<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3107325298676153460</id><updated>2011-10-24T00:37:56.012-07:00</updated><category term='Kehidupan Suami Istri'/><category term='Pernikahan'/><category term='Kehidupan Keluarga'/><category term='Tarbiyah Keluarga'/><title type='text'>KELUARGA NOVEN</title><subtitle type='html'>Blog ini merupakan lembaran catatan kehidupan keluarga kami yang berisikan hal-hal yang manis, pahit, suka, duka, cinta, benci, rindu dan segala rasa kehidupan ini sebagai hikmah bagi siapapun supaya lebih bijak dalam memandang kehidupan ini dan memberikan inspirasi bagi siapapun untuk senantiasa berbuat kebajikan dan memperbanyak bekal untuk kehidupan akhirat</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://keluarganoven.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keluarganoven.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>NOVEN FAMILY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04975414083336455869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SPPIjZ6NUCI/AAAAAAAAAD4/uJA4w9xDuOw/S220/berempatkk.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>25</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3107325298676153460.post-8653254447343318667</id><published>2010-04-22T03:06:00.000-07:00</published><updated>2010-04-22T03:10:10.812-07:00</updated><title type='text'>TRUST...!!!</title><content type='html'>Saling percaya merupakan modal dasar utama dalam membangun tim kerja yang efektif, karena tanpa kepercayaan -trust- sulit untuk membangun tim kerja yang efektif. Jika suatu tim kerja tanpa ada trust didalamnya maka yang ada hanyalah persaingan tidak sehat, suka saling mencari kesalahan, suka melempar masalah ke orang lain, saling mencari selamat sendiri-sendiri, yang pada akhirnya tujuan besar yang ingin dicapai akan terabaikan. Trust merupakan salah satu hal yang mendasar untuk menciptakan keselarasan tujuan - goal congruence -, karena dalam suatu tim manajemen pasti akan banyak tujuan, mulai dari tujuan pribadi yang ingin dicapai oleh setiap orang yang ada di dalamnya sampai dengan tujuan dari setiap fungsi dan lini manajemen, nah sikap dan rasa saling percaya - trust - itulah yang akan mensinkronkan dan menselaraskan tujuan-tujuan tersebut untuk menuju tujuan bersama.&lt;br /&gt;Trust memang ibarat pisau yang bermata dua, satu sisi trust - sikap saling percaya - akan membantu suasana kerja yang saling bersinergi untuk mencapai tujuan bersama, tetapi disisi lain sikap saling percaya juga akan menimbulkan sikap ketidakprosefesionalan serta rentan dengan unsur KKN dan penyimpangan. Namun saya tetap percaya bahwa sikap saling percaya jika dibangun melalui sistem kerja dan sistem manajemen yang bagus akan bisa menghindarkan dari sikap ketidakprofesionalan, KKN, dan penyimpangan.&lt;br /&gt;Berdasarkan fakta dan pengalaman yang ada, dengan mekanisme sistem pengambilan kepautusan yang partisipatif, di dukung dengan SOP yang jelas dan terstandar, dengan sosialisasi dan internalisasi visi serta misi besar bersama maka sikap saling percaya yang dibangun dan ditumbuhkan akan bisa melahirkan tim kerja yang efektif, artinya sisi maslahatnya lebih besar daripada sisi madharatnya.&lt;br /&gt;Bayangkan jika dalam suatu tim kerja - satu kantor - sudah tidak ada lagi rasa trust diantara rekan kerja maka yang ada pastilah suasana untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi seperti selamat dari amarah bos, tercapai target fungsi, tidak mau tahu urusan orang lain yang sesungguhnya apa yang dia kerjakan sangat berdampak dan dipengaruhi oleh kerja fungsi yang lain, sehingga muncul sikap saling menyalahkan, sikap saling lempar masalah, sikap untuk menyelamatkan muka diri sendiri, yang pada akhirnya tujuan besar tim tidak tercapai karena termarjinalkan oleh tujuan-tujuan pribadi dan fungsi yang bersifat jangka pendek. Maka jika dalam satu tim - satu kantor - sudah tidak ada trust lagi satu diantara yang lain maka niscaya insyaallah lambat tapi pasti tim itu akan gagal mencapai tujuan bersama….&lt;br /&gt;Lalu bagaimana membangun trust itu…? pertama harus ditegakan mekanisme syuro (rapat) dalam pengambilan keputusan, sehingga keputusan akan bersifat partisipatif, ada proses komunikasi bersama, ada proses untuk bertanggung jawab bersama atas hasil keputusan, menghindarkan keputusan yang bersifat pribadi, keputusan akan bersifat komprehensif dengan menselaraskan tujuan-tujuan pribadi dan fungsi menuju tercapainya tujuan bersama (goal congruence), insyaallah dengan demikian akan menciptakan suasana kerja saling bersinergi bukan dalam prespektif menang - kalah tapi senantiasa dalam prespektif win-win.&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kantor dan tim kerja anda, adakah trust dalam diri anda terhadap rekan kerja anda?…..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3107325298676153460-8653254447343318667?l=keluarganoven.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keluarganoven.blogspot.com/feeds/8653254447343318667/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3107325298676153460&amp;postID=8653254447343318667' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/8653254447343318667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/8653254447343318667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keluarganoven.blogspot.com/2010/04/trust.html' title='TRUST...!!!'/><author><name>NOVEN FAMILY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04975414083336455869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SPPIjZ6NUCI/AAAAAAAAAD4/uJA4w9xDuOw/S220/berempatkk.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3107325298676153460.post-4809636703777974471</id><published>2010-04-22T03:01:00.000-07:00</published><updated>2010-04-22T03:03:15.618-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarbiyah Keluarga'/><title type='text'>Nafsu Bisa Bikin Manusia Bodoh</title><content type='html'>Seringkali kita melihat dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita baik yang kita lihat secara langsung maupun yang kita baca, kita dengar, dan kita lihat dalam media massa betapa kita melihat banyak orang pinter yang menjadi bodoh akibat tergoda untuk bisa mendapatkan sesuatu untuk kepentingan diri sendiri. Banyak orang yang pinter saat masuk dalam dunia politik dan dunia pemerintahan menjadi orang bodoh, bodoh dalam artian semua pendapat dan tindakannya sugguh sangat tidak bisa dirasionalkan dengan argumentatif ilmiah maupun rasio/logika pemikiran manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba tengok saja saat kita melihat beberapa sengketa pilkada di beberapa daerah banyak orang pintar yang kadangkala pendapat dan tindakannya sulit untuk dimengerti secara ilmiah dan rasio pikiran. Coba tengok kasus salah tangkap oleh polisi dan salah putusan oleh hakim, betapa dengan dilingkupi oleh nafsu untuk menjaga harga diri dan kehormatan orang berupaya untuk mengelak dan tidak mengakui sebuah kesalahan secara jantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang saat nafsu lebih mendominasi dalam diri kita maka tindakan, ucapan, dan pikiran kita tidak mencerminkan kepandaian kita sebagai manusia. Nafsu itu pulalah yang menjadikan kita tidak bisa bersikap cerdas dan bernas. Nafsu itu juga yang menjadikan diri kita sulit untuk menerima sebuah kebenaran dari orang lain, dan mengakui kelemahan diri sendiri. Nafsu juga yang menjadikan manusia tidak bisa obyektif dan independen dalam bersikap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantas saja para orang kafir Qurais tidak mau menerima ajaran Rasulullah bukan karena mereka bodoh atau tidak memahami kebenaran tetapi lebih banyak disebabkan nafsu untuk menjaga harga diri dan kehormatan sehingga mereka menolak kebenaran yang ada meskipun mereka dalam hatinya mengakui kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat nafsu sudah menguasai diri kita maka menjadikan hati kita tertutup dari kebenaran, yang ada hanyalah pikiran bagaimana nafsu kita yang berupa nafsu harga diri, kemenangan dan kesombongan, nafsu jabatan dan kedudukan, dll yang akan menuntun kita untuk bertindak dengan segala cara yang penting nafsu kita terpuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafsu itu pula yang kadangkala menjadikan kita tidak bisa menghormati orang lain, nafsu juga menjadikan kita susah menerima pendapat oranglain, nafsu pula yang menjadikan diri kita takut kalah dan susah mengakui kelemahan diri sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jika kita ingin menjadi orang yang pandai dan bijak maka kendalikan nafsu kita, jangan sampai diri kita terselimuti oleh nafsu, apalagi saat kita berdiskusi dan bertukar pendapat dengan orang maka jika nafsu yang menangungi pikiran kita niscaya kita tidak akan bisa meraih sebuah kebenaran&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3107325298676153460-4809636703777974471?l=keluarganoven.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keluarganoven.blogspot.com/feeds/4809636703777974471/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3107325298676153460&amp;postID=4809636703777974471' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/4809636703777974471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/4809636703777974471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keluarganoven.blogspot.com/2010/04/nafsu-bisa-bikin-manusia-bodoh.html' title='Nafsu Bisa Bikin Manusia Bodoh'/><author><name>NOVEN FAMILY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04975414083336455869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SPPIjZ6NUCI/AAAAAAAAAD4/uJA4w9xDuOw/S220/berempatkk.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3107325298676153460.post-5198012877750245886</id><published>2010-04-22T02:59:00.000-07:00</published><updated>2010-04-22T03:01:47.752-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarbiyah Keluarga'/><title type='text'>SPIRIT SYURGA....</title><content type='html'>Rasa bosan dan jenuh merupakan hal yang sering kita alami sebagai manusia, dan itu adalah manusiawi sekali. Sering kali kita merasa semangat dan tiba-tiba jadi tidak semangat, bosan, dan jenuh yang akhirnya malas untuk bertindak dan berbuat. Dan ternyata rasa bosan dan lelah itupun dirasakan oleh para sahabat Rasulullah, dikala mereka harus terus-terusan berjihad dan berda’wah mereka juga dihinggapi oleh rasa bosan dan jenuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah riwayat yang menceritakan dikala ada seorang sahabat yang sedang berjalan bersama rombongan pasukan Rasulullah, lalu melewati sebuah lembah yang indah, teduh, dan nyaman maka ada seorang sahabat yang berkata ” Seandainya Rasulullah mengijinkan maka aku akan berlama-lama di sini, betapa nikmatnya jika bisa menyendiri di sini dengan memperbanyak ibadah kepada Allah”. Mendengar perkataan itu maka Rasulullah menyahut perkataan sahabat tadi “Jangan kau lakukan, sesungguhnya jihad yang engkau lakukan itu lebih mulia kedudukannya daripada sholat 70 tahun di dalam rumahmu, apakah engkau tidak menginginkan jika dengan jihadmu maka engkau akan mendapatkan ampunan Allah terus menerus dan akan mendapatkan syurga Allah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya ?, sesungguhnya siapa saja yang berjihad di jalan Allah walau hanya selama orang memerah susu maka wajib syurga baginya”. Begitu juga ada riwayat yang menceritakan pada saat perang Badr ada salah seorang sahabat yang sedang bermalas-malasan sambil mengunyah kurma, melihat hal itu maka Rasullullah berkata” Wahai kaum muslimin tegakanlah badanmu, songsonglah syurga yang luasnya seluas langit dan bumi” mendengar seruan Rasulullah itu sahabat tadi berujar ” Seluas langit dan bumi ya Rasulullah? ” ” Ya, kenapa?” tanya Rasulullah, “Sungguh beruntung jika mendapatkannya” kata sahabat tadi, “Kenapa engkau berkata begitu” tanya Rasulullah, “Karena saya sangat menginginkannya untuk mendapatkan syurga itu” kata sahabat tadi, maka Rasulullah berkata ” Sesungguhnya engkau adalah salah satu orang yang dijanjikan untuk mendapatkan syurga Allah itu”, maka seketika itu sahabat tadi berkata” Wah alangkah ruginya jika aku menunggu selesainya makan kurma ini untuk mendapatkan syurga itu” sambil meludahkan kurma yang masih ada di mulutnya dan kemudian sahabat tadi langsung bangkit dari duduknya sambil mengambil pedangnya dan kemudian di mendapatkan syahidnya dalam medan peperangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sahabat tadi bisa langsung bersemangat kembali saat mengalami kelesuan semangat karena syurga menjadi impian mereka yang ingin diraihnya. Jika kita menilik beberapa hadist dan ayat-ayat Al-Qur’an banyak kita lihat bagaimana Allah dan Rasul-Nya memberikan motivasi pada kita untuk senantiasa bersemangat dalam berbuat amal kebajikan dan berupaya sekuat tenaga menghasilkan amal-amal terbaik (ihsanul amal) dengan iming-iming syurga yang keindahan dan kenikmatannya tidak pernah terbayangkan dalam benak manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tidak saat kita mengalami kepayahan dan kelesuan jiwa dalam bekerja maka syurga bisa menjadi spirit dan motivasi kita untuk bangkit kembali untuk berkarya. Spirit syurga itulah yang akan menjadikan segala capek dan letih lesu kita tidak akan terasa. Semua yang kita lakukan dengan spirit mencari syurga Allah maka akan menjadikan semua pekerjaan berat dan besar akan terasa ringan dan mudah. Spirit syurga juga akan mendorong kita untuk melakukan amal kebajika dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insyaallah dengan senantiasa menghadirkan syurga di depan mata kita maka bayangan kesulitan dalam menyelesaikan segala pekerjaan berat dan besar akan sirna dalam pikiran kita, sebab semua kelelahan dan kecapekan kita akan tergantikan oleh nikmatnya syurga Allah yang tida tara. Jika pun kita gagal dalam hal tertentu maka insyaallah setiap amal yang kita usahakan pasti ada nilainya di mata Allah dan insyaallah akan ditukar oleh Allah dengan syurga-Nya seluas langit dan bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya syurga Allah merupakan inspirasi dan spirit bagi saya untuk senantiasa bergerak dan bergerak untuk berbuat sesuatu yang terbaik dalam hidup ini. Saya ingat betul ada suatu hadist yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah akan menunjukan jalan menuju syurga bagi setiap orang yang berjihad menuntut ilmu. Hadist itulah yang menjadi inspirasi saya dikala jenuh dalam belajar, dan di salah satu ayat Al-Qur’an Allah mengatakan bahwa akan ditunjukkan jalan oleh Allah bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh dalam beramal. JIka kita ingin senantiasa bergerak dan bersemangat dalam beramal untuk menghasilkan amal yang terbaik maka hadirkanlah syurga Allah dalam setiap kali kita melakukan amal insyaallah semua akan lebih terasa indah dan nikmat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3107325298676153460-5198012877750245886?l=keluarganoven.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keluarganoven.blogspot.com/feeds/5198012877750245886/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3107325298676153460&amp;postID=5198012877750245886' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/5198012877750245886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/5198012877750245886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keluarganoven.blogspot.com/2010/04/spirit-syurga.html' title='SPIRIT SYURGA....'/><author><name>NOVEN FAMILY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04975414083336455869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SPPIjZ6NUCI/AAAAAAAAAD4/uJA4w9xDuOw/S220/berempatkk.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3107325298676153460.post-8175750861508958189</id><published>2010-04-22T02:57:00.000-07:00</published><updated>2010-04-22T02:59:27.812-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarbiyah Keluarga'/><title type='text'>HIDUP INI IBARAT MAIN GAME</title><content type='html'>Beberapa waktu yang lalu saya diskusi panjang dengan salah seorang temen tentang apa itu takdir kehidupan. Bagi saya diskusi ini cukup menarik, karena sering kali kita mengatakan sesuatu yang menimpa kita adalah takdir Allah semata, sehingga seringkali ada orang yang protes kenapa saya ditakdirkan begini oleh Allah ? bahkan ada yang lebih konyol ada yang protes sepertinya Allah tidak adil terhadap dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata temen saya, kehidupan kita ini adalah ibarat main game. Coba tengok sebuah program game dibuat, semua ada alurnya, dan alur itu tidak satu tetapi banyak alur, karena itu pada saat kita melakukan pilihan tindakan dalam permainan game maka kita akan masuk dalam alur permainan yang kita pilih sampai kita mendapatkan akhir dari permainan itu. Setiap pemain game akan diberikan pilihan-pilihan mau ambil alur yang mana, dan kita pun diberikan pilihan-pilihan ketika kita mainkan game dalam sebuah alur yang kita pilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga kehidupan kita, maka sesungguhnya Allah telah menyediakan berbagai macam alur kehidupan kepada kita. Dan Allah telah mengilhami kepada kita kemampuan untuk berpikir dan menganalisa pilihan alur mana yang akan kita pilih dalam menjalani kehidupan ini. Dan setelah kita memilih alur kehidupan kita maka kita akan menjalani setiap proses kehidupan yang terjadi dalam alur kehidupan itu sampai dengan akhir dari alur kehidupan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi alur kehidupan itulah takdir Allah, sebenarnya Allah banyak memberikan pilihan kepada kita untuk memilih alur kehidupan yang akan kita jalani, maka pada saat orang protes bahwa Allah tidak adil dengan mentakdirkan sesuatu pada diri seseorang maka sesungguhnya dia protes pada diri sendiri, sebab Allah tidak pernah memaksakan pada kita untuk memilih alur kehidupan yang mana dari sekian alur kehidupan yang disediakan Allah untuk kita. Itulah kebesaran Allah, yang memebrikan kebebasan kepada manusia untuk memilih alur kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuman kadangkala kita tidak sabar dalam menjalani alur kehidupan yang sudah kita pilih sehingga kita sulit untuk menrima kenyataan hidup yang kita pilih padahal Allah masih membuka peluang dengan pilihan-pilihan dalam alur kehidupan yang kita pilih. Maka sesungguhnya apa yang terjadi dalam kehidupan kita selain merupakan kehendak Allah dengan membuat template kehidupan bagi kita juga merupakan hasil usaha yang kita upayakan atas kebebesan yang diberikan Allah kepada kita untuk memilih dan berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba renungkan dan kita ulas balik perjalanan hidup kita mulai dari kecil sampai sekrang ini maka kita akan menemukan bahwa sesungguhnya selama ini kita diberikan pilihan-pilihan alur kehidupan. Ada seorang sahabat Rasulullah yang mengatakan bahwa sesungguhnya pada saat seseorang terhindar dari satu takdir Allah maka sesungguhnya dia akan masuk dalam takdir Allah yang lain. Pada saat kita mau sekolah SMA pasti kita dihadapan pilihan, mungkin kita saat ini boleh berkata “untung saya sekolah disini”, sebenarnya semua yang terjadi itu semua telah diskenariokan Allah untuk diri kita, kita hanya mempunyai kemampuan untuk memilih skenario Allah yang mana yang akan kita pilih untk kita jalani. Bila kita telusuri peta kehidupan kita masa lalu sampai sekarang maka kita akan mendapattkan sebuah pola kehidupan, dan mungkin kita akan berguman “kenapa kita tidak milih yang itu” atau kita berkata dalam hati “untung saya pilih tindakan yang ini”. Maka sesungguhnya begitu kita telah memilih maka roda kehidupan kita akan berputar pada jalur kehidupan yang telah kita pilih, dan setiap jalur kehidupan itu warna-warna kesenangan, kegembiraan, dan kedukaan, serta warna kehidupan yang lain berbeda-beda titik dan panjangnya, tapi yakinlah jika kita bersabar maka bila saat ini roda kehidupan kita berada pada jalur kesedihan maka akan segera bergeser pada titik kebahagian, seberapa lama roda kehidupan kita akan berpindah tergantung usaha kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3107325298676153460-8175750861508958189?l=keluarganoven.