yang menawarkan makanan. "Brem, brem, asli Madiun......brem Mas...?" "Mboten bu, matur nuwun", Wuih...udah sampai Madiun, berarti cukup lama tadi aku tertidur. "Permisi mas, ini tempat duduk saya" tiba-tiba ada seorang ibu dengan anaknya menyapaku "Oh silakan Bu". Oh ini rupanya penumpang pemilik nomer kursi di sampingku, dia bersama dua orang anak, satu kira-kira umur 8 tahunan, dan satunya udah umur 12 tahun, laki-laki semua. Ibu ini duduk di sampingku sedangkan anaknya yang besar duduk di kursi sebelah kursi kami, dan yang kecil duduk bersama rombongan ibu-ibu yang berada di 2 deret depan samping kanan. Beberapa menit kemudian kereta bergerak meninggalkan stasiun Madiun.
"Mas, Mas,...bisa minta bantuan nggak...?" tiba-tiba ibu disampingku tadi menepuk pundaku. "Ada apa ya Bu" jawabku sambil bertanya-tanya dalam hati tentang bantuan apa yang harus kuberikan padanya. "E....ini Mas, bisa tukar tempat duduk gak ya...?, anak saya yang kecil itu duduk di sana, saya kasian dia sendirian di sana, saya kepingin bisa kumpul sama anak-anak saya. Nomer duduk Mas bisa ditukar gak dengan nomer tempat duduk anak saya yang kecil di sana itu...?", "Wah.....gimana ya...?" batin ku. Sejurus aku melihat ke wajah anak ibu tadi yang duduk di kursi depan 2 deret dari kursiku, nampak dia merasa gelisah, kasian juga pikirku. Tapi....jika aku pindah ke sana berarti aku harus korbankan ketenanganku, sebab di kursi anak itu ada tiga orang ibu-ibu dengan 4 orang anak kecil yang ramai sekali sejak berangkat dari stasiun Gubeng tadi....gimana ya...."Eh....baiklah Bu, silakang anak ibu pindah kesini, biar saya disana" Jawabku, "Waduh terima kasih ya Mas, maaf lho mas, saya cuma kasian sama anak saya bila duduk sendirian di sana" ucap ibu tadi dengan wajah berbinar.
Akhirnya aku pindah ke kursi anak tadi, kuangkat semua tas ku ke kursi tadi. Wah benar juga dugaannya, ramainya minta ampun.....sepanjang jalan anak-anak itu main terus, bercanda, nangis, ada yang marah...."wuih....mana bisa tidur ini" pikirku. "Maaf ya mas, jika anak-anak mengganggu" tiba-tiba salah seorang ibu menyapa ku, "Ah gak papa kok Bu, namanya juga anak-anak, ini mau liburan ke Bandung Bu" jawabku dengan berupaya menyembuyikan kekesalanku. "Ya Mas, liburan ke rumah saudara di Bandung". Sepanjang perjalanan akau berupaya menikmati perjalanan dengan coba-coba tidur meski sering terbangun oleh suara anak-anak itu.
Pukul 03.00 pagi kereta berhenti di Stasiun Kroya. Pikirku berhentinya kereta saat itu hal yang wajar, maklum kereta bisnis harus berhenti jika ada kereta eksekutif yang mau lewat. Tapi, saya mulai curiga ketika berhentinya melebihi waktu biasanya, sudah hampir 45 menit kereta berhenti yang biasanya cuma 15 menit paling lama. Wah ada apa ini, akhirnya aku turun dari kereta. Ternyata banyak juga penumpang yang turun, akhirnya aku pergi ke kantor stasiun Kroya, dan disana udah banyak penumpang yang ingin tahu kenapa kereta