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keluarganoven.blogspot.com/feeds/8175750861508958189/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3107325298676153460&amp;postID=8175750861508958189' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/8175750861508958189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/8175750861508958189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keluarganoven.blogspot.com/2010/04/hidup-ini-ibarat-main-game.html' title='HIDUP INI IBARAT MAIN GAME'/><author><name>NOVEN FAMILY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04975414083336455869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SPPIjZ6NUCI/AAAAAAAAAD4/uJA4w9xDuOw/S220/berempatkk.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3107325298676153460.post-2666235579257556523</id><published>2010-04-22T02:55:00.000-07:00</published><updated>2010-04-22T02:57:38.015-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kehidupan Suami Istri'/><title type='text'>Jika...Kalau...Maka....</title><content type='html'>Beberapa hari ini saya teringat kembali akan sebuah dialog kecil yang pernah saya baca dari sebuah tulisan. Mungkin dialog itu lucu tetapi bagi saya perlu untuk saya renungkan kembali supaya saya bisa menjadi hamba yang bersyukur…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pasangan suami istri yang naik mobil mewah, suami dari wanita itu adalah seorang direktur perusahaan ternama. Karena bensin mobilnya tinggal sedikit maka mereka menuju ke satu SPBU terdekat untuk mengisi bensin mobil mereka. Maka berhentilah mereka di sebuah SPBU. Pada saat mobil diisi bensin dan suami wanita tadi keluar untuk membuka penutup tangki bensin mobilnya, tiba-tiba istrinya keluar dari mobil dan berjalan menuju ke salah seorang petugas SPBU yang agak jauh dari mobil mereka. Suaminya memperhatikan istrinya dari jauh yang nampak asyik dan akrab berbicara dengan lelaki petugas SPBU itu. Begitu bensin terisi penuh maka suami wanita tadi memanggil istrinya dengan membunyikan klakson mobil, maka segera wanita tadi bergegas menuju mobilnya. Pada saat di dalam mobil suaminya bertanya kepada istrinya “Siapa lelaki itu ?”, ” oh itu mantan pacar saya sewaktu SMA dulu ” jawab istrinya, “Wah untung ya kamu dapat saya, jika kamu nikah dengan dia tentu sekarang kamu akan menjadi istri petugas SPBU bukan jadi istri direktur seperti saya ” kata suaminya, istrinya langsung menimpali “Oh…seharusnya kamu yang beruntung menikah dengan saya, sebab jika tidak menikah dengan saya maka kamu mungkin tidak akan jadi direktur seperti saat ini ” timpal istrinya………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali membaca dialog tersebut saya senyum sendiri, bila saya ingat-ingat waktu sibuk pilih istri dulu saya pingin milih si A atau Si B eh ternyata dapat istri saya saat ini he…he,,,,jujur aja kadangkala ada perasaan menyesal di awal dan saya pikir perasaan seperti itu pasti dialami oleh setiap pria yang baru menikah…tapi bila saya renungkan maka jika saja saya tidak menikah dengan istri saya saat ini maka saya tidak akan bisa menjadi seperti saat ini…jadi inilah sebuah takdir. Bisa jadi ada seseorang yang saat ini menyesal menikah dengan istrinya saat ini maka sesungguhnya belum tentu jika dia tidak menikah dengan istrinya sekarang maka dia akan bisa menjadi seperti saat ini atau lebih baik daripada saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya renungkan dialog kecil tadi, maka tanpa saya sadari muncul rasa syukur yang tak terhingga dalam dirisaya karena saya ditakdirkan Allah menikah dengan istri saya saat ini. Karena bisa jadi jika saya tidak menikah dengan istri saya saat ini mungkin saya tidak akan bisa menjadi seperti saat ini. Saya jadi mikir seandainya saya menikah dengan si A atau si B belum tentu saya bisa seperti saat ini dan belum tentu pula si A atau si B itu akan seperti saat ini. Dan baru kali ini saya merasakan syukur yang sangat dalam kepada Allah yang telah mentakdirkan saya menikah dengan istri saya saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jangan sampai kita melupakan peran istri kita, terlepas dari segala kekurangan yang ada dalam diri istri kita sebagai manusia maka sesungguhnya ada sebuah takdir kita yang melekat bersama istri kita yang menjadikan kita bisa menjadi seperti saat ini. JIka kalau pun kita belum bisa menjadi apa yang kita inginkan sampai saat ini maka jangan sampai ada perasaan menyesal telah menikahi istri anda saat ini karena bisa jadi jika anda menikah dengan orang lain belum tentu kondisi anda akan lebih baik dari saat ini atau pun belum tentu jika anda menikah dengan orang lain anda akan mendapatkan apa yang anda inginkan. Jadi syukurilah atas takdir Allah yang menikahkan anda dengan istri anda saat ini, insyaallah akan banyak kebaikan yang akan anda terima dengan mensyukuri takdir Allah untuk menikahi istri anda saat ini, insyaallah, biidznillah……..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dibalik kesuksesan seorang pria sesungguhnya ada kontribusi tidak langsung dari seorang istri, entah itu berupa dukunganya nyata dari istri anda atau pun takdir anda yang melekat dalam diri istri anda saat ini.&lt;br /&gt;Bookmark and Share&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3107325298676153460-2666235579257556523?l=keluarganoven.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keluarganoven.blogspot.com/feeds/2666235579257556523/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3107325298676153460&amp;postID=2666235579257556523' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/2666235579257556523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/2666235579257556523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keluarganoven.blogspot.com/2010/04/jikakalaumaka.html' title='Jika...Kalau...Maka....'/><author><name>NOVEN FAMILY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04975414083336455869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SPPIjZ6NUCI/AAAAAAAAAD4/uJA4w9xDuOw/S220/berempatkk.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3107325298676153460.post-2378628027320511429</id><published>2009-07-26T20:04:00.000-07:00</published><updated>2009-07-26T21:49:27.071-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kehidupan Suami Istri'/><title type='text'>MEMBAGI CINTA</title><content type='html'>Seminggu yang lalu saya bersama temen-temen kantor lama mengadakan silaturrahim ke salah satu rumah temen yang baru saja menikah lagi. Kami ke rumahnya karena saat acara pernikahannya kami semua tidak bias hadir, jadi sekalian acara perpisahan saya dengan temen-temen kantor lama maka kami memutuskan untuk singgah ke rumahnya. Ya…temen saya tadi menikah yang kedua sekitar enam bulan yang lalu, maksudnya menikah lagi bukan karena istrinya meninggal atau cerai tetapi istri pertamanya masih ada dan masih syah sebagai istrinya, alias temen saya itu berpoligami.&lt;br /&gt;     Terus terang saja saja pada enam bulan yang lalu pada saat menerima undangannya saya sangat terkejut sekaligus senyum-senyum sendiri tak kala membaca undangannya. Karena baru kali ini saya menerima undangan poligami, dan baru pertama kali ini saya melihat langsung orang dekat saya melakukan poligami. Kontan saja temen-temen sekantor saat itu pada heboh, heboh pertama karena di kantor ada juga temen yang gembar-gembor mau poligami tetapi sampai sekarang dia belum berpoligami bahkan sekarang mulai munndur ke belakang, katanya “dah tobat”, heboh kedua karena temen saya ini tak suaranya untuk berpoligami tak sekencang temen yang satunya. Ya dia menikah lagi dengan seorang janda dengan tiga orang anak yang ditinggal mati oleh suaminya. Saya mungkin tak mau ceritakan tentang kenapa dia mau poligami, dan bagaimana caranya istrinya mau di”madu” serta bagaimana istri keduanya itu mau jadi istri muda meskipun sudah gak muda lagi, karena itu ceritanya panjang, dan agak privasi. Saya cuma mau memberi catatan penting saja yaitu lintasan pikiran saya ketika saya berkunjung ke rumahnya....&lt;br /&gt; Temen saya itu saat ini tinggal berdua dengan istrinya dan tiga orang anaknya dari istri kedua. Rumah istri-istrinya saling berdekatan, hanya dipisahkan tembok, tetapi di belakang rumahnya ada dapur yang jadi satu, jadi katanya tiap hari istri-istrinya itu masak bersama-sama. Hmm….kalo denger ceritanya asyik juga, seperti film ayat-ayat cinta itu cuman sampai di rumah saya jadi berpikir bagaimana caranya ya temen saya itu dapat membagi cintanya…??? Saya memang belum bertanya ke temen saya tentang soal itu tapi saya coba membayangkan bahwa betapa sulitnya membagi cinta karena berdasarkan apa yang saya rasakan membagi cinta itu susahnya luar biasa……&lt;br /&gt; Saya jadi ingat kejadian tak kala istri saya cemburu pada saya ketika saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan ibu saya, atau tak kala anak saya yang pertama marah dan ngambek ke saya ketika saya terlalu memperhatikan adiknya yang masih kecil. Rasanya saya sulit membayangkan bagaimana cara membagi komunikasi yang intim jika saya punya istri dua…? Karena komunikasi yang intim, hanya berdua saja adalah kebutuhan komunikasi pasangan suami istri, lalu jika punya dua istri bagaimana ya cara dan rasanya..? Saya saja punya dua orang sahabat dekat sejak kecil sering saya rasakan keintiman saya berbeda antara sahabat saya yang satu dengan yang lain. Saya rasa itulah tantangan besar yang akan dihadapi jika  seorang laki-laki melakukan poligami yaitu membagi cinta.&lt;br /&gt; Adil dalam membagi cinta dalam poligami adalah tantangan besar dalam hidup berpoligami, dan itu disebutkan Allah dalam Surat An-Nisa ayat 3 : “Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil maka kawinilah seorang saja”. Saya rasa itulah keindahan Islam dalam memandang poligami, artinya Islam itu membolehkan menikah lebih dari satu tetapi tidak boleh lebih dari empat, tetapi jika melihat ayat tadi maka kemampuan berpoligami itu hanya dimiliki oleh segelintir orang saja, karena tidak semua laki-laki mampu berpoligami, dan menurut saya hanya satu syarat utama seorang lelaki mampu berpoligami yaitu jika mampu membagi cintanya secara adil, adil dalam artian bukan membagi rata tetapi memenuhi hak-hak istri-istrinya secara ma’ruf. Karena  membagi cinta sama rata itu adalah tidak mungkin, karena pastilah kita akan memiliki satu kecenderungan. Cinta kita pun kepada anak tidak bisa merata meskipun kita berusaha untuk membagi cinta kita kepada anak-anak kita secara adil, karena jika kita mau jujur dari hati terdalam kita pasti punya perasaan cinta yang lebih besar pada satu diantara anak-anak kita, tapi kita sebagai orang tua tidak mau menunjukan itu, kita pun berlaku adil hanya secara fisik cinta kepada anak-anak kita, tetapi sejatinya kita memiliki ruh cinta yang lebih pada salah satu anak kita. Dan itu pun dirasakan oleh Rasulullah SAW betapa beliau sangat mencitai Khadijah daripada yang lain.&lt;br /&gt; Jadi adil menurut saya dalam adil membagi cinta saat kita berpoligami hanya bisa adil secara fisik yaitu memenuhi hak-hak yang nampak, dan mau memperhatikan setiap kebutuhan istri-istrinya, bukan membagi rata karena itu pasti tidak mungkin. Maksud tulisan ini saya bukan mengajak pembaca untuk berpolemik dalam pro dan kontra dalam masalah poligami, tetapi sekedar untuk merenungi tentang makna membagi cinta entah itu kepada istri, ibu, atau anak-anak. Cuman satu catatan penting saya adalah janganlah kita memandang hina kepada orang-orang yang melakukan poligami, dan juga janganlah kita mengagung-agungkan poligami. Yang harus kita sepakati bahwa poligami itu diperbolehkan oleh Islam, cuman tidak semua orang bisa berpoligami, dan siapa yang bisa berpoligami adalah tergantung pada kondisi kita akan jatuh pada hukum apa atas poligami itu atas diri kita, apa wajib, sunnah, makruh, mubah, atau haram…??? Kondisi kitalah yang akan menentukan hokum poligami atas diri kita, karena secara umum hukum poligami itu boleh (mubah) bukan wajib dan bukan sunnah, maka penjatuhan hukum poligami harus dilihat kasus per kasus bukan mengeneralisasinya baik ke ranah haram atau pun ke ranah sunnah. Tetapi jika sampai kita mengingkari poligami maka secara tidak langsung kita akan mengikari Al-Qur’an, jika sampai begitu maka  akan merusak keimanan kita. Bisa jadi sesuatu yang kita anggap jelek boleh jadi akan mendatangkan kebaikan pada diri kita, dan sebaliknya sesuatu yang kita pandang baik, boleh jadi akan membawa keburukan.&lt;br /&gt;Wallahu’alam bisshowab..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3107325298676153460-2378628027320511429?l=keluarganoven.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keluarganoven.blogspot.com/feeds/2378628027320511429/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3107325298676153460&amp;postID=2378628027320511429' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/2378628027320511429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/2378628027320511429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keluarganoven.blogspot.com/2009/07/membagi-cinta.html' title='MEMBAGI CINTA'/><author><name>NOVEN FAMILY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04975414083336455869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SPPIjZ6NUCI/AAAAAAAAAD4/uJA4w9xDuOw/S220/berempatkk.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3107325298676153460.post-7517714004102412661</id><published>2009-07-11T10:20:00.000-07:00</published><updated>2009-07-26T21:56:02.573-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kehidupan Keluarga'/><title type='text'>AKU  MAU LIMA….</title><content type='html'>Ketika bulan-bulan pertama iziz masuk sekolah. November 2008…ada temannya yang ultah….&lt;br /&gt;“Bunda,…tadi vensya ulang tahun. Katanya umurnya sudah lima tahun….aku berapa bunda? Aku mau ulang tahun juga…”&lt;br /&gt;“Kakak kan sudah ulang tahun kemaren. Lupa ya? Yang dikasih kado sama ayah? Mobil remot…? Lupa?....”&lt;br /&gt;“ o iya…tapi aku ulang tahun yang ke berapa?”&lt;br /&gt;“Kakak ulang tahun yang ke empat.”&lt;br /&gt;“Vensya kok katanya ke lima? Aku mau ulang tahun lagi. Yang ke lima seperti Vensya…”&lt;br /&gt;“Ya tahun depan kak….”&lt;br /&gt;Aku mengerti, dia belum paham.&lt;br /&gt;“Vensya kok sudah lima tahun? Kenapa aku empat tahun?..”&lt;br /&gt;“Karena Vensya lahirnya duluan…”&lt;br /&gt;“Iya, tapi kenapa, bunda?....aku mau seperti temanku. Lima tahun!””&lt;br /&gt;“Belum, Nak. Kakak lima tahunnya tahun depan….”&lt;br /&gt;Aku tau dia belum paham juga.&lt;br /&gt;Mungkin ada tiga harian dia membicarakan masalah ulang tahun itu. Dia bingung, kenapa vensya 5 tahun, kenapa aku empat tahun. Kenapa usiaku tidak sama.&lt;br /&gt;Waktu berlalu. Bulan berganti bulan. Sekarang sudah 2009. Kadang dia masih bertanya. “Bunda, apa aku sudah lima?”&lt;br /&gt;“Belum nak. Kakak masih 4 tahun 6 bulan” jawabku suatu ketika.&lt;br /&gt;Bulan juni 2009 kemaren dia tanya lagi.&lt;br /&gt;“Bunda, aku ulang tahunnya bulan apa ya?”&lt;br /&gt;“Bulan Juli, Nak”&lt;br /&gt;“Apakah bulan juli sudah dekat?”&lt;br /&gt;Ya. Setelah Juni habis, trus Juli.”&lt;br /&gt;“Kalo begitu aku mau lima tahun ya…”&lt;br /&gt;Aku menatapnya haru. “Ya…hampir lima tahun. Sedikit lagi…”&lt;br /&gt;“yeeeee….aku mau lima….aku mau lima….” Karena waktu itu sedang di rumah ustadz untuk tahfidz, dia bertemu vensya teman akrabnya….maka dengan muka bebinar bahagia, dia menghampiri vensya…&lt;br /&gt;“Ven…ven…jarene bundaku…aku…aku wis hampir limo…” dengan bahasa jawa yang kaku, dia menyampaikan kabar gembiranya….&lt;br /&gt;“Kapan Ziz?&lt;br /&gt;“Marine…bulan Juli…” aku mendengarkan, mengamati wajahnya…mengamati percakapan mereka berdua dengan senyum…&lt;br /&gt;“Aku lho, wis atene enem…”&lt;br /&gt;“ha? Enem?....” Iziz seperti tidak pecaya.&lt;br /&gt;“Iyo..aku marine wis ate nem tahun…”&lt;br /&gt;Iziz menatapku…seperti mau senyum…seperti sedih…aku sulit menggambarkan perasaannya….&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum…senyum…tapi kasian juga anakku. Dia ingin seperti temannya…&lt;br /&gt;Ketika dia menghampiriku…”Kakak sebentar lagi lima tahun…lalu enam tahun…lalu tujuh tahun….”&lt;br /&gt;“Aku juga mau enam ya, Bunda”&lt;br /&gt;“Iya nak…tahun depan lagi….”&lt;br /&gt;Duh, kasian anakku….tapi dia belum paham konsep perjalanan waktu….jika  tanggal, hari, dan bulan dia bisa…tapi pergantian taun dia belum bisa….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara ini…jika iziz bertanya tentang usianya…aku bilang…iya setelah lima tahun…kakak juga enam tahun. Sama seperti Vensya. Dan dia pasti berteriak…yeeee….aku juga mau enam…..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3107325298676153460-7517714004102412661?l=keluarganoven.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keluarganoven.blogspot.com/feeds/7517714004102412661/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3107325298676153460&amp;postID=7517714004102412661' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/7517714004102412661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/7517714004102412661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keluarganoven.blogspot.com/2009/07/aku-mau-lima.html' title='AKU  MAU LIMA….'/><author><name>NOVEN FAMILY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04975414083336455869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SPPIjZ6NUCI/AAAAAAAAAD4/uJA4w9xDuOw/S220/berempatkk.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3107325298676153460.post-6167388974142731146</id><published>2009-01-01T04:10:00.000-08:00</published><updated>2009-01-01T05:23:46.369-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kehidupan Suami Istri'/><title type='text'>ADA TAKDIR KITA DALAM DIRI ISTRI KITA</title><content type='html'>Saya masih ingat tentang sekelumit kisah suami istri yang sedang berada di suatu SPBU, kisah ini saya dapatkan dari salah seorang temen saya yang diberikan kepada saya ketika saya mau menikah dulu, terlepas dari fiktif atau tidaknya cerita itu ada hikmah tersendiri yang saya rasakan atas cerita pendek itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari ada seorang direktur perusahaan ternama sedang naik mobil bersama istrinya, karena bensin mobilnya akan habis, maka keduanya mampir di sebuah SPBU untuk mengisi kembali bensin mobil mereka. Saat mobil sedang diisi, dan sang direktur menunggu petugas selesai mengisi bensin mobilnya, tiba-tiba sang istri keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya ke seorang petugas SPBU yang sedang berdiri di sisi yang lain. Sang direktur hanya melihat istrinya dari jauh, tanpa tahu apa yang dibicarakan, yang jelas keduanya nampak asyik berbicara, seperti dua kawan lama yang lama tak jumpa. Saat mobil selesai diisi, maka sang direktur membunyikan klakson mobil untuk memberikan isyarat kepada istrinya. Mendengar klakson mobil, sang istri segera bergegas menuju mobil. Rupanya sang direktur penasaran dengan apa yang dibicarakan istrinya dengan petugas SPBU tadi."Siapa tadi, kok asyik banget ngobrolnya" tanya sang direktur, "oh....itu tadi temen SMA-ku, dia dulu itu mantan pacarku waktu SMA, sebelum aku ketemu dengan-mu", jawab istrinya. "Pantes, asyik banget ngobrolnya. Untung ya kamu gak jadi nikah sama dia, kalau kamu nikah sama dia mungkin kamu tidak akan bisa jadi istrinya direktur, tapi jadi istri petugas SPBU..." kata Sang direktur."ah tidak juga, sebenarnya kamulah yang beruntung, kalau kamu gak nikah sama aku mungkin kamu tidak jadi direktur seperti saat ini, bisa jadi kamu jadi yang lain jika menikah dengan orang lain.." timpal istrinya.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sederhana cerita di atas, cuma jika kita renungkan dalam-dalam maka kita bisa mengambil hikmah yang besar yaitu rasa syukur yang mendalam karena kita menikah dengan istri kita saat ini. Mungkin diantara kita dulu pernah merajut asmara dengan orang lain tapi gagal, atau mungkin kita pernah menaruh hati pada seorang perempuan tapi tak kesampaian untuk mengungkapnya sehingga akhirnya kita menjadi suami dari istri kita saat ini. Maka jika kita renungkan sesungguhnya istri kita saat ini adalah bagian dari takdir kita. Saat kita memilih seorang wanita untuk menjadi istri kita saat ini maka sesungguhnya kita telah memilih takdir kehidupan kita selanjutnya. Mungkin kita tidak akan bisa menjadi seperti saat ini seandainya kita tak menikah dengan istri kita, mungkin kita akan mendapati hidup kita lebih baik atau lebih jelek seandainya kita menikah dengan orang lain. Maka sesungguhnya, dalam diri istri kita ada sebagian takdir dan rejeki untuk kehidupan kita. Begitupula diri kita, merupakan bagian dari takdir istri kita sehingga mereka dengan menjadi istri kita menjadi orang yang seperti saat ini, seandainya istri kita tidak menikah dengan kita mungkin mereka akan mendapati hidupnya lebih baik atau bahkan hidupnya lebih jelek dari saat ini. Jadi sesungguhnya istri kita adalah bagian dari takdir atas jalan dan cerita hidup yang akan kita lalu, dan merupakan sumber takdir rejeki untuk kita begitu pula diri kita merupakan bagian takdir dari cerita dan jalan hidup yang akan dilalui serta rejeki yang dia terima selama hidup bersuamikan diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, apa pun yang terjadi saat ini, apa pun yang kita jalani saat ini, dan apa pun istri kita harus kita syukuri keberadaannya. Karena pada saat ada lintasan pikiran kita yang mengatakan "ah...seandainya saya menikah dengan dia, tidak dengan istri saya maka saya mungkin tidak hidup seperti ini.." maka sesungguhnya lintasan pikiran seperti itu hanyalah tipuan kita, sebab kita tak bisa menentukan dan memberikan kepastian seandainya betul kita tak menikah dengan istri kita saat ini apakah kita bisa memastikan bisa meraih apa yang kita inginkan dalam lintasan pikiran tadi...? saya yakin belum tentu kita akan mendapatkan apa yang ada dalam lintasan pikiran kita. Takdir itu ibarat pintu, saat pintu itu tertutup maka kita tak pernah tahu ada apa dibalik pintu itu ketika nanti kita membukanya, kita baru tahu sesuatu dibalik pintu itu ketika kita sudah membuka pintu itu, dan kita juga tak pernah tahu ada apa dibalik pintu-pintu yang lain. Saat kita memilih istri kita saat ini maka sesungguhnya kita membuka salah satu pintu takdir kita yang akhirnya kita jalani saat ini, dan kita tak pernah tahu apa benar keinginan hati kita itu ada di pintu yang lain yang ingin kita pilih tadi...? Jadi syukurilah istri kita saat ini karena istri kita adalah bagian dari skenario hidup dan rejeki kehidupan kita saat ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3107325298676153460-6167388974142731146?l=keluarganoven.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keluarganoven.blogspot.com/feeds/6167388974142731146/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3107325298676153460&amp;postID=6167388974142731146' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/6167388974142731146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/6167388974142731146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keluarganoven.blogspot.com/2009/01/ada-takdir-kita-dalam-diri-istri-kita.html' title='ADA TAKDIR KITA DALAM DIRI ISTRI KITA'/><author><name>NOVEN FAMILY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04975414083336455869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SPPIjZ6NUCI/AAAAAAAAAD4/uJA4w9xDuOw/S220/berempatkk.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3107325298676153460.post-5175057082401592928</id><published>2008-12-10T04:33:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T05:18:53.151-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kehidupan Suami Istri'/><title type='text'>ANTARA KEPALA KELUARGA DAN KEPALA RUMAH TANGGA</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sekilas tidak ada bedanya antara kepala rumah tangga dan kepala keluarga jika kita lihat dari sisi makna bahasa. Masyarakat pada umumnya sudah mafhum jika disebut kepala rumah tangga pasti sama makna dengan kepala keluarga, artinya kedua kata itu merupakan sinonim kata. Apa benar kepala rumah tangga itu sama dengan kepala keluarga..? Jika memiliki arti yang sama apakah juga merujuk pada orang yang sama ? Jika sama maka dimanakah letak pembagian tugas antara suami dan istri dalam kehidupan berumah tangga..?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mari kita simak salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari "Rasulullah bersabda: setiap kalian adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang amir adalah pemimpin atas rakyatnya dan ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin di keluarganya dan ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan anaknya, dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Setiap kalian ada pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas yang dipimpinnya". Jika kita simak secara lebih dalam kandungan hadist tadi maka kita mendapatkan bahwa antara kepala keluarga dan kepala rumah tangga merupakan dua makna dan dua posisi yang berbeda dan disandang oleh dua orang yang berbeda. Jika merujuk pada hadist tersebut maka suami merupakan kepala keluarga yang bertanggung jawab atas keseluruhan anggota keluarga yang ada, sedangkan istri adalah kepala rumah tangga yang bertanggung jawab atas urusan rumah tangga. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jadi sebenarnya antara kepala keluarga dan kepala rumah tangga adalah dua makna dan dua fungsi yang berbeda. Kepala keluarga merupakan peran dari seorang suami yang bertanggung jawab atas keseluruhan keluarga, sedangkan kepala keluarga merupakan posisi yang difungsikan oleh seorang istri untuk mengurus masalah-masalah rumah tangga. Perbedaan kedudukan tersebut ditegaskan dalam surat At Tahrim ayat 6 " Hai orang-orang yang beriman lindungilah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu..." Suami sebagai kepala keluarga memiliki tanggung jawab untuk menyelamatkan dan melindungi keseluruhan anggota keluarga dari api neraka, artinya suami sebagai kepala keluarga merupakan orang yang mengarahkan dan memimpin seluruh anggota keluarga untuk beriman kepada Allah. Sedangkan istri sebagai kepala rumah tangga merupakan "ratu rumah tangga" yang mempunyai tanggung jawab untuk membangun dan mengelola suasana rumah tangga yang nyaman dan aman serta kondusif untuk menumbuhkan rasa kasih sayang sesama anggota keluarga dan menumbuhkan suasana yang kondusif untuk tumbuhnya iman dari setiap anggota keluarga yang akan diperankan oleh sosok ayah (suami).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;JIka kita tengok kehidupan keluarga di Jepang mereka telah mengaplikasikan konsep kepala rumah tangga dan kepala keluarga yang sumbernya dari Islam itu. Di masyarakat Jepang, ibu merupakan kepala rumah tangga yang wajib dihormati oleh setiap anggota keluarga dalam menjalankan wewenangnya mengatur rumah tangga. Jika seorang anak mau tidur atau pun keluar rumah mereka minta ijin ke ibu sebagai kepala rumah tangga, ataupun mereka mau mandi anak-anak akan meminta ijin kepada ibu mereka. Bahkan pembelanjaan uang gaji suaminya yang mengatur adalah istrinya, maksudnya istri yang membuat anggaran dan alokasi kebutuhan rumah tangga secara umum, anggaran untuk anak-anak, dan anggaran untuk suaminya. Semua urusan dan keputusan yang berkaitan dengan masalah pengelolaan kebutuhan rumah menjadi tanggung jawab penuh dari seorang ibu. Tetapi untuk pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupan keluarga secara umum maka fungsi tersebut berada di tangan suami.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Karena sebagai kepala keluarga maka suami harus mampu membingkai seluruh kehidupan keluraganya dengan keimanan kepada Allah, sedangkan istri adalah yang membangun isi atas bingkai tadi. Sehingga dengan pembedaaan peran dan fungsi bahwa suami adalah kepala keluarga dan istri adalah sebagai kepala rumah tangga maka akan bisa diciptakan sinergisitas atas keduanya, dan setiap pihak akan bisa saling menghormati peran dan tanggung jawabnya sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Sebagai suami kita harus menghormati kedudukan istri kita sebagai kepala rumah tangga yang memiliki wewenang penuh untuk mengelola kehidupan rumah tangga, sedangkan suami sebagai pemimpin keluarga yang akan memberikan bingkai dan arah kemana biduk keluarga akan di arahkan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3107325298676153460-5175057082401592928?l=keluarganoven.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keluarganoven.blogspot.com/feeds/5175057082401592928/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3107325298676153460&amp;postID=5175057082401592928' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/5175057082401592928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/5175057082401592928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keluarganoven.blogspot.com/2008/12/antara-kepala-keluarga-dan-kepala-rumah.html' title='ANTARA KEPALA KELUARGA DAN KEPALA RUMAH TANGGA'/><author><name>NOVEN FAMILY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04975414083336455869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SPPIjZ6NUCI/AAAAAAAAAD4/uJA4w9xDuOw/S220/berempatkk.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3107325298676153460.post-3148698839625059726</id><published>2008-12-09T05:08:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T05:54:14.322-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><title type='text'>MENENTUKAN MOMENTUM MENIKAH</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Masalah besar bagi para bujangan adalah menentukan kapan waktu yang pas untuk menikah. Memang jika kita bertanya pada orang-orang yang telah menikah maka pasti jawabannya sulit untuk didefinisikan, maksudnya alasan mereka memutuskan menikah saat itu tidak bisa dijawab secara terstruktur. Sedangkan di sisi lain banyak para bujangan yang sampai saat ini belum menikah karena terbelunggu oleh indikator-indikator yang menjadikan mereka terbelenggu tidak bisa menikah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika kita melihat realita yang ada di kalangan para bujangan ada dua sisi ekstrem yang saling bertolak belakang. Sisi yang satu adalah kelompok para bujangan yang memiliki semangat menikah cukup tinggi, dalam benak mereka menikah adalah sesuatu yang indah, sesuatu yang menjanjikan kebahagian dalam hidup. Asumsi dan bayangan mereka tidaklah salah, cuman seringkali karena kurang proporsional dalam memandang pernikahan menjadikan mereka berpandangan simplikasi atas pernikahan, yang jika tidak diimbangai dengan pemahaman dan kesiapan mental yang baik akan menjadikan bahtera rumah tangga menjadi goyang karena tidak siap menghadapi suatu hal yang diluar dugaan sebelumnya. Sisi yang lain adalah kelompok para bujangan yang terlalu memandang bahwa pernikahan adalah sesuatu yang menyeramkan dan menakutkan, menikah adalah suatu pekerjaan berat. Dalam benak mereka dalam menikah dan hidup berumah tangga banyak terjadi masalah, karena itu mereka harus mempersiapkan diri secara matang agar tidak terjebak dalam masalah-masalah rumah tangga. Asumsi mereka bahwa kehidupan rumah tangga akan ada masalah adalah bukan hal yang salah, kesalahan mereka adalah terlalu menjadikan bahwa menikah adalah pekerjaan yang sulit, sehingga mendorong mereka membuat ukuran-ukuran kapan mereka harus menikah yang sulit dan lama dalam mencapainya, sehingga mereka lama tidak menikah-menikah karena merasa belum cukup bekal untuk menikah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebenarnya, ada dua ukuran utama yang menjadi dasar bagi setiap pemuda Islam untuk menentukan kapan waktu dan momentum yang tepat untuk menikah supaya tidak terjebak dalam dua sisi yang ekstrem tadi. Ukuran pertama adalah ukuran usia. Usia yang paling tepat untuk menikah adalah usia 24 tahun sampai dengan 28 tahun. Dalam range usia tersebut semangat dan tekad untuk menikah dari seseorang akan mengalami titik equilibrium. Artinya pada usia-usia tersebut seseorang akan bisa berpikir secara bijak antara perasaan untuk menyegerakan menikah dan kedewasaan seseorang dalam memandang pernikahan itu. Artinya dalam range usia tersebut merupakan usia dimana seseorang memiliki semangat untuk menikah dan memiliki pandangan yang seimbang terhadap pernikahan dan kehidupan berumah tangga. Sebab begitu seseorang memasuki usia 29 sampai 35 tahun maka orang tersebut akan hilang semangat untuk menikah dan semakin jelek presepsinya terhadap menikah, idealismenya mulai luntur sehingga dalam mencari pasangan pun asal dapat dsb. Sedangkan jika usia di bawah 24 tahun maka nafsu dan semangat untuk menikah lebih dominan sehingga seringkali mengabaikan kesiapan mental dalam menghadapai persoalan hidup setelah menikah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ukuran kedua yang bisa dijadikan momentum seseorang menikah adalah hukum nikah yang dikenakan pada diri seseorang. Hukum nikah yang dikenakan pada diri seseorang bisa bersifat wajib, sunnah, mubah, dan haram. Seseorang wajib menikah jika dengan menikah tersebut menjadikan dia terhindar dari perbuatan dosa besar setelah segala macam cara untuk menghindari dosa besar itu tidak bisa mencegahnya dari perbuatan dosa besar maka menikah adalah wajib bagi orang tersebut. Jika ada seorang pemuda yang telah berupaya menjaga dirinya dari dosa nafsu seks (birahi) dengan cara berpuasa sunnah ternyata tetap tidak bisa menghindarikan diri dari dosa maka dia wajib untuk menikah. Tetapi yang perlu dicatat bahwa katagori wajib ini jika segala upaya telah dilakukan baru kemudian dapat disimpulkan wajib menikah bagi dirinya. Karena seringkali seseorang karena sangat kepingin nikah padahal dia masih bisa mencegah berbuat dosa dengan cara yang lain menjadikan hukum wajib menjadi salah satu alasan dia untuk menyegerakan menikah, padahal secara realita mungkin dia belum masuk katagori wajib. Karena itu jika seorang pemuda sudah berpenghasilan tetapi sering melakukan perbuatan dosa atau tidak mampu menjaga diri dari perbuatan dosa maka hukumnya wajib baginya untuk menikah. Seseorang masuk dalam kataqori sunnah dalam menikah jika secara realita dia bisa menjaga diri dari perbuatan dosa tetapi secara kondisi dia telah memiliki bekal yang cukup untuk menikah, seperti dia sudah bisa berpenghasilan dan secara umur tidak ada masalah maka akan mendatangkan kebaikan jika dia menikah segera. Dan seseorang akan masuk dalam katagori mubah jika dia mampu menjaga diri dari perbuatan dosa dan secara umur sudah cukup serta tidak ada hal-hal lain yang menjadikan perbedaan antara menyegerakan atau menunda menikah maka dia masuk dalam katogori mubah. Dan seseorang bisa masuk dalam katagori haram untuk menikah jika menikahnya dia akan membawa keburukan baik bagi dirinya maupun orang yang akan dinikahi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jadi dengan mengukur berapa umur anda sekrang saat ini dan bagaimana kondisi anda saat ini apakah termasuk katagori wajib, sunnah, mubah bahkan haram untuk menikah akan dapat menentukan kapan momentum yang tepat untuk melaksankan pernikahan. Setiap orang memiliki kondisi yang berbeda-beda, tetapi dengan ukuran umur dan sebab-sebab jatuhnya hukum menikah bagi seseorang akan bisa mengukur kapan momentum yang tepat untuk menikah, jika masuk dalam katagori wajib maka saat ini juga anda harus segera menikah, jika dalam kataqori sunnah maka janganlah menunda terlalu lama, jika masuk dalam katagori mubah maka anda dapat menunda beberapa lama sampai anda masuk dalam katagori sunnah dan wajib. Dan jika anda masuk katagori haram maka jangan anda lakukan pernikahan itu. Jadi kapan momentum menikah itu akan anda tentukan...?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3107325298676153460-3148698839625059726?l=keluarganoven.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keluarganoven.blogspot.com/feeds/3148698839625059726/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3107325298676153460&amp;postID=3148698839625059726' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/3148698839625059726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/3148698839625059726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keluarganoven.blogspot.com/2008/12/menentukan-momentum-menikah.html' title='MENENTUKAN MOMENTUM MENIKAH'/><author><name>NOVEN FAMILY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04975414083336455869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SPPIjZ6NUCI/AAAAAAAAAD4/uJA4w9xDuOw/S220/berempatkk.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3107325298676153460.post-5183652408066178192</id><published>2008-11-28T01:33:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T04:02:32.089-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kehidupan Keluarga'/><title type='text'>COOKING WITH LOVE</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Memasak bagi sebagian orang adalah suatu yang mengasyikkan. Bahkan bisa menjadi hobi. Namun bagi sebagian yang lain, memasak adalah sesuatu yang sulit dan rumit untuk dilakukan. Berkutat dengan bumbu dapur yang sangat banyak dan membingungkan menjadi hal yang berat bagi orang yang tidak suka memasak.Sebagai seorang muslimah, mau tidak mau kita harus bisa memasak. Minimal masakan tradisional untuk makan kita sehari-hari. Sudah cukup ketika kita masih kuliah atau beraktivitas di kampus, kita tidak memperdulikan masalah-masalah seperti ini. Mungkin dianggap remeh. Namun saat menjadi seorang istri, memasak dan mempelajarinya menjadi kebutuhan bagi muslimah setelah berumah tangga, apalagi jika tak punya khodimat alias tukang masak.Ada beberapa hal yang harus diingat berkaitan dengan memasak:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Pertama,&lt;/strong&gt; bahwa memasak membutuhkan kecerdasan, pengetahuan yang luas, dan ingatan yang kuat. Karena memasak tentu tidak asal mencampurkan semua bahan kedalam panci. Atau tidak sembarang menumis. Kita juga perlu belajar bagaimana menggambarkan rasa. Jika daging dimasak bersama wortel dan kol apakah rasa yang dihasilkan, bumbu apa saja yang cocok untuk memasak daging. Ibu kita mungkin pernah mengajarkan kita memasak, dan mengatakan bahwa ada ‘bumbu dasar’ dalam memasak. Bumbu inilah yang harus kita kuasai dan pahami karena akan menjadi dasar untuk memasak masakan apa saja. Maka dengan demikian kita memasak tidak akan tergantung pada buku masakan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Kedua,&lt;/strong&gt; memasak akan menjadi suatu kewajiban bagi seorang istri jika suami menginginkan. Memang ada sebagian laki-laki yang cuek dengan kemampuan istrinya dalam hal memasak, namun ingat ada juga suami-suami yang menuntut agar istrinya bisa memasak.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Ketiga,&lt;/strong&gt; memasak membutuhkan kondisi fisik yang kuat. Karena kita tidak dapat memasak dengan baik jika kita lemah. Lihatlah chef yang ada di restoran hotel, atau tukang mie dan nasi goreng keliling biasanya mereka adalah laki-laki. Karena memasak ternyata melelahkan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Keempat&lt;/strong&gt;, memasak membutuhkan kekuatan mental dan ruhiyah yang stabil. Tentu hal ini bukan diada-adakan. Memasak itu tidak mungkin dengan hati yang “&lt;em&gt;gondok&lt;/em&gt;”, atau sedang marah. Atau bahkan memasak sambil menangis, atau bahkan sedang tertawa terbahak-bahak. Rasa masakan akan terasa hambar, keasinan, atau kurang pass jika kita memasak dengan hati yang gundah (tidak ikhlas) sebab hati yang “kotor” akan menyebabkan kita sulit untuk menggambarkan rasa masakan kita. Memasak membutuhkan ketenangan hati dan keriangan. Dan hal itu didapat ketika kondisi iman kita sedang baik, karena memasak membutuhkan kesabaran dan keikhlasan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Karena apalah arti masakan yang nikmat dan lezat, bila kita memasak dengan hati terpaksa dan tertekan, yang menyantap makanan kitapun akan merasa tidak nyaman dan masakan kita tidak dapat dinikmati. Jadi ibu – ibu harus &lt;em&gt;cooking with love&lt;/em&gt; !, memasak dengan cinta, supaya suami kita makin sayang istri saat menyantap masakan kita, karena masakan kita akan menjadi “asupan gizi cinta” bagi suami dan anak – anak jika kita memasaknya dengan rasa cinta yang tulus dan ikhlas untuk memperoleh keridhaan Allah dan suami kita….Selamat memasak!