berhenti lama. Dari yang aku dengar tadi petugas stasiun mengatakan bahwa kemungkinan kereta akan berhenti sampai disini saja, sebab jalur kereta ke Bandung terendam banjir sehingga tidak bisa dilintasi kereta. Maka sekitar jam 05.00 pagi ada pengumuman resmi dari petugas stasiun Kroya bahwa penumpang kereta Mutiara Selatan akan dievakuasi dengan bus kota menuju stasiun Cilacap karena jalur kereta terendam air, dan akan naik kereta ke Bandung melalu jalur utara. Artinya aku harus naik kereta ke Bandung dengan memutar dulu nih.....wah.....bisa molor 12 jam.
Jam 07.00 pagi, bus yang akan mengevakuasi penumpang sudah berdatangan, dan orang-orang saling berebut. "Ah...nanti aja dech, toh pasti dapat tempat duduk" pikirku. Namun, ketika aku mendengar serombongan penumpang lain bicara bahwa mereka harus cepat naik bus biar nanti bisa duduk di kereta karena nomer kursi di tiket udah gak berlaku lagi dalam kondisi seperti ini."Waduh benar juga ya kata mereka, bisa-bisa gak dapat tempat duduk nih kalau gak segera naik bus" cemasku. Akhirnya aku berupaya dapat naik bus segera. Akhirnya dapat bus juga meski merupakan rombongan terakhir.
Satu jam perjalanan dari Stasiun Kroya ke stasiun Cilacap, turun dari bus orang-orang sudah pada berebut naik kereta. Apalagi petugas mengumumkan bahwa 10 menit lagi kereta akan berangkat. Wah....benar juga, setelah kususuri gerbong yang ada semua kursi udah terisi semua. Apes deh....berdiri selama 12 jam nih....karena semua penumpang kereta "spesial" ini turun Bandung semua. Ah, akhirnya kuputuskan duduk di dekat pintu persambungan gerbong nomer dua dan satu. "Mas,Mas....sini Mas...." tiba-tiba ada panggilan ibu-ibu dan anak-anak ke arahku....Oh ternyata itu ibu-ibu rombongan temen sekursiku tadi. "Eh ya....saya cari-cari lho Mas tadi, mana Mas tadi, saya bilang ke anak saya jika lihat Mas saya minta untuk ngajak ke sini, Ayo Mas duduk di sini, udah saya sisihkan satu kursi buat Mas" ternyata ibu yang saya bantu dengan nukar kursi saya dengan anaknya juga memanggil saya. "Terima kasih banyak Bu" sahutku. Akhirnya....bisa duduk juga. Setelah itu saya kenalan dengan anak-anak dan ibu itu, sebab sejak dari Madiun kemarin belum kenalan. Selama perjalanan kami ngobrol banyak...
Ternyata Ibu tadi sejak dapat tempat duduk selalu mikirin saya, karena dia teringat akan kebaikan saya mau nukar tempat dengan anaknya. Setiap kali ada orang yang mau duduk dikursi itu, Ibu tadi bilang sudah ada orangnya.....Wah...sejak peristiwa itu saya ambil hikmahnya bahwa setiap kebaikan yang kita berikan kepada orang lain akan membawa kebaikan pada diri kita. Coba jika saya gak mau diminta untuk nukar tempat duduk saya, mungkin ibu tadi gak akan peduli denganku. Sejak itulah aku senantiasa termotivasi untuk bisa memberikan bantuan kepada orang lain. Benar kata Rasulullah "Barangsiapa yang membantu meringankan urusan saudaranya, maka Allah akan meringankan urusannya"