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3107325298676153460-5183652408066178192?l=keluarganoven.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keluarganoven.blogspot.com/feeds/5183652408066178192/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3107325298676153460&amp;postID=5183652408066178192' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/5183652408066178192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/5183652408066178192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keluarganoven.blogspot.com/2008/11/cooking-with-love.html' title='COOKING WITH LOVE'/><author><name>NOVEN FAMILY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04975414083336455869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SPPIjZ6NUCI/AAAAAAAAAD4/uJA4w9xDuOw/S220/berempatkk.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3107325298676153460.post-4652337498691002453</id><published>2008-11-28T01:32:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T04:04:52.112-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kehidupan Suami Istri'/><title type='text'>ISTRI ≠ PEMBANTU RUMAH TANGGA..???!!!</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Judul tersebut merupakan tema kajian yang akan diselenggarakan oleh tim warnaislam.com bersama Ust. Syarwat, Lc. Judul tersebut bagi saya cukup menarik perhatian saya, dan secara substantive atas judul tersebut saya sepakat, cuman disisi lain saya merasa ada sesuatu hal yang harus diantisipasi oleh suami istri atau calon suami atau calon istri, lebih-lebih dari kaum istri (hawa) setelah mengikuti kajian tersebut karena bisa menimbulkan ekses negative yaitu menimbulkan masalah baru.dalam hubungan suami istri dan menimbulkan presepsi yang berlebihan dari para kaum hawa atas peran istri.&lt;br /&gt;Saya mencoba menduga-duga maksud dan tujuan kenapa tema tersebut diambil, menurut saya tema tersebut diangkat oleh panita bisa jadi berangkat dari fenomena dan realita yang ada bahwa istri seakan-akan menjadi pembantu rumah tangga karena mengurus semua keperluan rumah tangga mulai mencuci, memasak, menyetrika, merawat anak, melayani bayi, melayani suami dlll, persis seperti profesi pembantu rumah tangga yang mengurus seluruh kebutuhan rumah tangga sendirian, dan baru tidur setelah semua selesai, bahkan mungkin lebih rendah dari seorang pembantu karena juga harus melayani suami dari sisi “bathin”. Realitas itu memang mungkin benar adanya, sehingga dengan kajian tersebut panitia ingin membangkitkan kesadaran para suami dan kesadaran para istri, yaitu istri bukanlah pembantu rumah tangga yang harus mengurus semua keperluarn rumah tangga. Dari sisi tersebut saya sepakat, karena memang saya memahami sendri realitas di masyarkat bahkan di kalangan aktivis da’wah pun ada presepsi bahwa pekerjaan rumah tangga adalah tanggung jawab istri, makanya dulu sewaktu saya masih bujangan dan sering bercanda dengan temen-temen saya jika menggoda ada seorang ikhwan bujangan yang udah punya rumah, dan punya perabotan rumah tangga lengkap tapi belum beristri maka kita pasti menggoda dengan mengatakan “wah tinggal cari operatornya nih”, meskipun itu gurauan tetapi kata-kata cari operatornya akan dinisbahkan dengan cari istri, karena istri identik dengan pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan rumah tangga identik dengan peran istri. Sebenarnya pun dalam Islam tugas utama istri bukan sekedar menjadi pengurus rumah tetapi punya peran pendidikan dan sosial serta da’wah, sehingga jika kita lihat dalam dalam surah An-Nur tentang tata cara pergaulan dalam rumah disebutkan dengan istilah hamba sahaya, yang sesungguhnya hamba sahaya itu adalah pembantu rumah tangga dalam istilah sekarang. Jadi saat itu pekerjaan-pekerjaan rumah tangga dilakukan oleh para hamba sahaya. Dari sisi tersebutlah saya sepakat atas tema kajian tersebut.&lt;br /&gt;Cuman saya melihat jika para istri memahami persoalan tersebut secara letterleg sudut pandang fiqih maka akan menjadi boomerang tersendiri bagi para istri. Apa itu, yaitu lunturnya rasa cinta suami kepada istri. Kekwatiran saya selepas kajian tersebut adalah para istri akan berontak dan tidak mau lagi mengerjakan pekerjaan rumah tangga serta menyerahkan semuanya kepada pembantu, maka jika hal tersebut terjadi maka yang akan muncul adalah prahara rumah tangga baru.&lt;br /&gt;Yang harus dipahami adalah adanya naluri seorang suami yang ingin dilayani oleh istrinya. Coba tengok banyak kasus perceraian dan perselingkuhan yang terjadi akibat para suami merasa istrinya sudah tidak bisa melayaninya dengan baik. Saya sering melihat temen-temen kantor saya sangat merasa bangga jika mereka makan bekal buatan istri mereka saat makan siang, yang mereka bawa dari rumah. Meski lauknya sederhana cuman karena yang memasakan adalah orang-orang yang mereka cintai maka semangatnya beda. Saya sendiri pun merasa bangga jika mengundang orang untuk makan di rumah saya dan masakannya dimasak langsung oleh istri saya, rasanya tuh benar-benar mantap karena merasa ada yang bisa saya banggakan kepada tamu saya. Saya pun merasa nyaman dengan baju hasil strikaan istri saya jika saya bandingkan dengan memakai baju hasil setrikaan laundry, apalagi saat dipuji temen kantor karena setrikaan istri dinilai rapi. Lalu gimana kalau para istri itu tidak mau mengerjakan sesuatu yang sifatnya melayani para suaminya…? Saya rasa selama kegiatan atau aktivitas melayani istri tersebut dilandasi dengan rasa ukhuwah dan cinta maka sebenarnya tidak ada yang merasa dirugikan. Meskipun istri saya melakukan semua kegiatan rumah tangga yang ada saya tidak pernah menganggap istri saya adalah pembantu, karena itu jika istri saya merasa capek atau lelah ya saya tidak memaksa untuk melakukan pekerjaan rumah tangga dan bahkan saya menawarkan diri untuk menggantikannya, begitu pula kadangkala istri saya memaksakan diri untuk melayani saya meskipun sekedar bikin teh panas meskipun saat itu saya tidak memintanya bahkan saya menolaknya, tapi untuk menghargai jerih payah dan niat baiknya serta memberikan kesempatan istri saya untuk berbuat baik akhirnya saya terima saja teh buatan istri saya itu. Bahkan seringkali istri saya memaksakan diri untuk memasak makanan walaupun dia sangat capek sekali, karena itu dia ingin lakukan untuk mewujudkan rasa cintanya, maka sebagai suami pun kita harus memberikan apresiasi. Karena sesungguhnya bagi sebagian para istri pelayanan kepada suami adalah bentuk perhatian istri dan wujud cinta-nya pada suami. Jadi sebenarnya selama pekerjaan istri dalam melakukan pekerjaan – pekerjaan rumah tangga dalam niatan untuk wujudakan rasa cinta dan ukhuwah maka presepsi istri adalah pembantu tidak akan pernah muncul dalam benak seorang suami.&lt;br /&gt;Oleh karena itu agar kesan bahwa suami seolah-olah menganggap istri adalah pembantu rumah tangga bisa dihilangkan jika :&lt;br /&gt;landasi semuanya dengan rasa cinta dan ukhuwah&lt;br /&gt;suami harus menyediakan sarana dan prasarana yang bisa meringankan pekerjaan rumah tangga jika memang suami tidak mampu mencarikan seorang pembantu rumah tangga&lt;br /&gt;suami harus siap membantu istri dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga sebagai wujud rasa ta’awun dan cinta kepada istri&lt;br /&gt;pilah-pilah dan sepakati bersama, pekerjaan apa saja yang bisa dilakukan oleh oleh orang lain dan pekerjaan rumah tangga apa yang harus di tangani langsung oleh istri sebagai sarana istri untuk mengaktualisasikan rasa cinta dan sayang kepada suami&lt;br /&gt;Jadi bagi saya judul kajian itu harus diberi catatan khusus bahwa itu sebagai bahan tadzkirah untuk para suami yang selama ini terlalu membebankan berlebihan pekerjaan rumah tangga kepada istri dan perlu diberikan pemahaman kepada para istri bahwa melayani suami dan melaksanakan pekerjaan rumah tangga bisa dijadikan sebagai saran aktualisasi rasa cinta kepada suami&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3107325298676153460-4652337498691002453?l=keluarganoven.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keluarganoven.blogspot.com/feeds/4652337498691002453/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3107325298676153460&amp;postID=4652337498691002453' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/4652337498691002453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/4652337498691002453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keluarganoven.blogspot.com/2008/11/istri-pembantu-rumah-tangga.html' title='ISTRI ≠ PEMBANTU RUMAH TANGGA..???!!!'/><author><name>NOVEN FAMILY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04975414083336455869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SPPIjZ6NUCI/AAAAAAAAAD4/uJA4w9xDuOw/S220/berempatkk.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3107325298676153460.post-5299600639292183431</id><published>2008-11-28T01:27:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T04:05:17.698-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kehidupan Suami Istri'/><title type='text'>ISTRIKU....SAUDARAKU</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pernikahan merupakan sebuah perikatan resmi dalam syariah Islam yang melahirkan hak dan kewajiban bagi seorang istri atau suami. Semua hak dan kewajiban suami itu semua sudah diatur oleh syariat Islam yang termaktub dalam Al-Qur’an dan As-Sunah. JIka kita melihat pernikahan dari sisi hak dan kewajiban suami atau istri yang lahir dari sebuah akad pernikahan semata maka seakan-akan suami memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada istri. Hal tersebutlah yang kemudian menimbulkan kritikan pedas dari para kaum feminis, dan menjadi sorotan tajam dari para penganut paham gender, bahwa pernikahan dalam Islam menimbulkan hak dan kewajiban yang tidak menguntungkan bagi seorang wanita dan seolah-olah Islam merendahkan kedudukan wanita dalam struktur keluarga. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh salah presepsi dari para suami bahwa memang benar suami mempunyai kedudukan tinggi dalam struktur keluarga, yang sebenarnya presepsi itu ditanamkan oleh budaya-budaya lokal yang melingkupi kehidupan para suami itu, jadi sebenarnya Islam tidak pernah memberikan kedudukan yang lebih tinggi suami atas istri, keduanya memiliki kedudukan yang sama, Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah 187 : “…..mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka…..”. Maka sesungguhya Islampun mengakaui kesamaan gender antara suami dan istri, hubungan suami istri merupakan hubungan saling melengkapi.&lt;br /&gt;Sebenarnya hukum (fiqih) pernikahan (munakahat) hanya merupakan suatu hokum khusus yang dilingkup suatu hukum yang bersifat universal yaitu fiqih ukhuwah. Artinya, dalam hubungan suami istri itu ada hak-hak ukhuwah yang harus ditegakan. Istri bagi suami merupakan saudaranya seaqidah yang harus dipenuhi hak-hak sebagai seorang saudara. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Hujurat ayat 10 “ sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara….”, hubungan suami dan istri dalam lingkup yang lebih besar akan ada hubungan sesame mukmin yang bersaudara, maka istri adalah saudara mukmin bagi suami dan suami pun saudara mukmin bagi seorang Istri. Karena suami istri adalah saudara mukmin maka hak-hak dan kewajiban terhadapap saudara yang mukmin harus ditunaikan seperti ta’aruf, tafahum, ta’awun, takaful, dan itsar.&lt;br /&gt;Maka sesungguhnya jika rukun-rukun ukhuwah ditegakkan dalam hubungan suami-istri maka insyaallah tidak ada presepsi siapa melayani siapa atau siapa dilayani siapa tetapi, yang ada adalah semangat untuk saling melayani satu sama lain, sebagaimana tingkatan tertinggi dalam ukhuwah adalah itsar yaitu mengutamakan saudaranya daripada diri sendiri maka jika dibangun semangat tersebut maka insyaallah kasus KDRT oleh suami terhadap istri atau KDRT oleh istri terhadapa suami tidak akan terjadi.&lt;br /&gt;Jadi sesungguhnya istri kita adalah saudara mukmin kita yang memiliki hak untuk dipenuhi hak-hak ukhuwah sebagai seorang mukmin, insyaallah dengan semangat ukhuwah maka keharmonisan suami istri akan tetap terjaga, dengan semangat ukhuwah maka suami maupun istri saling menjaga perasaan satu dengan yang lain, senantiasa terpacu untuk saling memberi dan saling melayani yang terbaik, dan kesemuanya itu akan bermuara pada nilai ibadah atas hubungan suami istri tersebut, itulah keluarga muslim sesungguh….jadi jangan lupa bahwa istri kita adalah saudara kita maka penuhilah hak-hak saudaramu itu…&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3107325298676153460-5299600639292183431?l=keluarganoven.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keluarganoven.blogspot.com/feeds/5299600639292183431/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3107325298676153460&amp;postID=5299600639292183431' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/5299600639292183431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/5299600639292183431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keluarganoven.blogspot.com/2008/11/istrikusaudaraku.html' title='ISTRIKU....SAUDARAKU'/><author><name>NOVEN FAMILY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04975414083336455869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SPPIjZ6NUCI/AAAAAAAAAD4/uJA4w9xDuOw/S220/berempatkk.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3107325298676153460.post-8813640687720339145</id><published>2008-07-25T11:20:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T04:05:58.688-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kehidupan Suami Istri'/><title type='text'>NAFKAH ISTRI DAN HARTA ISTRI</title><content type='html'>Harta isteri adalah harta milik isteri, baik yang dimiliki sejak sebelum menikah, atau pun setelah menikah. Harta isteri setelah menikah yang terutama adalah dari suami dalam bentuk nafaqah (nafkah), selain juga mungkin bila isteri itu bekerja atau melakukan usaha yang bersifat bisnis.&lt;br /&gt;Khusus masalah nafkah, sebenarnya nafkah sendiri merupakan kewajiban suami dalam bentuk harta benda untuk diberikan kepada isteri. Segala kebutuhan hidup isteri mulai dari makanan, pakaian dan tempat tinggal, menjadi tanggungan suami.&lt;br /&gt;Dengan adanya nafkah inilah kemudian seorang suami memiliki posisi qawam (pemimpin) bagi isterinya, sebagaimana firman Allah SWT:&lt;br /&gt;الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ&lt;br /&gt;Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (QS. An-Nisa': 34)&lt;br /&gt;Namun yang seringkali terjadi, sebagian kalangan beranggapan bahwa nafkah suami kepada isteri adalah biaya kehidupan rumah tangga saja. Pemandangan sehari-harinya adalah suami pulang membawa amplop gaji, lalu semua diserahkan kepada isterinya.&lt;br /&gt;Cukup atau tidak cukup, pokoknya ya harus cukup. TInggallah si isteri pusing tujuh keliling, bagaimana mengatur dan menyusun anggaran belanja rumah tangga. Kalau isteri adalah orang yang hemat dan pandai mengatur pemasukan dan pengeluaran, suami tentu senang.&lt;br /&gt;Yang celaka, kalau isteri justru kacau balau dalam memanaje keuangan. Alih-alih mengatur keuangan, yang terjadi justru besar pasak dari pada tiang. Ujung-ujungnya, suami yang pusing tujuh keliling mendapati isterinya pandai membelanjakan uang, plus hobi mengambil kredit, aktif di arisan dan berbagai pemborosan lainnnya.&lt;br /&gt;Padahal kalau kita kembalikan kepada aturan asalnya, yang namanya nafkah itu lebih merupakan 'gaji' atau honor dari seorang suami kepada isterinya. Sebagaimana 'uang jajan' yang diberikan oleh seorang ayah kepada anaknya.&lt;br /&gt;Adapun kebutuhan rumah tangga, baik untuk makan, pakaian, rumah, listrik, air, sampah dan semuanya, sebenarnya di luar dari nafkah suami kepada isteri. Kewajiban mengeluarkan semua biaya itu bukan kewajiban isteri, melainkan kewajiban suami.&lt;br /&gt;Kalau suami menitipkan amanah kepada isterinya untuk membayarkan semua biaya itu, boleh-boleh saja. Tetapi tetap saja semua biaya itu belum bisa dikatakan sebagai nafkah buat isteri. Sebab yang namanya nafkah buat isteri adalah harta yang sepenuhnya menjadi milik isteri.&lt;br /&gt;Kira-kira persis dengan nafkah di awal sebelum terjadinya akad nikah, yaitu mahar atau maskawin. Kita tahu bahwa sebuah pernikahan diawali dengan pemberian mahar atau maskawin. Dan kita tahu bahwa mahar itu setelah diserahkan akan menjadi sepenuhnya milik isteri.&lt;br /&gt;Suami sudah tidak boleh lagi meminta mahar itu, karena mahar itu statusnya sudah jadi milik isteri. Kalau seandainya isteri dengan murah hati lalu memberi sebagian atau seluruhnya harta mahar yang sudah 100% menjadi miliknya kepada suaminya, itu terserat kepada dirinya. Tapi yang harus dipastikan adalah bahwa mahar itu milik isteri.&lt;br /&gt;Sekarang bagaimana dengan nafkah buat isteri?&lt;br /&gt;Kalau kita mau sedikit cermat, sebenarnya dan pada hakikatnya, yang disebut dengan nafkah buat isteri adalah harta yang sepenuhnya diberikan buat isteri. Dan kalau sudah menjadi harta milik isteri, maka isteri tidak punya kewajiban untuk membiayai penyelenggaraan rumah tangga. Nafkah itu 'bersih' menjadi hak isteri, di luar biaya makan, pakaian, bayar kontrakan rumah dan semua kebutuhan sebuah rumah tangga.&lt;br /&gt;Mungkin Anda heran, kok segitunya ya? Kok matre' banget sih konsep seorang isteri dalam Islam?&lt;br /&gt;Jangan heran dulu, kalau kita selama ini melihat para isteri tidak menuntut nafkah 'eksklusif' yang menjadi haknya, jawabnya adalah karena para isteri di negeri kita ini umumnya telah dididik secara baik dan ditekankan untuk punya sifat qana'ah.&lt;br /&gt;Saking mantabnya penanaman sifat qana'ah itu dalam pola pendidikan rumah tangga kita, sampai-sampai mereka, para isteri itu, justru tidak tahu hak-haknya. Sehingga mereka sama sekali tidak mengotak-atik hak-haknya.&lt;br /&gt;Memandang fenomena ini, salah seorang murid di pengajian nyeletuk, "Wah, ustadz, kalau begitu hal ini perlu tetap kita rahasiakan. Jangan sampai isteri-isteri kita sampai tahu kalau mereka punya hak nafkah seperti itu."&lt;br /&gt;Yang lain menimpali, "Setuju stadz, kalau sampai isteri-isteri kita tahu bahwa mereka punya hak seperti itu, kita juga ntar yang repot nih ustadz. Jangan-jangan nanti mereka tidak mau masak, ngepel, nyapu, ngurus rumah dan lainnya, sebab mereka bilang bahwa itu kan tugas dan kewajiban suami. Wah bisa mejret nih kita-kita, ustadz."&lt;br /&gt;Yang lain lagi menambahi, "Benar ustadz, bini ane malahan sudah tahu tuh masalah ini. Itu semua kesalahan ane juga sih awalnya. Sebab bini ane tuh, ane suruh kuliah di Ma'had A-Hikmah di Jalan Bangka. Rupanya materi pelajarannya memang sama ame nyang ustadz bilang sekarang ini. Cuman bini ane emang nggak tiap hari sih begitu, kalo lagi angot doang."&lt;br /&gt;"Tapi kalo lagi angot, stadz, bah, ane jadi repot sendiri. Tuh bini kagak mao masak, ane juga nyang musti masak. Juga kagak mau nyuci baju, ya udah terpaksa ane yang nyuciin baju semua anggota keluarga.Wii, pokoknya ane jadi pusing sendiri karena punya bini ngarti syariah."&lt;br /&gt;Menjawab 'keluhan' para suami yang selama ini sudah terlanjur menikmati ketidak-tahuan para isteri atas hak-haknya, kami hanya mengatakan bahwa sebenarnya kita sebagai suami tidak perlu takut. Sebab aturan ini datangnya dari Allah juga. Tidak mungkin Allah berlaku berat sebelah.&lt;br /&gt;Sebab Allah SWT selain menyebutkan tentang hak-hak seorang isteri atas nafkah 'eksklusif', juga menyebutkan tentang kewajiban seorang isteri kepada suami. Kewajiban untuk mentaati suami yang boleh dibilang bisa melebihi kewajibannya kepada orang tuanya sendiri.&lt;br /&gt;Padahal kalau dipikir-pikir, seorang anak perempuan yang kita nikahi itu sejak kecil telah dibiayai oleh kedua orang tuanya. Pastilah orang tua itu sudah keluar biaya besar sampai anak perawannya siap dinikahi. Lalu tiba-tiba kita kita datang melamar si anak perawan itu begitu saja, bahkan kadang mas kawinnya cuma seperangkat alat sholat tidak lebih dari nilai seratus ribu perak.&lt;br /&gt;Sudah begitu, dia diwajibkan mengerjakan semua pekerjaan kasar layaknya seorang pembantu rumah tangga, mulai dari shubuh sudah bangun dan memulai semua kegiatan, urusan anak-anak kita serahkan kepada mereka semua, sampai urusan genteng bocor. Sudah capek kerja seharian, eh malamnya masih pula 'dipakai' oleh para suaminya.&lt;br /&gt;Jadi sebenarnya wajar dan masuk akal kalau untuk para isteri ada nafkah 'eksklusif' di mana mereka dapat hak atas 'honor' atau gaji dari semua jasa yang sudah mereka lakukan sehari-hari, di mana uang itu memang sepenuhnya milik isteri. Suami tidak bisa meminta dari uang itu untuk bayar listrik, kontrakan, uang sekolah anak, atau keperluan lainnya.&lt;br /&gt;Dan kalau isteri itu pandai menabung, anggaplah tiap bulan isteri menerima 'gaji' sebesar sejuta perak yang utuh tidak diotak-atik, maka pada usia 20 tahun perkawinan, isteri sudah punya harta yang lumayan 20 x 12 = 240 juta rupiah.&lt;br /&gt;Lumayan kan?&lt;br /&gt;Nah hartai tu milik isteri 100%, karena itu adalah nafkah dari suami. Kalau suami meninggal dunia dan ada pembagian harta warisan, harta itu tidak boleh ikut dibagi waris. Karena harta itu bukan harta milik suami, tapi harta milik isteri sepenuhnya. Bahkan isteri malah mendapat bagian harta dari milik almarhum suaminya lewat pembagian waris.&lt;br /&gt;(Disalin dari rubrik konsultasi eramuslim.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3107325298676153460-8813640687720339145?l=keluarganoven.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keluarganoven.blogspot.com/feeds/8813640687720339145/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3107325298676153460&amp;postID=8813640687720339145' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/8813640687720339145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/8813640687720339145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keluarganoven.blogspot.com/2008/07/nafkah-istri-dan-harta-istri.html' title='NAFKAH ISTRI DAN HARTA ISTRI'/><author><name>NOVEN FAMILY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04975414083336455869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SPPIjZ6NUCI/AAAAAAAAAD4/uJA4w9xDuOw/S220/berempatkk.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3107325298676153460.post-2597373843027556030</id><published>2008-06-17T15:02:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T04:54:45.608-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarbiyah Keluarga'/><title type='text'>PERAN BESAR AYAH DALAM PENDIDIKAN ANAK</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Selama ini kebanyakan masyarakat menganggap bahwa peran pendidikan ada di tangan ibu semata, sehingga kita seperti kehilangan figur seorang ayah yang memiliki kemampuan untuk mentarbiyah anak-anak dan keluarganya. Sosok ayah terlalu sering dimunculkan dalam figur keperkasaan dan kepahlawanan, sehingga peran ayah dalam pendidikan sedikit dibahas dan minim menjadi bahan kajian masyarakat sekarang. Minimnya figur-figur ayah yang sukses dalam mendidik anak yang diungkap dalam sirah Rasulullah dan para sahabat semakin memperkuat berkembangnya persepsi bahwa pendidikan anak-anak adalah tanggung jawab sang ibu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tak ada yang menafikan peran - peran besar yang berada di tangan seorang ibu bagi masa depan anak-anaknya. Ibu bagaimanapun mempunyai pengaruh penting dalam kepribadian seorang anak sehingga mereka bisa merasakan kenyamanan, keteguhan, dan kepercayaan diri yang kuat dalam menjalani kehidupannya. Lalu bagaimana peran ayah? Sebagian besar masyarakat cenderung berpandangan bahwa pengasuhan dan pendidikan anak adalah tugas ibu, sedangkan tugas ayah cukup bekerja dan mencukupi kebutuhan materi. Sang ayah sibuk bekerja sedangkan sang ibu sibuk mengurus anak di rumah.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagaimana pandangan Islam terhadap peran ayah dalam keluarga ? Ini pertanyaan unik dan penting untuk dikaji lebih dalam. Karena ternyata sejarah hidup para ulama besar dan para salafushalih umumnya dilatarbelakangi sentuhan pendidikan yang diberikan ayahnya. Bahkan dalam Al-Qur'an pun tidak ada satupun dialog antara anak dan orang tua mewakili ibu, yang ada justru dialog antara ayah dan anak, kisah seorang nabi pun yang diasuh ibunya sejak kecil yakni nabi Ismail as banyak menggambarkan dialog antara Nabi Ismail dengan sang ayah yaitu Nabi Ibrahim. Salah satu dialog antara Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail adalah dalam surat Shaffat ayat 102 "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu, Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintah kepadamu, Insayaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Jika membaca surat tersebut biasanya terbersit dalam pikiran kita tentang kandungan ayat ini adalah bagaimana kehebatan dan kekuatan tekad sang anak, Nabi Ismail, merespon mimpi yang disampaikan sang ayah Nabi Ibrhim. Umumnya pembahasan ayat ini fokus pada konteks pengorbanan Ismail sang anak demi memenuhi perintah Rabbnya. Tetapi sesungguhnya sudut pandang terhadap ayat ini masih penting untuk dikaji lebih dalam. Karena bagaimanapun sang anak tak bisa terdidik dan memiliki sikap yang begitu kuat begitu saja tampa ada sentuhan pendidikan dan pembinaan dari orang tuannya. Dalam hal ini Nabi Ibrahim terbukti telah berhasil menanamkan pendidikan tauhid yang agung dalam jiwa sang anak. Dan Ismail telh membuktikan bagaimana hasil pendidikan sang ayah dalam sikapnya yang rela berkorban apapun demi terlaksanannya perintah Allah.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ayah merupakan sosok penting dalam bangunan umat Dalam sebuah keluarga, ayah adalah salah satu batu bata yang menopang bangunan umatIslam. Jika para ayah berhasil menunaikan misinya dalam keluarga, akan kokohlah bangunan umat Islam dalam berbagai bidang kehidupan. Sebaliknya sikap abai ayah dalam menjalankan misinya dalam keluarga maka akan lemah dan rapuhnya bangunan umat ini. Ada banyak peran ayah dalam Islam yang harus ditunaikan dengan benar sebagaimana hadist Rasulullah "setiap kalian adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas yang dipimpinnya, seorang amir adalah pemimpin atas rakyatnya dan dia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya, seorang laki-laki adalah pemimpin di keluarganya dan ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya, seorang perempuan adalah pemimpin di dalam rumah suaminya dan anaknya dan ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya, seorang hamba sahaya adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas yang dipimpinnya (HR Bukhari). Ayah yang telah menunaikan kewajibannya berarti telah terbebesar dari tanggung jawabnya di hadapan Allah pada hari kiamat kelak. Allah berfirman " Hai orang2 beriman lindungilah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Di sana ada malaikat yang kasar dan keras, tidak melanggar perintah Allah kepada mereka dan mereka melakukan apa yang diperintahkan. (QS At-Tahrim:6)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semua bentuk dan tata cara pendidikan Islam tentang hubungan sang ayah terhadap keluarganya juga dijelaskan dalam hadist Rasulullah. Karena jika kita mengetahui bahwa Rasulullah menikah dan mempunyai keluarga itu sebenarnya merupakan jawaban bagi orang yang berpaling dari kewajibannya kepada istri dengan alasan mengerahkan kegiatannya untuk berda'wah, karena Rasulullah seorang mujahid yang paling agung, dan juru da'wah yang paling mulia dia itu menikah dan juga membina rumah tangganya. Dalam salah satu hadist disebutkan Rasulullah tertawa bersama anak-anak. Rasulullah bahkan menggendong anak-anak dan sholat bersama anak-anak. Abu Qatadah menyebutkan bahwa Rasulullah shalat bersama kami sambil menggendong Umamah binti Zainab. Jika ia sujud diletakkannya Umamah, bila ia berdiri digendongnya. Adapula hadist dari An-Nasai yang berasal dari Abu Barrah Al-Ghifari bahwa Rasulullah shalat bersama sahabatnya lalu beliau sujud, ketika itu datanglah Hasan yang tertarik melihat Rasulullah sedang sujud, lalu naikla Hasan ke punggung Rasulullah yang mulia saat beliau sedang sujud. Usai shalat beliau meminta maaf kepada jamaah shalat dan mengatakan " Anakku tadi naik ke punggungku lalu aku kwatir bila aku bangun dan menyakitinya, maka akau menunggu sampai ia turun". Betapa tingginya perhatian Rasulullah terhadap anak-anak.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada dua tahapan penting yang harus dilalaui oleh seseorang untuk dapat menjalankan perannya sebagai ayah dalam pendidikan anak-anak dan keluarga. Tahapan pertama untuk dapat menjadi sosok ayah yang dapat menunaikan kewajibannya dalam pendidikan anak-anak dan keluarga adalah dimulai dari memilih perempuan yang akan menjadi calon pendamping hidupnya. Tahapan ini menjadi tahapan pertama dan utama bagi seseorang untuk dapat menjadi ayah yang memiliki peran sebagai pendidik anak-anak yang akan menjadi keturunannya, karena tahapan ini merupakan tahapan untuk menyiapkan lingkungan keluarga yang kondusif bagi pendidikan dan perkembangan anak-anak. Kondisi keluarga sangat menjamin perkembangan jiwa anak-anak. Kondisi keluarga yang penuh kasih sayang, penuh perhatian, dan kepedulian akan meyebabkan keluarga saling menghormati dan saling menghargai. Hubungan suami dan istri merupakan salah satu yang mewakili kondisi keluarga. Kondisi lingkungan keluarga yang mendukung tujuan pendidikan akan sangat membantu anak-anak untuk memiliki perilaku yang baik.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3107325298676153460-2597373843027556030?l=keluarganoven.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keluarganoven.blogspot.com/feeds/2597373843027556030/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3107325298676153460&amp;postID=2597373843027556030' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/2597373843027556030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/2597373843027556030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keluarganoven.blogspot.com/2008/06/peran-besar-ayah-dalam-pendidikan-anak.html' title='PERAN BESAR AYAH DALAM PENDIDIKAN ANAK'/><author><name>NOVEN FAMILY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04975414083336455869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SPPIjZ6NUCI/AAAAAAAAAD4/uJA4w9xDuOw/S220/berempatkk.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3107325298676153460.post-4925635217293971979</id><published>2008-06-12T07:55:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T10:41:45.861-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarbiyah Keluarga'/><title type='text'>LIKE FATHER LIKE SON</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Part One&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Seseorang lelaki datang menghadap amirul mukminin, Umar bin Khattab ra. Ia melaporkan kepada Rasulullah tentang kedurhakaan anaknya. Khalifah Umar lantas memanggil anak yang dikatakan durhaka itu dan mengingatkannya tentang bahaya durhaka kepada orang tua. Saat ditanya sebab kedurhakaannya dia mengatakan "wahai amirul mukminin, tidakah seorang anak mempunyai hak yang harus ditunaikan oleh orang tuanya?" "Ya", jawab amirul mukminin, "Apakah itu ?" tanya anak itu. Khalifah Umar menjawab "Ayah wajib memilihkan ibu yang baik buat anak-anaknya, memberi nama yang baik dan mengajarinya Al-Qur'an". Lantas sang anak tadi menjawab " Wahai amirul mukminin, tak satupun dari tiga perkara itu yang ditunaikan ayahku. Ibuku majusi, namaku Ja'lan, dan aku tidak pernah diajari membaca Al-Qur'an". Umar kemudian menoleh kepada ayah anak tadi dan mengatakan "Anda datang mengadukan kedurhakaan anakmu, ternyata anda telah mendurhakainya sebelum ia mendurhakaimu. Anda telah berlaku tidak baik terhadapnya sebelum ia berlaku tidak baik kepada anda".&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SFFBuPe1ChI/AAAAAAAAAC8/MTQDOWWNSPQ/s1600-h/ayah+iziz+hanif+alun.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5211018506529999378" style="WIDTH: 315px; CURSOR: hand; HEIGHT: 242px" height="187" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SFFBuPe1ChI/AAAAAAAAAC8/MTQDOWWNSPQ/s320/ayah+iziz+hanif+alun.JPG" width="216" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Part Two&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Siapa yang menjamin hidupmu sampai setelah waktu dhuhur ?" pertanyaan itu terlontar dari mulut seorang pemuda kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz, tokoh pemimpin yang bergelar khulafarasyidin kelima. Ketika itu khalifa yang terkenal keadilannya itu sangat tersentak dengan perkataan pemuda tadi. Terlebih saat itu ia sedang merebahkan dirinya untuk beristirahat setelah menguburkan khalifah sebelumnya, Sulaiman bin Malik. Tapi baru saja ia merebahkan tubuhnya, seorang pemuda berusia tujuh belasan tahunan mendatanginya dan mengatakan "Apa yang ingin engkau lakukan ya Amirul Mukminin ?" Khalifah Umar bin Abdul Aziz menjawab "Biarkan aku tidur sejenak. Aku sangat lelah dan capek, nyaris tak ada kekuatan yang tersisa". Namun pemuda tadi nampak tidak puas dengan jawaban tadi, ia bertanya lagi "Apakah engkau akan tidur sebelum mengembalikan barang yang diambil secara paksa kepada pemiliknya ya Amirul Mukminin ?" Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengatakan "Jika tiba waktu dhuhur saya bersama orang-orang akan mengembalikan barang-barang tersebut kepada pemiliknya" Jawaban itulah yang kemudian ditanggapi oleh pemuda tersebut "Siapa yang menjaminmu hidup sampai setelah waktu dhuhur ya Amirul mukminin ?". Pemuda itu bernama Abdul Malik, putera amirul mukminin itu sendiri, Umar bin Abdul Aziz, semoga Allah merahmati keduanya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kedua penggalan cerita tersebut diadopsi dari buku "Cinta di Rumah Hasan Al-Banna" karya Muhammad Lili Nur Aulia terbitan Pustaka Da'watuna 2007. Semoga cerita tersebut memberikan hikmah kepada para ayah dan calon para ayah tentang tugas, kewajiban dan peran bagi pendidikan dan pembentukan karakater bagi anak-anaknya. Tugas mendidik anak bukan tugas seorang ibu semata, tapi seorang ayah mempunyai tugas besar untuk membuat kerangka bagi pendidikan anak-anaknya, baru kemudian ibu mempunyai tugas untuk mengisi kerangka tadi. Bagaimana akhlak dan karakter anak kita sangat tergantung pada akhlak dan karakter ayahnya. Ada tiga tugas utama ayah dalam pendidikan anak-anak yaitu: memilihkan ibu yang baik, mengajarkan Al-Qur'an, dan memberikan contoh dan teladan yang baik. Tanah yang baik akan menumbuhkan tanaman-tanaman yang subur, tanah yang tidak baik akan menumbuhkan tanaman yang merana. Tugas ayah adalah menyiapkan tanah yang baik dalam keluarga agar anak-anak itu bisa tumbuh subur, dan tugas ibu adalah memelihara anak-anak itu supaya tumbuh dengan subur.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3107325298676153460-4925635217293971979?l=keluarganoven.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keluarganoven.blogspot.com/feeds/4925635217293971979/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3107325298676153460&amp;postID=4925635217293971979' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/4925635217293971979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/4925635217293971979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keluarganoven.blogspot.com/2008/06/like-father-like-son.html' title='LIKE FATHER LIKE SON'/><author><name>NOVEN FAMILY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04975414083336455869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SPPIjZ6NUCI/AAAAAAAAAD4/uJA4w9xDuOw/S220/berempatkk.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SFFBuPe1ChI/AAAAAAAAAC8/MTQDOWWNSPQ/s72-c/ayah+iziz+hanif+alun.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3107325298676153460.post-4788217326003951571</id><published>2008-06-09T04:21:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T10:41:45.990-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarbiyah Keluarga'/><title type='text'>MENJADI AYAH IDOLA</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SE0TsHenfqI/AAAAAAAAACE/f_iu618y0vQ/s1600-h/ayah+iziz+hanif+repro.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5209841992580169378" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SE0TsHenfqI/AAAAAAAAACE/f_iu618y0vQ/s320/ayah+iziz+hanif+repro.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya sangat terkejut, gembira, terharu, dan cemas saat mendengar jawaban anak pertama saya ketika saya tanya "Iziz mau jadi apa jika besar nanti ?". "Ingin jadi seperti ayah, pakai kacamata, dan baca buku" jawabnya penuh semangat. Rupanya dia ingat terus tentang cerita bahwa penyebab saya memakai kacamata adalah karena suka membaca buku sambil tidur. Karena itu sekarang dia suka baca buku, bahkan sebelum tidur dia harus baca buku walaupun dibacakan oleh bundanya.&lt;br /&gt;Saya gembira dan terharu mendengar jawaban anak saya itu, alhamdulillah berarti saya bisa menjadi ayah yang baik dan menjadi idola dihadapan anak sendiri. Tetapi muncul juga perasaan cemas di hati saya, karena menjadi ayah idola dihadapan anak-anak adalah beban berat bagi saya. Saya takut anak-anak tidak menyadari bahwa ayahnya adalah manusia biasa yang tidak bisa selalu sempurna dihadapan mereka. Selain itu dengan menjadi ayah idola bagi anak-anak menjadikan beban bagi saya untuk senantiasa memberikan contoh terbaik, dan berupaya untuk selalu tampil "sempurna".&lt;br /&gt;Diantara rasa bangga dan rasa cemas sebagai ayah idola anak-anak, maka rasa cemas lebih mendominasi dalam diri saya. Karena harapan yang besar atas kesempurnaan sebagai ayah bisa memunculkan kekecewaan mendalam bagi anak-anak. Jalan satu-satunya adalah memberikan kesadaran dan pemahaman bahwa sosok ayah adalah sebagai manusia biasa yang tak luput dari kelemahan dan kesalahan. Oleh karena itu saya senantiasa mengucapkan kata maaf kepada anak saya jika saya berbuat salah atau tidak mampu memenuhi keinginan dan harapan mereka walau sekecil dan sesederhana apapun kesalahan dan kelemahan itu. Saya berupaya menjelaskan kenapa saya salah atau kenapa saya tidak bisa memenuhi harapan mereka, dengan harapan ada kesadaran bahwa ayahnya juga bisa salah, dan sebagai manusia harus mengakui kesalahan dan kelemahan itu serta berupaya untuk memperbaikinya.&lt;br /&gt;Di balik rasa cemas itu, saya mencoba untuk mengambil sisi positif menjadi ayah idola bagi anak-anak. Sisi positf menjadi ayah idola adalah sebagai pemicu bagi seorang ayah untuk senantiasa menjadi inspirasi bagi anak-anaknya untuk berbuat kebaikan dan mencetak prestasi. Sehingga anak-anak adalah sumber inspirasi bagi diri seorang ayah untuk senantiasa berupaya berbuat kebaikan dan prestasi. Oleh karena itu menjadi ayah idola berarti menjadikan sosok ayah sebagai sumber inspirasi bagi anak-anak dalam berbuat dan bertindak dalam kebaikan, sekaligus menjadikan anak-anak sebagai sumber inspirasi bagi seorang ayah untuk senantiasa berbuat baik dan berprestasi dalam segala hal. Sehingga men-tarbiyah diri kita sebagai ayah secara sempurna sesungguhnya merupakan proses untuk mentarbiyah anak-anak kita. Itu semua akan terjadi jika kita mampu menjadi sosok ayah idola yaitu sosok ayah yang senantiasa menginspirasi anak-anaknya untuk berbuat baik, komitmen pada kebaikan, dan senantiasa untuk berprestasi dalam segala amal perbuatan&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3107325298676153460-4788217326003951571?l=keluarganoven.