Wednesday, May 2, 2007

RASA RINDU.....

Rindu adalah sebuah perasaan yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, karena rindu adalah bahasa hati. Apa makna rindu itu...?hanya hati kita lah yang bisa menjawab apa makna rindu itu. Yah....sejak setengah tahun ini kami hidup di dua tempat yang berbeda. Bukan karena benci tapi karena situasi dan kondisi yang mengharuskan kami hidup berpisah. Istri dan anak-anak hidup di Lumajang, sedangkan saya hidup di Surabaya. Sejak hidup terpisah itulah saya bisa memahami apa makna rindu itu.
Rindu adalah sebuah perasaan hati yang memunculkan rasa keinginan untuk merasakan suatu manfaat atau hasrat yang kuat untuk berbagi dengan seseorang yang kita percayai dan mengharapkan kehadiran sesuatu didekat kita. Sulit memang untuk menggambarkan rasa rindu itu..Yang jelas rasa rindu itu jika sudah merasuki jiwa maka akan mengakibatkan ketidakseimbangan jiwa. Karena itulah rasa rindu bisa menyesakan dada, rasa rindu bisa menyempitkan pikiran, dan rasa rindu menjadikan sesorang menjadi gundah gulana. Tapi, jika rasa rindu itu dilepaskan dengan memenuhi hasrat rindu maka akan melejitkan potensi seseorang. Jika rasa rindu sudah terlepaskan maka akan menjadikan seseorang merasa bahagia, hatinya berbunga, pikirannya terbuka, serta spirit berkarya menuju puncak semangat......
Di saat jauh dengan istri dan anak-anak rasa rindu itu muncul. Sebab selama 3 tahun kami hidup bersama saya kurang bisa memahami rasa rindu dan memaknai pentingnya rasa rindu itu. Semenjak saya hidup terpisah inilah saya merasakan betapa berharganya rasa rindu itu. Di saat rasa rindu memuncak dalam jiwa maka seakan kita tidak bisa berpikir apa-apa dan semangat kerja dan berkarya menurun. Tapi begitu rasa rindu itu terlepaskan walau dengan sekedar telepon dan SMS maka rasa rindu akan membangkitkan kembali gairah hidup dan berkarya. Dan ternyata itu bukan saya saja yang mengalaminya. Seorang temen saya yang sedang mengambil Ph.D di Malaysia mengalami hal serupa. Saat rindu melanda maka pikiran dan kreativitas dia untuk menulis desertasinya macet, dan stagnan....maka obatnya adalah dengan ngobrol baik dengan chatting, telepon atau SMS....dan subhanallah setelah itu terbuka kreativitasnya untuk menulis desertasinya. Begitu juga dengan seorang temen kantor, saat menjelang akhir minggu semangat kerja turun sebab rasa rindu mengalahkan segalanya, begitu habis pulang mengunjungi istrinya maka hari seninnya semangat kerja memuncak, ide-ide segar selalu muncul.......yah itulah rahasia rasa rindu seperti dua sisi mata uang, dan seperti pisau bermata dua, ada efek positif dan ada efek negatif......Oleh karena itu perlu untuk mengelola rasa rindu itu....sehingga rasa rindu itu bisa berefek positif terhadap semangat kerja dan berkarya serta semakin mengharmoniskan kehidupan berkeluarga
Rasa rindu adalah bumbu bagi hidup berkeluarga, jika telah mati rasa rindu dalam anggota keluarga maka akan mengakibatkan kelurga mudah tertepa gelombang dan badai yang akan mengkaramkan perahu. Rasa rindu itulah yang menjadikan cinta diantara suami istri makin berkembang. Rasa rindu itulah yang akan semakin menjadikan diri kita sadar akan arti penting seorang istri dan anak-anak. Rasa rindu itu pulalah yang akan menjadikan istri dan anak-anak kita menjadi mutiara hati kita.

Wednesday, April 18, 2007

KELUARGA ADALAH INSTITUSI DA'WAH

Keluarga adalah sebuah sistem organisasi yang memiliki fungsi-fungsi di dalamnya. Berbagai macam fungsi dalam sebuah organisasi ada dalam satu keluarga. Ayah merupakan representasi fungsi kepemimpinan, Ibu, dan anak-anak adalah fungsi orang-orang yang dipimpin. Cuma ada bedanya dg institusi organisasi, yaitu dalam sisi kepemimpinan. Kepemimpinan dalam keluarga adalah kepemimpinan kolektif antara Ayah dan Ibu. Dua orang tadilah yang akan menentukan warna dan arah serta visi besar keluarga itu. Fungsi keluarga pun akan tergantung pada apa yang ada dalam visi bersama suami-istri.

Keluarga dalam prespektif Islam bukan hanya sekedar lembaga resmi yang meng-halal-kan hubungan biologis suami istri dengan jalan pernikahan semata. Tapi keluarga adalah sebuah institusi yang dapat menghasilkan suatu perubahan dalam masyarakat. Secara personal anggota keluarga muslim memiliki tanggung jawab untuk menjadi da'i. Sehingga keluarga muslim mampu menjadi keluarga da'wah jika mampu memberikan teladan dalam masyarakatnya dan menghasilkan generasi rabbani yaitu generasi yang mengajarkan Al-Qur'an kepada masyarakatnya karena mereka senantiasa mempelajarinya.

Keluarga sebagai institusi da'wah maksudnya segala perangkat dan fungsi dalam keluarga harus mampu memberikan nilai tarbiyah bagi masyarakat bagaimana mengamalkan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Keluarga merupakan negara Islam terkecil bagi kita untuk mengaplikasikan segala syariat Islam, sehingga mampu menjadi miniatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Perlu diingat pulan keluarga da'wah bukanlah keluarga yang terasing dalam masyarakatnya karena memegang teguh keyakinan, tetapi keluarga da'wah adalah keluarga yang bisa berbaur dengan masyarakatnya melalui sikap tasamukh (toleran) dan tetap konsisten dalam menjaga keyakinan aqidah Islam.

Keluarga da'wah harus senantiasa merancang bagaimana setiap anggota keluarganya bisa menjadi da'i-da'i dalam masyarakat sekalipun dia masih seorang balita. Keluarga da'wah harus menjadikan segala aktivitas dengan masyarakat menjadi sarana untuk menyampaikan ayat-ayat Allah, sarana untuk menjelaskan pokok-pokok agama Islam dengan berbagai media dan tekhnik penyampaiannya.