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keluarganoven.blogspot.com/feeds/4788217326003951571/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3107325298676153460&amp;postID=4788217326003951571' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/4788217326003951571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/4788217326003951571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keluarganoven.blogspot.com/2008/06/menjadi-ayah-idola.html' title='MENJADI AYAH IDOLA'/><author><name>NOVEN FAMILY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04975414083336455869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SPPIjZ6NUCI/AAAAAAAAAD4/uJA4w9xDuOw/S220/berempatkk.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SE0TsHenfqI/AAAAAAAAACE/f_iu618y0vQ/s72-c/ayah+iziz+hanif+repro.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3107325298676153460.post-4955642257960244141</id><published>2008-06-04T05:28:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T04:02:05.366-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kehidupan Keluarga'/><title type='text'>ANTARA SURABAYA - LUMAJANG ADA NILAI TARBIYAH</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Hampir dua tahun sudah saya terpaksa jalani kehidupan berpisah dengan anak dan istri, dan terpaksa harus pulang pergi Surabaya - Lumajang tiap dua pekan sekali. Saya katakan "terpaksa" karena memang kondisi saat ini bukanlah sesuatu yang ideal. Karena yang disebut dengan keluarga adalah adanya proses penyatuan anggota keluarga inti yaitu ayah, ibu, dan anak, jika tidak ada salah satu elemen itu dalam satu tempat utamanya ayah dan ibu maka tidak layak untuk disebut sebagai sebuah keluarga. Kondisi ini memang terpaksan harus kami jalani sampai kami bisa menemukan "peta hidup" yang jelas dalam mengarungi samudra kehidupan ini bersama-sama. Jadi kondisi ini bukan sesuatu yang kami inginkan, tapi karena kondisi dan keadaan yang menjadikan kami harus menjalani pola rumah tangga seperti ini, dan kami berusaha dan senantiasa berusaha sampai detik ini untuk merentas "peta hidup" yang jelas bagi kami.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jelas, perasaaan pertama yang muncul adalah SEDIH. Sedih karena harus berpisah dalam waktu sementara dengan anak dan istri, sedih pula karena tidak bisa optimal dalam memberikan kontribusi bagi da'wah. Terpisahnya kami jelas menghilangkan status kami sebagai warga masyarakat kurang lengkap, dan rasa hilangnya keanggotaan sebagai anggota masyarakat sangat saya rasakan sekali selama hidup sendiri di Surabaya. Sehingga optimalisasi peran untuk aktif dalam kegiatan masyarakat dan aktif melakukan pendidikan serta pencerahan keIslaman di masyarakat menjadi sangat terbatas. Hal tersebut jelas sangat tidak sesuai dengan kaidah kita sebagai da'i yaitu nahnu minhum wa nahnu maahum - kita adalah bagian dari masyarakat dan kita bekerja untuk masyarakat- menjadi tereliminasikan dari kehidupan saya di Surabaya. Mungkin untuk istri dan anak masih bisa berperan secara optimal dalam hal tersebut karena mereka berada dalam keluarga besar saya. Rasa sedih yang lain adalah tidak bisa optimal untuk memantau perkembangan anak-anak dari hari ke hari, dan sedikitnya waktu untuk bencengkrama dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di balik kesedihan-kesedihan itu ada hal lain yang bisa menghibur diri saya. Pertama, ternyata tidak hanya saya saja yang menjalani kehidupan seperti ini, banyak keluarga-keluarga lain yang memiliki problem seperti saya, bahkan mungkin kondisinya lebih sulit dari apa yang sedang saya hadapi. Sehingga kadang saya bisa sedikit menghibur diri jika membandingkan dengan orang-orang yang memiliki probelm seperti saya. Bayangkan ada yang harus bertemu dengan anak dan istrinya hanya dua bulan sekali atau lebih karena jauhnya tempat kerja dan tempat tinggal. Bahkan ada yang terjebak akan menjalani kehidupan berpisah itu agak permanen karena suami istri sama-sama kerja, dan salah satunya harus dimutasi ke luar kota, dan istrinya tidak bisa ikut serta karena terkendala aturan sehingga tidak jelas kapan bisa menyatu lagi. Tetapi ada juga yang sedikit memberi motivasi kepada saya yaitu ada keluarga yang menjalani kehidupan berpisah ini berpuluh-puluh tahun, suaminya kerja di Jakarta dan istrinya kerja di Jember, maka terpaksalah tiap minggu dia harus pulang balik Jakarta - Jember. Dan yang sedikit menghibur saya juga ternyata makin hari makin banyak orang yang memiliki masalah seperti saya yang harus hidup berpisah karena pekerjaan, tetapi tetap bagi saya orang-orang yang hidup seperti saya adalah kumpulan orang yang punya masalah. Dan saya yakin, saya masih punya harapan besar untuk bisa lebih dulu keluar dari masalah ini daripada mereka, insyaallah, biidznillah.....&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hal lain yang menghibur saya dibalik kesedihan ini adalah adanya nilai tarbiyah tersendiri bagi saya dan keluarga. Selama menjalani kehidupan ini ada ada nilai tarbiyah at-tadhiyah dan at-tajarrud dalam da'wah. Saya dan keluarga mencoba untuk memahami dan mengamalkan peringatan Allah dalam surat At-Taubah 24: "Katakanlah: jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu kwatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah yang lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasulnya, dan berjihad di jalan Allah, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq". Sungguh sangat terasa sekali perasaan yang digambarkan dalam surat At-Taubah tersebut yaitu setiap akhir pekan maka ujian itu akan muncul. Pada akhir pekan itu ada rasa rindu yang kuat untuk bertemu anak dan istri, tetapi di sisi lain ada seruan-seruan da'wah berupa agenda-agenda da'wah yang harus dilaksanakan, maka disitulah godaan setan dalam "rasa malas" mulai muncul. Jika rasa itu muncul maka yang ada dalam benak kita adalah keinginan untuk ijin dan cari-cari alasan untuk tidak terlibat dalam agenda da'wah tadi dengan melakukan pembenaran-pembenaran alasan kita.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Awalnya memang sulit untuk saya lakukan untuk bisa belajar berkorban. Tetapi lambat laun saya mulai bisa menikmati kewajiban harus berkorban itu. Dan saya mulai belajar makna berkorban itu. Yang dimaksud dengan pengorbanan adalah kita memberikan segala sesuatu yang paling berharga yang kita miliki, artinya sesuatu itu nilainya mahal bagi diri kita sehingga pada saat mau memberikan sesuatu itu ke orang lain kita menjadi berat untuk melakukannya. Karena itulah orang-orang yang bisa memberikan harta yang paling berharga yang dimiliki mendapatkan nilai yang baik sekali di mata Allah. Karena itulah Allah dalam salah satu ayat di surat Al-Imran mengatakan bahwa tanda-tanda orang muttaqien adalah memberikan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit. Bahkan ada salah satu taujih dari seorang ustads yang mengatakan bahwa suatu amalan akan mendapatkan pahala yang tinggi dihadapan Allah jika pada saat kita mau mengerjakan suatu amalan kebajikan itu lalu timbul rasa malas dan enggan untuk mengerjakan tetapi kemudian kita berusaha melawan dengan keras yang akhirnya kita mampu melaksanakan amal kebajikan itu maka ada pahala yang besar atas itu semua. Atau dengan kata lain setiap kebajikan yang kita lakukan dalam keadaan mengalami kesempitan maka pahalanya lebih baik daripada kebajikan yang kita lakukan pada saat kita lapang. Kenapa lebih baik pahalanya? karena pada saat itu kita mendapatkan dua pahala sekaligus yaitu pahala atas kebaikan yang kita lakukan, dan pahala atas pengorbanan yang kita usahakan untuk melakukan kebaikan itu. Misalkan kita mau berinfaq saat kita sedang mempunyai rezeki banyak maka itu adalah sesuatu yang wajar bahkan wajib untuk dilakukan bagi orang yang memiliki kelebihan harta, tetapi coba bandingkan nilai pahalanya jika infaq itu kita lakukan pada saat kita sedang tidak punya uang, maka ada perasaan berat untuk melakukan tetapi karena dorongan untuk mendapat ridho Allah maka kita siap berkorban untuk melakukan kebaikan tersebut. Atau bandingkan nilai infaq kita yang sama-sama Rp 1.000,-, satu kondisi kita menginfaqkan uang Rp 1.000,- karena memang uang tersebut telah rusak sehingga kita merasa malu untuk menggunakannya dengan kita menginfaqkan uang Rp 1.000,- karena betul-betul ingin mendapatkan ridho Allah, maka nilai pahala kondisi yang kedua lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Oleh karena itu wajar kemudian sholat tahajud atau qiyamul lail mendapatkan pahala yang tinggi dihadapan Allah, karena ada nilai tarbiyah at-tadhiyyah di dalamnya. Sehingga pada awal-awal Islam di Mekkah sholat tahajud menjadi wajib, dan hasilnya betul-betul bisa melahirkan sosok para sahabat dan generasi muslim yang siap berkorban untuk Allah dan Rasul-Nya. Jadi tidak layak disebut sebagai pengorbanan jika apa yang kita korbankan itu bukan sesuatu yang berharga bagi kita. Karena itulah kenapa jihad dengan mengorbankan nyawa adalah kemulian yang paling tinggi dihadapan Allah, karena kita rela dan ikhlas mengorbankan sesuatu yang paling berharga bagi setiap manusia, sehingga motivasi yang senantiasa dikorbankan dalam setiap diri seorang muslim adalah orang-orang kafir itu berperang untuk mencari kematian sedangkan seorang muslim berperang untuk mencari kehidupan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Setiap akhir pekan itulah tarbiyah at-tadhiyah diberikan kepada saya. Bagi saya bertemu dan berkumpul bersama anak dan istri merupakan suatu yang sangat mahal bagi saya. Pinginnya setiap minggu bisa pulang, tapi pada akhir pekan itulah agenda da'wah sering muncul. Sehingga tantangan bagi saya untuk menguji nilai tadhiyah dalam da'wah ini dalam diri saya dan keluarga saya. Karena itu kadangkala saya kurang respek jika ada seseorang yang ijin atau menolak untuk melakukan seruan dan agenda-agenda da'wah hanya karena sabtu atau ahad adalah hari keluarga dengan alasan perlu waktu dg keluarga, padahal menurut saya itu bukan suatu hal yang berat, karena mereka tiap hari masih bisa bertemu dan berkomunikasi dengan anak dan istrinya..? Bahkan ada yang tidak mau di ganggu pada hari Ahad karena menjdi acara keluarga. Sebenarnya alasan itu semua bisa diatasi jika ada nilai tadhiyah dalam diri kita dan kita mampu mengaplikasikan pemahaman at-tajarud dalam da'wah, yaitu totalitas dalam da'wah.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ya...at-tajarud merupakan nilai tarbiyah yang lain yang saya dapatkan selama menjalani kehidupan berpisah ini. Karena selama saya ada di Surabaya maka otomatis istri saya menjadi single parent bagi anak-anak. Yang menjadi tantangannya adalah saat istri harus menghadiri suatu agenda da'wah dan anak-anak harus ditinggal maka perlu adanya pelibatan kelurga besar untuk membantu istri dalam mengasuh anak-anak. Belum lagi ini merupakan pelajaran berharga bagi anak-anak untuk belajar berkorban untuk da'wah, memahami aktivitas da'wah orang tuanya, dan bisa menyesuaikan dengan aktivitas da'wah. Inilah makna tajarud dalam da'wah yaitu bagaimana mengoptimalkan seluruh potensi keluarga untuk mendukung aktivitas da'wah sesuai dengan peran masing-masing.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Mudah-mudahan dibalik ujian ini bisa memberikan tarbiyah bagi kami sekeluarga untuk lebih istiqomah dalam da'wah. Amin&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3107325298676153460-4955642257960244141?l=keluarganoven.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keluarganoven.blogspot.com/feeds/4955642257960244141/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3107325298676153460&amp;postID=4955642257960244141' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/4955642257960244141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/4955642257960244141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keluarganoven.blogspot.com/2008/06/antara-surabaya-lumajang-ada-nilai.html' title='ANTARA SURABAYA - LUMAJANG ADA NILAI TARBIYAH'/><author><name>NOVEN FAMILY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04975414083336455869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SPPIjZ6NUCI/AAAAAAAAAD4/uJA4w9xDuOw/S220/berempatkk.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3107325298676153460.post-5005592128810212626</id><published>2008-05-28T04:39:00.001-07:00</published><updated>2008-12-09T04:03:03.676-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><title type='text'>MAKNA MAHAR</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Mahar merupakan salah satu syarat sah sebuah akad nikah yang pada zaman modern saat ini mulai mengalami pergeseran nilai. Pemberian mahar pada saat ini hanya dianggap sebagai salah satu bagian dalam ritualitas akad nikah sehingga tujuan syari (al-maqosid syariah) dari kewajiban mahar tereduksi oleh nilai-nilai lain selain Islam. Sehingga wajar jika pemberian mahar atau bentuk mahar yang diberikan atau diminta saat ini aneh-aneh bentuk dan nilainya. Ada mahar yang berupa sejumlah uang dg nilai sesuai dengan tanggal nikah, ada juga mahar berupa kumpulan uang yang dibentuk menyerupai benda tertentu. Bahkan ada mahar dalam bentuk skripsi, ijazah kelulusan, dan lain sebagainya. Mahar yang paling sederhana dan paling umum di masyarakat kita adalah mahar seperangkat sholat dan al-qur'an yang telah menjadi tradisi turun temurun, entah darimana asalanya yang jelas mahar tanpa dua benda tersebut dirasa kurang "afdhol". Dan yang sering terjadi salah kaprah juga terjadi dikalangan para aktivis da'wah, ada sebuah kesan bahwa jika maharnya berupa hafalan satu surat atau beberapa ayat Al-Qur'an seakan-akan itu sesuatu yang hebat, sesuatu yang sangat berharga, dan seakan-akan menjadi bentuk mahar yang paling baik, padahal asumsi dan kesan tersebut sama saja menjadikan nilai dan makna mahar dari sisi Al-Maqosid syariah menjadi hilang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mari kita tengok peristiwa-peristiwa pernikahan Rasulullah dan para sahabat, utamanya bentuk maharnya seperti apa. Rasulullah pada saat menikahi Khadijah maharnya adalah puluhan unta, yaitu kurang lebih 40 unta (bisa dicek jumlah tepatnya dalam sirah) dan sejumlah emas, yang jika diuangkan dalam masa kini mahar Rasulullah saat menikahi khadijah kurang lebih 1/2 milyar. Ada juga sahabiah hindun yang akan menikah dg abu sofyan meminta mahar dg keislaman abu sofyan. Bahkan ada seorang sahabat yang menikah hanya memberi mahar bacaan Al-Qur'an karena saat itu dia tidak memiliki apa-apa. Memang bentuk dan rupa mahar tidak ada ketentuan yang jelas dalam syariat Islam, cuman Rasulullah memberikan rambu-rambu bahwa mahar itu harus sesuatu yang mempunyai nilai bagi mempelai putri walau itu berupa cincin dari besi, dan tidak memberatkan bagi pihak laki-laki. Dan pada saat ada sahabat yang ingin menikah tapi tidak mampu memberikan mahar maka Rasulullah menyuruh sahabat tadi menikah dg mahar hafalan Al-Qur'an yang dia miliki. Bahkan beberapa ulama fiqih saat ini menyatakan mahar yang diberikan itu harus sesuatu yang produktif bukan hanya bernilai saja.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tujuan pemberian mahar dalam prespektif al-maqosid syariah adalah untuk menjaga kemulian wanita. Mungkin tujuan ini sekilas tidak nyambung dengan pemberian mahar, bahkan para orientalis menyatakan mahar itu melecehkan kaum wanita karena wanita diibaratkan dengan barang dagangan. Para orientalis menganggap pemberian mahar ibarat proses barter dalam perdagangan. Itulah pikiran picik dari para orientalis. Memang manfaat mahar untuk menjaga kemulian wanita pada saat menikah tidak terasa, nuansa dan rasa yang ada hanyalah nuansa untuk membandingkan nilai mahar dengan nilai wanita. Sehingga wajar kemudian masyarakat saat ini menjadikan mahar hanya sebatas ritualitas dalam akad nikah yaitu hanya sekedar menggugurkan suatu kewajiban agar dapat terlaksananya suatu hukum, karena mereka sudah "teracuni" oleh pemikiran para orientalis tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mahar yang diterima oleh seorang istri akan menjadi harta pribadi milik sang istri, sehingga istri mempunyai hak penuh untuk mengelolanya tampa harus tunduk atau dibawah perintah suami. Suami tidak boleh menggunakan harta yang berasal dari mahar tersebut tampa se-ijin istri. Mulai dari pemahaman atas kedudukan mahar dalam masalah status harta maka akan menjadi jalan masuk kita untuk memahami bahwa mahar adalah untuk menjaga kemulian wanita. Jika mahar yang menjadi harta milik wanita maka bisa dibayangkan jika maharnya adalah harta yang produktif seperti sapi, kerbau, tanah pertanian, mobil, uang, emas dll maka harta tersebut akan dapat digunakan oleh istri untuk melakukan investasi dan usaha yang akan menjamin kebutuhannya sehingga dia tidak perlu lagi bekerja di luar, dan tidak perlu lagi untuk "mengemis" uang nafkah ke suami. Sehingga kemandiriannya sebagai wanita akan terwujud, dan kemualiannya akan terjaga karena akan banyak terhindar dari kasus KDRT yang sering terjadi akibat lemahnya kedudukan wanita dalam rumah tangga. Dan yang lebih terasa lagi manfaatnya adalah jika suaminya meninggal dan meninggalkan beberapa orang anak, maka selain harta warisan sang suami, harta dari mahar pun akan mampu menjaga kemualian seorang wanita pada saat dia berstatus janda. Dengan harta mahar yang besar dan bernilai serta produktif maka seorang janda tidak akan kebingungan untuk memikirkan nafkah dan biaya hidup untuk diri dan anak-anaknya, sehingga dia tidak perlu "mengemis" ke orang lain. Coba bayangkan jika mahar kita hanya seperangkat alat sholat dan Al-Qur'an, atau hanya hafalan hadist dan ayat Al-Qur'an, atau sejumlah uang dan benda-benda yang tidak jelas nilainya, maka mahar itu tidak bisa menjadi harta bagi istri kita yang bisa menjaga kemulian dia sebagai wanita pada saat menjadi istri atau pun saat dia menjadi janda. Itulah makna dan maksud kenapa mahar itu menjadi salah satu syarat syahnya akad nikah. Semakin besar nilai manfaat dan nominal dari mahar yang kita berikan kepada istri kita menunjukkan semakin tinggi rasa tanggung jawab kita sebagai suami untuk menjaga kemulian seorang wanita dan istri sehingga kita memang pantas untuk bisa menjadi lelaki yang qowam.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maksud lain dari mahar adalah untuk menjaga nilai-nilai dari pernikahan itu sendiri. Bayangkan jika mahar itu hanya seperangkat alat sholat dan Al-Qur'an saja, atau hanya hafalan ayat Al-Qur'an atau hadist maka manusia akan cenderung untuk melecehkan nilai sakral dari pernikahan itu sendiri. Yaitu dengan mudahnya orang akan melakukan kawin cerai karena rendahnya nilai mahar tadi. Jika nilai maharnya besar maka menunjukkan keseriusan seseorang untuk menikah dan membangun rumah tangga yang islami. Patut kita cermati bahwa mahar dalam nilai yang rendah sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa sahabat itu hanyalah "Rukhsah" yang sifatnya meringankan agar hukum menikah bisa dilaksanakan, artinya mahar dalam bentuk hafalan Qur'an dalam konteks para sahabat tersebut bersifat "emergency". Lalu kenapa sekarang masyarakat banyak mengambil sesuatu untuk menjadi mahar yang bersifat "emergency"..? Seharusnya mahar seperangkat alat sholat dan Al-Qur'an hanyalah dibolehkan untuk mereka yang miskin dan tidak mampu, tapi kenyataannya artis, pejabat, pengusaha, dll jika menikah maharnya banyak seperti itu. Inilah yang kemudian menyebabkan orang meremehkan kesakralan menikah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jadi masihkah kita berpikir bahwa mahar dalam akad nikah hanya sebuah ritualitas semata?Jika kita memang bersungguh-sungguh ingin menjadi suami yang qowam dan mampu menjaga kemulian wanita dan istri maka kita harus mengupayakan sekuat tenaga agar mahar kita mempunyai nilai dan manfaat besar bagi istri kita. Tetapi jika daya dan upaya kita terbatas maka hafalan Al-Qur'an adalah sesuatu yang bersifat emergency, dan itu adalah sejelek-jeleknya mahar.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Wallahu'alam bisshowab&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3107325298676153460-5005592128810212626?l=keluarganoven.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keluarganoven.blogspot.com/feeds/5005592128810212626/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3107325298676153460&amp;postID=5005592128810212626' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/5005592128810212626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/5005592128810212626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keluarganoven.blogspot.com/2008/05/makna-mahar.html' title='MAKNA MAHAR'/><author><name>NOVEN FAMILY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04975414083336455869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SPPIjZ6NUCI/AAAAAAAAAD4/uJA4w9xDuOw/S220/berempatkk.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3107325298676153460.post-3381914788177268741</id><published>2008-05-26T06:52:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T10:41:46.217-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><title type='text'>FILOSOFI "1" DAN "0"</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Tanpa terasa usia pernikahan kami sudah mencapai angka 5 tahun, kata orang usia pernikahan yang sudah di atas 3 tahun telah melewati masa kritis pertama dari pernikahan itu dan memasuki masa-masa kritis ke 2 sampai usia pernikahan 10 tahun, baru setelah itu proses stabilisasi pernikan. Syukur alhamdulillah selama 5 tahun ini kami bisa menjalani dengan bahagia dengan pernik-pernik kecil sebagai hiasan atas kehidupan rumah tangga kami. tetapi ada satu hal yang senantiasa saya ingat terus dan semakin hari saya semakin yakin atas hal itu yaitu filosofi "1" dan "0". Filosofi itu sangat menancap sekali dalam hidup saya, karena filosofi itu menjadi pegangan utama saya pada saat-saat saya melakukan ijthad untuk memilih seorang istri. Mungkin filosofi itu remeh bagi orang lain, tapi bagi saya filosofi itu memiliki sejuta makna, dan semakin lama saya mengarungi dunia kehidupan berkeluarga bersama istri saya semakin kuat keyakinan saya atas filosofi itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Apa filosofi "1" dan "0" itu ? filosofi ini pertama kali diberikan dan dijelaskan kepada saya oleh seseorang yang sangat berarti bagi hidup saya, karena orang itulah mindset hidup dan orientasi kehidupan saya berubah 180 derajat, dan bagi saya orang itu senantiasa memberikan inspirasi buat saya untuk tetap berkarya dan berkontribusi dalam membangun peradaban yang lebih baik. Filosofi "1" dan "0" dibangun dari salah satu hadist Rasulullah tentang bagaimana seseorang memilih seorang istri yaitu" seorang wanita dinikahi karena empat hal yaitu kecantikannya, keturunannya, hartanya, dan agamanya, maka nikahilah karena yang ke empat yaitu agamanya supaya kamu beruntung". Hadist tersebut memberikan arti bahwa hanya ada satu hal dari sekian banyak kriteria yang ada yang mempunyai nilai, kriteria lainnya tidak bernilai, apa itu? yaitu kriteria AGAMA. Jadi jika kita bermain nilai dalam matematika maka hanya satu kriteria calon istri yang bernilai 1 yaitu agamanya yang lainnya seperti cantik, kaya, bangsawan dll hanya bernilai 0. Kita pasti bisa berpikir bahwa lebih beruntung orang yang memiliki angka 1 daripada angka 0 meski jumlahnya banyak. Misal, bandingkan angka 000, dan 1, maka angka 1 menjadi cukup penting daripada angka 000. Atau angka 10 dengan 10000 maka kita pasti memilih angka 10000, lalu apa kaitannya dengan cara kita memilih istri...?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jadi filosofi "1" dan "0" memberikan arah bahwa dalam memilih istri kita harus mengutamakan mendapatkan angka 1, yaitu agamanya, sedangkan yang lain hanyalah angka nol yang akan memperberat angka 1 tadi, dan angka nol tadi bisa kita cari selama kita menjalani kehidupan berkeluarga. Jadi misalkan kita dapat istri yang cantik, kaya, dari kalangan terhormat, pinter, cerdas tapi jika agamanya jelek maka semuanya tidak bernilai karena kita hanya memperbanyak angka nol saja atau dengan kata lain kita bukan menjadi orang yang beruntung karena mengumpulkan sesuatu yang tidak bernilai. Ini menjadi penting bagi siapapun yang akan menikah, karena persoalan yang berat dalam menikah adalah memilih calon istri, karena memilih calon istri itu membutuhkan energi yang besar sebab menggabungkan rasionalitas, emosi, kejernihan hati, dan instiusi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Agama yang dimaksud dalam hadist dan filosofi tersebut bukan hanya "simbolisasi" tapi "subtantif" yaitu bagaimana mindset seorang perempuan dalam memandang dirinya sebagai makhluk Allah, memandang dirinya sebagai seorang istri, memandang dirinya sebagai seorang ibu, memandang dirinya sebagai seorang anak, memandang dirinya sebagai seorang menantu, memandang dirinya sebagai anggota masyarakat, dan memandang dirinya sebagai seorang da'i dalam prespektif Islam secara integral, artinya syariah dan nilai-nilai Islam yang akan membingkai dirinya dalam menjalankan semua peran yang melekat dari diri seorang istri. Karena nilai nilai agamalah yang akan bisa menderivasikan keunggulan-keunggulan yang lain dari seorang istri untuk meningkatkan nilainya dihadapan Allah, Rasul, suami, anak, orang tua, dan mertua serta masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Filosofi "1" dan "0" juga memberikan nilai bahwa suami mempunyai peran dan tanggung jawab besar untuk menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki seorang istri sehingga menambah nilai dan harga diri seorang istri. Jadi suami tidak boleh sekedar menuntut istri untuk bisa "begini" dan bisa "begitu" tapi juga harus mampu menciptakan nilai "0" yang banyak setelah angka "1" untuk memperberat nilai dan harga diri seorang istri. Artinya setelah memperoleh angka "1" maka tugas suami berikutnya adalah memperbanyak angka "0" yang melekat dalam angka 1 tersebut seperti kata ust Anis Matta "biarkan kuncup mekar jadi bunga". Tugas suami adalah bagaimana mengupayakan "kuncup bunga" tersebut agar bisa tumbuh dan berkembang sehinga bisa menjadi "bunga" yang sempurna, bunga yang memiliki daya tarik bagi lingkungan sekitarnya, dan bunga yang mampu memperindah pohon dari bungan itu sendiri. Sebuah pohon bunga mawar tidak akan menarik perhatian seorangpun jika tidak memiliki bunga, tapi begitu pohon itu mampu memekarkan bunga mawar yang indah barulah pohon bunga mawar itu memiliki nilai. Begitu juga nilai dari seorang suami akan sangat ditentukan oleh nilai dan harga diri dari seorang istri, sehingga benar kata sebuah istilah bahwa "wanita berada dibalik kesuksesan pria".&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kenapa saya makin yakin akan filosofi itu?Ternyata ada banyak peristiwa dalam keluarga saya dan peristiwa di sekitar kehidupan saya (eksternal). Saya masih ingat sekali ada banyak temen saya yang pada saat mencari calon istri selalu saja ada kriteria-kriteria yang "aneh" dengan alasan yang tidak jelas (syar'i). Misal ada seorang yang menetapkan calon istrinya harus seorang perawat dengan alasan supaya saat sakit ada seseorang yang bisa merawat dengan penuh kesabaran dan kasih sayang karena profesi perawat identik dengan nilai-nilai kesabaran, atau ada yang menetapkan calon istrinya adalah seorang dokter agar bisa merawat anak dan dirinya saat sakit dengan benar dan baik. Tapi apa setelah mereka menemukan apa yang mereka cari..?ternyata yang dapat istri perawat saat sakit malah istrinya tidak bisa merawat dirinya karena kesibukan kerja di RS, bahkan ada istri yang berprofesi perawat tapi saat punya anak pertama dan anaknya sakit malah bingung bagaimana merawat anak bahkan lebih telaten dari suaminya yang bukan perawat, aneh kan...? Yang punya istri dokter juga begitu, sering merasa ditinggal untuk jaga di rumah sakit padahal saat itu dia sedang sakit, lalu dimana kenikmatan yang direncanakan sebelumnya..? ada juga yang mau cari istri seorang sarjana psikologi dengan alasan agar bisa mendidik anak-anaknya kelak dengan baik, tapi ternyata saat punya anak ilmu psikologi sang istri tidak mampu mencetak anak-anak yang tangguh dan mandiri sebagaimana yang dia idamkan saat mencari calon istri dulu, dan masih banyak cerita yang lain. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dari cerita-cerita di atas saya mencoba untuk memutar ulang kenangan saya saat-saat mencari calon istri dan alasan-alasan kenapa saya memilih istri saya saat ini. Jujur saja, istri saya saat ini jauh dari kriteria saya, saya pinginnya istri saya seoarng sarjana ekonomi supaya bisa berdiskusi dengan saya, atau sarjana psikologi seperti alasan-alasan klasik temen-temen yang lain. Cuma saat saya menerima data istri saya ada pertanyaan besar dalam diri saya, yaitu apa sebenarnya yang saya cari ? ya..saya ingin mencari sesuatu yang hakiki sesuatu yang kekal sesuatu yang tak kan pernah lapuk dimakan zaman......akhirnya saya teringat dengan filosofi "1" dan "0" dan hadist Rasulullah tentang 4 sebab seorang wanita dinikahi. Akhirnya saya mencoba merenungi hadist dan filosofi tersebut, akhirnya mantap saya fokuskan untuk menilai agamanya, dan alhamdulillah sejak mulai proses "penyelidikan" sampai proses ta'aruf saya mendapatkan istri saya mempunyai nilai lebih dari sisi agamanya (semoga ini menjadi kenikmatan dan kebahagiaan yang hakiki). Saat itulah saya mantap untuk menikahi istri saya, dan saya teringat betul do'a yang saya ucapkan dari hati yang dalam dan tulus serta ikhlas setelah prosesi akad nikah, yang saya ucapkan dihadapan istri saya yaitu : " Ya Allah aku berlindung kepada-Mu atas segala keburukan-keburukan yang ada dalam dirinya dari segala fitnah, dan berkahilah kebaikan-kebaikan yang ada dalam dirinya". Inti dari do'a tersebut adalah saya memohon kepada Allah agar segala keburukan dan kekurangan yang ada dalam diri istri saya baik yang nampak dan tidak nampak tidak menjadi fitnah bagi diri saya dan istri saya, dan semoga segala kebaikan yang ada dalam diri istri saya, baik yang nampak maupun tidak nampak, menjadi sumber kebaikan bagi semuanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setelah 5 tahun menikah kini, saya mampu memiliki istri seorang dokter meskipun dia bukan dokter, karena setiap kali saya sakit atau anak-anak sakit dia pasti hafal betul segala gejala penyakit yang biasa menimpa anggota keluarganya, dia hafal betul obat apa yang mesti diminum oleh anak atau suaminya yang sakit, dia memantau terus perkembangan kesehatan anak-anak, dia sudah menjadi "dokter keluarga" bagi saya dan anak-anak. Dia juga sekarang menjadi pendidik anak-anak dan ahli psikologi perkembangan anak-anak, dia sudah paham bagaimana pola pendidikan anak setiap masa usia mereka. Dia juga mampu menjadi juru masak yang handal bagi saya dan anak-anak. Dia juga kini menjadi perencana keuangan keluarga yang handal, dan menjadi menantu yang baik dihadapan oarang tua saya. Dia juga seorang pejuang tangguh dan mandiri, mujahidah sejati bagi saya. Saya kini merasa kaya karena memiliki seorang istri yang melebihi dari kriteria yang pernah saya impikan. Ingin mendapatkan istri yang seperti apa sebenarnya sangat tergantung pada seberapa besar usaha kita untuk menjadi "kuncup itu mekar jadi bunga". &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SD0UAgIbG6I/AAAAAAAAAA0/k4SHEUJlVWc/s1600-h/Picture+007.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205338743167982498" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SD0UAgIbG6I/AAAAAAAAAA0/k4SHEUJlVWc/s200/Picture+007.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kini setelah 5 tahun menikah, filosofi "1" dan "0" bukan hanya sekedar memberikan inspirasi dan arah bagi saya saat memilih calon istri, tetapi juga memberikan inspirasi bagi saya untuk bisa menjadi suami yang qowam yang mampu menjaga kemulian serta memuliakan seorang istri. Kita tidak bisa hanya sekedar menuntut istri kita harus seperti ini atau seperti itu, tapi perlu upaya dan usaha keras dari kita untuk menjadikan istri kita menjadi apa yang kita inginkan dengan mengembangkan segala potensi kebaikan yang mereka miliki. Terima kasih Ya Allah atas segala nikmat-Mu, dan terima kasih istriku dan kekasih hatiku atas segala kebaikan yang engkau berikan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mahad Umar, akhir Mei 2008&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3107325298676153460-3381914788177268741?l=keluarganoven.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keluarganoven.blogspot.com/feeds/3381914788177268741/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3107325298676153460&amp;postID=3381914788177268741' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/3381914788177268741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/3381914788177268741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keluarganoven.blogspot.com/2008/05/filosofi-1-dan-0.html' title='FILOSOFI &quot;1&quot; DAN &quot;0&quot;'/><author><name>NOVEN FAMILY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04975414083336455869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SPPIjZ6NUCI/AAAAAAAAAD4/uJA4w9xDuOw/S220/berempatkk.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SD0UAgIbG6I/AAAAAAAAAA0/k4SHEUJlVWc/s72-c/Picture+007.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3107325298676153460.post-7801326097744036234</id><published>2008-03-12T04:35:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T04:04:15.087-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kehidupan Suami Istri'/><title type='text'>ANTARA UANG BELANJA DAN UANG NAFKAH</title><content type='html'>Awalnya saya sulit untuk membedakan makna kata membelanjai istri dan menafkahi istri, karena bagi saya kedua kata itu sama maknanya, hanya beda pilihan kata dan keluasan maknanya saja. Bagi saya, membelanjai istri dan menafkahi istri sama-sama bermakna memberikan sejumlah uang kepada istri untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga secara periodik, sedangkan yang sedikit membedakan bahwa menafkahi itu tidak harus uang tetapi bisa bersifat non materi. Artinya jika kita telah memberikan uang belanja kepada istri kita berarti kita telah memberikan nafkah lahir (materi), itu pemahaman awal saya, mungkin juga pemahaman hampir seluruh para suami.&lt;br /&gt;Tetapi, saya mulai bisa membedakan antara uang belanja dan uang nafkah saat saya melihat anggaran belanja rumah tangga seorang teman. Dari sekian item anggaran yang yang diberikan ke saya, ada satu item anggaran yang menarik bagi saya. Menarik karena hanya item itu yang satu-satunya berbeda dengan item-item dalam anggaran rumah tangga saya dan anggaran rumah tangga pada umumnya, yaitu item "nafkah istri". Apa bedanya pikir saya saat itu, ternyata menurut temen saya bahwa nafkah istri berarti suami memberikan sebagian hartanya kepada istri untuk dikelola dan digunakan untuk kepentingan pribadi istrinya, sedangkan belanja istri adalah memberikan harta (uang) untuk kebutuhan hidup suami, istri, anak-anak, dan anggota keluarga lainnya.&lt;br /&gt;Saya mencoba untuk memahami apa yang disampaikan temen saya itu. Akhirnya saya temukan kunci jawaban untuk membedakan antara uang belanja dan uang nafkah, yaitu kemulian wanita. Antara uang belanja dan uang nafkah muncul dua kewajiban berbeda yang harus dilaksanakan seorang suami. Uang belanja adalah kewajiban suami sebagai kepala keluarga untuk mencukupi kebutuhan hidup istri dan anak-anaknya dengan layak, sedangkan uang nafkah adalah kewajiban suami sebagai seorang lelaki yang qowam untuk menjaga kemualian seorang wanita yang menjadi istrinya.&lt;br /&gt;Dalam uang nafkah itu terkandung kemulian wanita dari seorang istri. Uang nafkah menjadikan istri bukan seorang "pengemis" dihadapan suaminya jika istri ingin memenuhi hajat pribadinya. Uang nafkah adalah hak yang harus diterima seorang istri, dan istri memiliki hak penuh untuk mengelola dan menggunakan untuk kepentingan pribadinya. Sehingga istri bisa memenuhi kebutuhan pribadinya dengan tetap terjaga kemulian dan kehormatannya tanpa harus "mengemis" dihadapan suami atau harus bekerja keras di luar rumah.&lt;br /&gt;Jadi menurut saya, jika suami hanya memberikan uang belanja bulanan saja maka kewajibannya sebagai suami belum lengkap bahkan cenderung tidak menghargai istrinya, karena memberi uang belanja tanpa uang nafkah seakan menjadikan istri sebagai pembantu rumah tangga kita saja. Oleh karena itu meskipun istri kita bekerja, uang belanja dan uang nafkah tetap harus kita berikan kepada istri kita walaupun sedikit, karena keduanya merupakan hak istri dan kewajiban bagi suami. Jika sekarang para suami hanya masih memberikan uang belanja saja maka harus dilengkapi kewajibannya sebagai seorang suami yang qowam dengan memberikan uang nafkah walaupun sedikit dan meskipun istri kita bekerja. Karena dalam uang nafkah itu ada kemulian seorang wanita yang menjadi istri kita, dan ada ke-qowaman kita sebagai seorang suami dan laki-laki.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3107325298676153460-7801326097744036234?l=keluarganoven.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keluarganoven.blogspot.com/feeds/7801326097744036234/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3107325298676153460&amp;postID=7801326097744036234' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/7801326097744036234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/7801326097744036234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keluarganoven.blogspot.com/2008/03/antara-uang-belanja-dan-uang-nafkah.html' title='ANTARA UANG BELANJA DAN UANG NAFKAH'/><author><name>NOVEN FAMILY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04975414083336455869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SPPIjZ6NUCI/AAAAAAAAAD4/uJA4w9xDuOw/S220/berempatkk.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3107325298676153460.post-3521494114842448605</id><published>2007-07-03T02:02:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T04:06:35.179-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernikahan'/><title type='text'>MEMILIH ISTRI DENGAN HATI</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Memilih istri bagi para ikhwan yang akan menikah merupakan pekerjaan yang paling sulit dalam kehidupannya. Bahkan ada yang mengatakan memilih istri itu ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami. Kesulitan itu makin menjadi sulit tatkala kita menetapkan berbagai kriteria istri ideal apalagi kriteria itu menjadikan diri kita, bahkan orang yang membantu mencarikan istri, pusing untuk mencari seorang akhwat yang pas dengan kriteria itu, mungkin pusingnya lebih pusing daripada orang mencari jarum dalam tumpukan jerami.&lt;br /&gt;Ada seorang ikhwan yang hanya mau menikah dengan akhwat dokter saja hanya karena satu alasan sederhana yaitu biar ada yang merawat saat sakit. Adalagi yang mau menikah hanya dengan akhwat perawat karena biar ada yang perhatian saat sakit dan lebih telaten ngurus anak-anak. Lain lagi kalo ikhwan yang bisnis oriented yang hanya mau nikah dengan akhwat lulusan ekonomi alasannya supaya ada yang bantu ngurus bisnis. Bahkan ada yang mencari calon istri dengan kriteria fisik seperti putih kulitnya, tinggi badannya, harus dari suku tertentu, dan lain-lain, hanya karena ingin memperbaiki keturunan. Kriteria-kriteria itulah yang kadangkala membelenggu diri kita yang akhirnya kita merasa sulit memilih istri.&lt;br /&gt;Begitu juga yang saya alami empat tahun silam, saat saya dalam proses mencari istri. Saya merasakan betapa membuat keputusan untuk menetapkan seseorang menjadi istri saya ternyata lebih sulit dan memerlukan waktu serta pikiran yang lebih besar dibandingkan saat saya membuat keputusan-keputusan bisnis dan organisasi. Memilih istri bagi saya saat itu seperti membuat keputusan besar yang memiliki resiko masa depan, bahkan saat itu saya menggunakan teori dan teknik pengambilan keputusan para pakar manajemen untuk memantapkan kriteria dan pilihan. Tapi ternyata tidak semudah yang saya pikirkan dan diteorikan para pakar itu.&lt;br /&gt;Akhirnya saya tersadar dengan pesan Rasulullah untuk para pemuda yang akan menikah. Rasulullah berpesan " wanita itu dinikahi karena empat hal yaitu kekayaannya, keturunannya (nasab), kecantikannya, dan agamanya, jika engkau menikahi karena agamanya maka engkau akan beruntung". Setelah itu saya mulai merenungi tentang makna kebahagiaan dan kenikmatan, karena semua orang yang akan menikah pasti menginginkan dua hal tadi, kebahagiaan dan kenikmatan. Lalu, kebahagian dan kenikmatan seperti apakah yang ingin kita raih…?Apakah yang hanya sesaat di dunia atau sesuatu yang hakiki yang bisa dinikmati sampai dikehidupan akhirat kelak..? Akhirnya kutinggalkan semua teori tentang istri ideal dan nafsu serta rasio manusiawi dalam memilih istri untuk menuju kondisi hati "zero". Saat itulah saya mulai merombak presepsi dan mainstrem saya untuk memilih istri, saya tinggalkan kriteria-kriteria duniawi seperti gelar kesarjanaan, profesi, suku, fisik, dan sebagainya, dan saya gunakan ukuran agama sebagai mainstrem kriteria calon istri, saya harus dapatkan jaminan dan keyakinan bahwa calon istri saya baik agamanya.&lt;br /&gt;Empat tahun berlalu sudah, dan saya bisa memahami pesan Rasulullah tadi. Karena agamanya lah saya nikahi istri saya saat ini, bukan karena profesi dia, bukan karena gelar kesarjananya dan juga bukan karena fisiknya. Dan saya merasa telah mendapatkan segala-galanya. Istri saya meskipun bukan dokter tapi ternyata mampu merawat saya dan anak-anak seperti dokter, dia mampu mengindentifikasi penyakit anggota keluarga dan obat apa yang pas buat keluarganya. Istri saya juga bisa bisnis kecil-kecilan meskipun dia bukan sarjana ekonomi, dan perhatiannya ke suami dan anak-anak melebihi perhatian seorang perawat meskipun dia bukan perawat. Karena agamanya lah, istriku bisa menjadi apapun yang menjadikan saya makin bersyukur kepada Allah dan makin mencintainya.&lt;br /&gt;Saudaraku, pekerjaan memilih istri akan mudah kita lakukan jika kita gunakan mata hati kita. Kriteria agamalah yang menjadikan segala kebaikan akan terhimpun dalam diri istri kita. Memilih istri dengan agama sebagai mainstrem kriteria menjadikan diri kita – insyaallah – lebih muda memilih dan akan merasa kaya dan tentram karena segala kebaikan akan terhimpun dalam diri istri kita.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3107325298676153460-3521494114842448605?l=keluarganoven.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keluarganoven.blogspot.com/feeds/3521494114842448605/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3107325298676153460&amp;postID=3521494114842448605' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/3521494114842448605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/3521494114842448605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keluarganoven.blogspot.com/2007/07/memilih-istri-dengan-hati.html' title='MEMILIH ISTRI DENGAN HATI'/><author><name>NOVEN FAMILY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04975414083336455869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SPPIjZ6NUCI/AAAAAAAAAD4/uJA4w9xDuOw/S220/berempatkk.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3107325298676153460.post-3237941680875254907</id><published>2007-07-03T00:29:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T04:08:07.542-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarbiyah Keluarga'/><title type='text'>Berbuat Baik pada Orang Lain Berarti Berbuat Baik Pada Diri Sendiri</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;"Ah...akhirnya kereta Mutiara Selatan yang kutunggu hampir satu jam tiba juga...". Ini merupakan kereta rutin yang aku naiki setiap pergi ke Bandung, sebuah kereta kelas bisnis yang lumayan nyaman untuk perjalanan jauh. Meskipun hari ini adalah hari kerja tapi penumpangnya cukup ramai, seramai saat akhir pekan, maklum musim liburan sekolah. Penumpangnya pun rata-rata para ibu-ibu dengan anak-anak mereka, apalagi Bandung merupakan kota wisata yang pas buat liburan......&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Ah lumayan, dapat bangku yang kosong...". Kursi yang aku duduki memang masih kosong, sampai kereta meninggalkan stasiun Gubeng, kursi ini masih aku duduki sendirian."Lumayan, paling tidak bisa buat tidur nyaman selama perjalanan" pikirku. Meski aku tak yakin akan kosong terus, pasti nanti di stasiun lain akan ada penunmpangnya. Meski agak gaduh oleh suara serombongan ibu-ibu dan anak-anak di bangku depan, 2 deret di depan samping kanan ku, aku berupaya untuk tidur senyaman mungkin, seharian tadi capek ngurus surat ijin penelitian, dan persiapan bahan penelitian selama seminggu di Bandung nanti. Ah...sebentar saja mataku udah ngantuk, kulihat kereta udah keluar kota Surabaya, kursi sampingku masih kosong....&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tiba-tiba aku terbangun, karena kereta berhenti, dan banyak suara para pedagang yang menawarkan makanan. "Brem, brem, asli Madiun......brem Mas...?" "Mboten bu, matur nuwun", Wuih...udah sampai Madiun, berarti cukup lama tadi aku tertidur. "Permisi mas, ini tempat duduk saya" tiba-tiba ada seorang ibu dengan anaknya menyapaku "Oh silakan Bu". Oh ini rupanya penumpang pemilik nomer kursi di sampingku, dia bersama dua orang anak, satu kira-kira umur 8 tahunan, dan satunya udah umur 12 tahun, laki-laki semua. Ibu ini duduk di sampingku sedangkan anaknya yang besar duduk di kursi sebelah kursi kami, dan yang kecil duduk bersama rombongan ibu-ibu yang berada di 2 deret depan samping kanan. Beberapa menit kemudian kereta bergerak meninggalkan stasiun Madiun.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Mas, Mas,...bisa minta bantuan nggak...?" tiba-tiba ibu disampingku tadi menepuk pundaku. "Ada apa ya Bu" jawabku sambil bertanya-tanya dalam hati tentang bantuan apa yang harus kuberikan padanya. "E....ini Mas, bisa tukar tempat duduk gak ya...?, anak saya yang kecil itu duduk di sana, saya kasian dia sendirian di sana, saya kepingin bisa kumpul sama anak-anak saya. Nomer duduk Mas bisa ditukar gak dengan nomer tempat duduk anak saya yang kecil di sana itu...?", "Wah.....gimana ya...?" batin ku. Sejurus aku melihat ke wajah anak ibu tadi yang duduk di kursi depan 2 deret dari kursiku, nampak dia merasa gelisah, kasian juga pikirku. Tapi....jika aku pindah ke sana berarti aku harus korbankan ketenanganku, sebab di kursi anak itu ada tiga orang ibu-ibu dengan 4 orang anak kecil yang ramai sekali sejak berangkat dari stasiun Gubeng tadi....gimana ya...."Eh....baiklah Bu, silakang anak ibu pindah kesini, biar saya disana" Jawabku, "Waduh terima kasih ya Mas, maaf lho mas, saya cuma kasian sama anak saya bila duduk sendirian di sana" ucap ibu tadi dengan wajah berbinar.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Akhirnya aku pindah ke kursi anak tadi, kuangkat semua tas ku ke kursi tadi. Wah benar juga dugaannya, ramainya minta ampun.....sepanjang jalan anak-anak itu main terus, bercanda, nangis, ada yang marah...."wuih....mana bisa tidur ini" pikirku. "Maaf ya mas, jika anak-anak mengganggu" tiba-tiba salah seorang ibu menyapa ku, "Ah gak papa kok Bu, namanya juga anak-anak, ini mau liburan ke Bandung Bu" jawabku dengan berupaya menyembuyikan kekesalanku. "Ya Mas, liburan ke rumah saudara di Bandung". Sepanjang perjalanan akau berupaya menikmati perjalanan dengan coba-coba tidur meski sering terbangun oleh suara anak-anak itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pukul 03.00 pagi kereta berhenti di Stasiun Kroya. Pikirku berhentinya kereta saat itu hal yang wajar, maklum kereta bisnis harus berhenti jika ada kereta eksekutif yang mau lewat. Tapi, saya mulai curiga ketika berhentinya melebihi waktu biasanya, sudah hampir 45 menit kereta berhenti yang biasanya cuma 15 menit paling lama. Wah ada apa ini, akhirnya aku turun dari kereta. Ternyata banyak juga penumpang yang turun, akhirnya aku pergi ke kantor stasiun Kroya, dan disana udah banyak penumpang yang ingin tahu kenapa kereta berhenti lama. Dari yang aku dengar tadi petugas stasiun mengatakan bahwa kemungkinan kereta akan berhenti sampai disini saja, sebab jalur kereta ke Bandung terendam banjir sehingga tidak bisa dilintasi kereta. Maka sekitar jam 05.00 pagi ada pengumuman resmi dari petugas stasiun Kroya bahwa penumpang kereta Mutiara Selatan akan dievakuasi dengan bus kota menuju stasiun Cilacap karena jalur kereta terendam air, dan akan naik kereta ke Bandung melalu jalur utara. Artinya aku harus naik kereta ke Bandung dengan memutar dulu nih.....wah.....bisa molor 12 jam.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jam 07.00 pagi, bus yang akan mengevakuasi penumpang sudah berdatangan, dan orang-orang saling berebut. "Ah...nanti aja dech, toh pasti dapat tempat duduk" pikirku. Namun, ketika aku mendengar serombongan penumpang lain bicara bahwa mereka harus cepat naik bus biar nanti bisa duduk di kereta karena nomer kursi di tiket udah gak berlaku lagi dalam kondisi seperti ini."Waduh benar juga ya kata mereka, bisa-bisa gak dapat tempat duduk nih kalau gak segera naik bus" cemasku. Akhirnya aku berupaya dapat naik bus segera. Akhirnya dapat bus juga meski merupakan rombongan terakhir.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Satu jam perjalanan dari Stasiun Kroya ke stasiun Cilacap, turun dari bus orang-orang sudah pada berebut naik kereta. Apalagi petugas mengumumkan bahwa 10 menit lagi kereta akan berangkat. Wah....benar juga, setelah kususuri gerbong yang ada semua kursi udah terisi semua. Apes deh....berdiri selama 12 jam nih....karena semua penumpang kereta "spesial" ini turun Bandung semua. Ah, akhirnya kuputuskan duduk di dekat pintu persambungan gerbong nomer dua dan satu. "Mas,Mas....sini Mas...." tiba-tiba ada panggilan ibu-ibu dan anak-anak ke arahku....Oh ternyata itu ibu-ibu rombongan temen sekursiku tadi. "Eh ya....saya cari-cari lho Mas tadi, mana Mas tadi, saya bilang ke anak saya jika lihat Mas saya minta untuk ngajak ke sini, Ayo Mas duduk di sini, udah saya sisihkan satu kursi buat Mas" ternyata ibu yang saya bantu dengan nukar kursi saya dengan anaknya juga memanggil saya. "Terima kasih banyak Bu" sahutku. Akhirnya....bisa duduk juga. Setelah itu saya kenalan dengan anak-anak dan ibu itu, sebab sejak dari Madiun kemarin belum kenalan. Selama perjalanan kami ngobrol banyak...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ternyata Ibu tadi sejak dapat tempat duduk selalu mikirin saya, karena dia teringat akan kebaikan saya mau nukar tempat dengan anaknya. Setiap kali ada orang yang mau duduk dikursi itu, Ibu tadi bilang sudah ada orangnya.....Wah...sejak peristiwa itu saya ambil hikmahnya bahwa setiap kebaikan yang kita berikan kepada orang lain akan membawa kebaikan pada diri kita. Coba jika saya gak mau diminta untuk nukar tempat duduk saya, mungkin ibu tadi gak akan peduli denganku. Sejak itulah aku senantiasa termotivasi untuk bisa memberikan bantuan kepada orang lain. Benar kata Rasulullah "Barangsiapa yang membantu meringankan urusan saudaranya, maka Allah akan meringankan urusannya"&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3107325298676153460-3237941680875254907?l=keluarganoven.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keluarganoven.blogspot.com/feeds/3237941680875254907/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3107325298676153460&amp;postID=3237941680875254907' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/3237941680875254907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/3237941680875254907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keluarganoven.blogspot.com/2007/07/berbuat-baik-pada-orang-lain-berarti.html' title='Berbuat Baik pada Orang Lain Berarti Berbuat Baik Pada Diri Sendiri'/><author><name>NOVEN FAMILY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04975414083336455869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SPPIjZ6NUCI/AAAAAAAAAD4/uJA4w9xDuOw/S220/berempatkk.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3107325298676153460.post-288956807188717412</id><published>2007-05-02T06:08:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T04:08:38.084-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kehidupan Keluarga'/><title type='text'>RASA RINDU.....</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Rindu adalah sebuah perasaan yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, karena rindu adalah bahasa hati. Apa makna rindu itu...?hanya hati kita lah yang bisa menjawab apa makna rindu itu. Yah....sejak setengah tahun ini kami hidup di dua tempat yang berbeda. Bukan karena benci tapi karena situasi dan kondisi yang mengharuskan kami hidup berpisah. Istri dan anak-anak hidup di Lumajang, sedangkan saya hidup di Surabaya. Sejak hidup terpisah itulah saya bisa memahami apa makna rindu itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rindu adalah sebuah perasaan hati yang memunculkan rasa keinginan untuk merasakan suatu manfaat atau hasrat yang kuat untuk berbagi dengan seseorang yang kita percayai dan mengharapkan kehadiran sesuatu didekat kita. Sulit memang untuk menggambarkan rasa rindu itu..Yang jelas rasa rindu itu jika sudah merasuki jiwa maka akan mengakibatkan ketidakseimbangan jiwa. Karena itulah rasa rindu bisa menyesakan dada, rasa rindu bisa menyempitkan pikiran, dan rasa rindu menjadikan sesorang menjadi gundah gulana. Tapi, jika rasa rindu itu dilepaskan dengan memenuhi hasrat rindu maka akan melejitkan potensi seseorang. Jika rasa rindu sudah terlepaskan maka akan menjadikan seseorang merasa bahagia, hatinya berbunga, pikirannya terbuka, serta spirit berkarya menuju puncak semangat......&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di saat jauh dengan istri dan anak-anak rasa rindu itu muncul. Sebab selama 3 tahun kami hidup bersama saya kurang bisa memahami rasa rindu dan memaknai pentingnya rasa rindu itu. Semenjak saya hidup terpisah inilah saya merasakan betapa berharganya rasa rindu itu. Di saat rasa rindu memuncak dalam jiwa maka seakan kita tidak bisa berpikir apa-apa dan semangat kerja dan berkarya menurun. Tapi begitu rasa rindu itu terlepaskan walau dengan sekedar telepon dan SMS maka rasa rindu akan membangkitkan kembali gairah hidup dan berkarya. Dan ternyata itu bukan saya saja yang mengalaminya. Seorang temen saya yang sedang mengambil Ph.D di Malaysia mengalami hal serupa. Saat rindu melanda maka pikiran dan kreativitas dia untuk menulis desertasinya macet, dan stagnan....maka obatnya adalah dengan ngobrol baik dengan chatting, telepon atau SMS....dan subhanallah setelah itu terbuka kreativitasnya untuk menulis desertasinya. Begitu juga dengan seorang temen kantor, saat menjelang akhir minggu semangat kerja turun sebab rasa rindu mengalahkan segalanya, begitu habis pulang mengunjungi istrinya maka hari seninnya semangat kerja memuncak, ide-ide segar selalu muncul.......yah itulah rahasia rasa rindu seperti dua sisi mata uang, dan seperti pisau bermata dua, ada efek positif dan ada efek negatif......Oleh karena itu perlu untuk mengelola rasa rindu itu....sehingga rasa rindu itu bisa berefek positif terhadap semangat kerja dan berkarya serta semakin mengharmoniskan kehidupan berkeluarga&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rasa rindu adalah bumbu bagi hidup berkeluarga, jika telah mati rasa rindu dalam anggota keluarga maka akan mengakibatkan kelurga mudah tertepa gelombang dan badai yang akan mengkaramkan perahu. Rasa rindu itulah yang menjadikan cinta diantara suami istri makin berkembang. Rasa rindu itulah yang akan semakin menjadikan diri kita sadar akan arti penting seorang istri dan anak-anak. Rasa rindu itu pulalah yang akan menjadikan istri dan anak-anak kita menjadi mutiara hati kita.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3107325298676153460-288956807188717412?l=keluarganoven.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keluarganoven.blogspot.com/feeds/288956807188717412/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3107325298676153460&amp;postID=288956807188717412' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/288956807188717412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/288956807188717412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keluarganoven.blogspot.com/2007/05/rasa-rindu.html' title='RASA RINDU.....'/><author><name>NOVEN FAMILY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04975414083336455869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SPPIjZ6NUCI/AAAAAAAAAD4/uJA4w9xDuOw/S220/berempatkk.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3107325298676153460.post-4366469111699258451</id><published>2007-04-18T07:30:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T04:09:12.815-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarbiyah Keluarga'/><title type='text'>KELUARGA ADALAH INSTITUSI DA'WAH</title><content type='html'>Keluarga adalah sebuah sistem organisasi yang memiliki fungsi-fungsi di dalamnya. Berbagai macam fungsi dalam sebuah organisasi ada dalam satu keluarga. Ayah merupakan representasi fungsi kepemimpinan, Ibu, dan anak-anak adalah fungsi orang-orang yang dipimpin. Cuma ada bedanya dg institusi organisasi, yaitu dalam sisi kepemimpinan. Kepemimpinan dalam keluarga adalah kepemimpinan kolektif antara Ayah dan Ibu. Dua orang tadilah yang akan menentukan warna dan arah serta visi besar keluarga itu. Fungsi keluarga pun akan tergantung pada apa yang ada dalam visi bersama suami-istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga dalam prespektif Islam bukan hanya sekedar lembaga resmi yang meng-halal-kan hubungan biologis suami istri dengan jalan pernikahan semata. Tapi keluarga adalah sebuah institusi yang dapat menghasilkan suatu perubahan dalam masyarakat. Secara personal anggota keluarga muslim memiliki tanggung jawab untuk menjadi da'i. Sehingga keluarga muslim mampu menjadi keluarga da'wah jika mampu memberikan teladan dalam masyarakatnya dan menghasilkan generasi rabbani yaitu generasi yang mengajarkan Al-Qur'an kepada masyarakatnya karena mereka senantiasa mempelajarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga sebagai institusi da'wah maksudnya segala perangkat dan fungsi dalam keluarga harus mampu memberikan nilai tarbiyah bagi masyarakat bagaimana mengamalkan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Keluarga merupakan negara Islam terkecil bagi kita untuk mengaplikasikan segala syariat Islam, sehingga mampu menjadi miniatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Perlu diingat pulan keluarga da'wah bukanlah keluarga yang terasing dalam masyarakatnya karena memegang teguh keyakinan, tetapi keluarga da'wah adalah keluarga yang bisa berbaur dengan masyarakatnya melalui sikap tasamukh (toleran) dan tetap konsisten dalam menjaga keyakinan aqidah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga da'wah harus senantiasa merancang bagaimana setiap anggota keluarganya bisa menjadi da'i-da'i dalam masyarakat sekalipun dia masih seorang balita. Keluarga da'wah harus menjadikan segala aktivitas dengan masyarakat menjadi sarana untuk menyampaikan ayat-ayat Allah, sarana untuk menjelaskan pokok-pokok agama Islam dengan berbagai media dan tekhnik penyampaiannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3107325298676153460-4366469111699258451?l=keluarganoven.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keluarganoven.blogspot.com/feeds/4366469111699258451/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3107325298676153460&amp;postID=4366469111699258451' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/4366469111699258451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3107325298676153460/posts/default/4366469111699258451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keluarganoven.blogspot.com/2007/04/keluarga-adalah-institusi-dawah.html' title='KELUARGA ADALAH INSTITUSI DA&apos;WAH'/><author><name>NOVEN FAMILY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04975414083336455869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3T_AzvVDTb8/SPPIjZ6NUCI/AAAAAAAAAD4/uJA4w9xDuOw/S220/berempatkk.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
